alexametrics
26.1 C
Madiun
Saturday, May 28, 2022

Oknum Wartawan Pemeras Terancam Pidana 9 Tahun

MADIUN – Suhartono, 40, oknum wartawan Metro Jatim, tersangka perkara dugaan pemerasan salah seorang kepala SDN di Kecamatan Wungu dicurigai sering beraksi di Kabupaten Madiun. Bahkan, jauh sebelum kena operasi tangkap tangan (OTT) kala menerima uang Rp 700 ribu dari kepala sekolah (kasek) akhir bulan lalu. ‘’Kemungkinan sering berkeliaran di wilayah Madiun,’’ kata Kapolsek Wungu AKP Nuryadi, Selasa (19/9).

Dugaan itu muncul, lantaran warga asal Desa/Kecamatan Kedungjajang, Lumajang, itu punya banyak jaringan dengan warga Madiun. Seperti, kenalan dijadikan saksi  perkara ini. Juga momen ketika ada orang menuntut agar tersangka dibebaskan. Mereka mengaku sebagai koordinator wilayah (korwil) Madiun dan aktivis LSM. ‘’Padahal tersangka sangat kooperatif saat disidik. Tapi, teman-temannya itu yang tidak terima,’’ ungkapnya.

Wakapolres Madiun Kompol Rentrix Riyaldi Yusuf menambahkan, berdasar pengakuan tersangka, aksinya itu baru dilakukan kali pertama. Namun, pihaknya tidak percaya begitu saja. Sebab, tidak menutup kemungkinan aksi pria berbadan gempal itu juga dilakukan di daerah lain. Pihaknya akan mendalami bersamaan proses penyidikan yang sedang berjalan. ‘’Bila ada yang merasa jadi korban silakan melapor dan tidak perlu takut,’’ pintanya.

Kemarin Polres Madiun merilis perkara itu ke awak media. Selain menghadirkan tersangka, 16 item barang bukti (BB) pun ikut dibeber. Di antaranya empat eksemplar koran Metro Jatim, dua kartu pers dan surat penugasan penempatan serta bagian tim investigasi Jatim. Ada juga tujuh lembar foto. Dokumentasi tersebut sebagai modus memeras korban. BB lainnya uang tunai Rp 700 ribu dan kuitansi bukti pembayarannya.

Baca Juga :  Polisi Belum Tetapkan Tersangka Dalam Kasus Dugaan Korupsi di Kaligunting

Rentrix mengungkapkan, kasus ini bermula ketika Suhartono mendatangi korban di sekolah 13 Agustus lalu. Tersangka menuduh korban berselingkuh sambil memperlihatkan foto-fotonya. Bersamaan dengan itu, tersangka mengancam perbuatan tersebut bakal diberitakan di korannya.

Ketika korban ketakutan, tersangka menawarkan langkahnya itu diurungkan seandainya mau membayar Rp 10 juta. Sebagai gantinya, dia akan menulis berita profil sekolah. Nominal itu diturunkan jadi Rp 5 juta karena korban tidak sanggup membayar. ‘’Korban pun menyanggupi,’’ ujarnya.

Setelah itu, Suhartono berulang kali menghubungi korban via telepon dan pesan singkat. Namun, upaya untuk memastikan pembayaran itu tidak pernah direspons. Pada 27 Agustus tersangka menemui kasek dan menyampaikan pembicaraan yang awalnya disampaikan ke korban.

Kasek pun mempertemukan korban dengan tersangka pada hari itu juga. Nah, dalam pertemuan itu kembali terjadi tawar menawar hingga dua kali. Yakni, turun menjadi Rp 3 juta dan berakhir Rp 700 ribu. ‘’Kami menerima laporan, lalu dilakukan penangkapan,’’ jelas wakapolres.

Menurut Rentrix, kerugian yang diderita korban tidak hanya sekadar duit Rp 700 ribu. Juga menyebabkan tekanan psikis, malu, gelisah, dan ketakutan. Pihaknya menjerat Suhartono pasal 368 KUHP dengan ancaman maksimal sembilan tahun. ‘’Semoga ini bisa menjadi pembelajaran untuk yang lainnya,’’ ucapnya. (cor/sat)

MADIUN – Suhartono, 40, oknum wartawan Metro Jatim, tersangka perkara dugaan pemerasan salah seorang kepala SDN di Kecamatan Wungu dicurigai sering beraksi di Kabupaten Madiun. Bahkan, jauh sebelum kena operasi tangkap tangan (OTT) kala menerima uang Rp 700 ribu dari kepala sekolah (kasek) akhir bulan lalu. ‘’Kemungkinan sering berkeliaran di wilayah Madiun,’’ kata Kapolsek Wungu AKP Nuryadi, Selasa (19/9).

Dugaan itu muncul, lantaran warga asal Desa/Kecamatan Kedungjajang, Lumajang, itu punya banyak jaringan dengan warga Madiun. Seperti, kenalan dijadikan saksi  perkara ini. Juga momen ketika ada orang menuntut agar tersangka dibebaskan. Mereka mengaku sebagai koordinator wilayah (korwil) Madiun dan aktivis LSM. ‘’Padahal tersangka sangat kooperatif saat disidik. Tapi, teman-temannya itu yang tidak terima,’’ ungkapnya.

Wakapolres Madiun Kompol Rentrix Riyaldi Yusuf menambahkan, berdasar pengakuan tersangka, aksinya itu baru dilakukan kali pertama. Namun, pihaknya tidak percaya begitu saja. Sebab, tidak menutup kemungkinan aksi pria berbadan gempal itu juga dilakukan di daerah lain. Pihaknya akan mendalami bersamaan proses penyidikan yang sedang berjalan. ‘’Bila ada yang merasa jadi korban silakan melapor dan tidak perlu takut,’’ pintanya.

Kemarin Polres Madiun merilis perkara itu ke awak media. Selain menghadirkan tersangka, 16 item barang bukti (BB) pun ikut dibeber. Di antaranya empat eksemplar koran Metro Jatim, dua kartu pers dan surat penugasan penempatan serta bagian tim investigasi Jatim. Ada juga tujuh lembar foto. Dokumentasi tersebut sebagai modus memeras korban. BB lainnya uang tunai Rp 700 ribu dan kuitansi bukti pembayarannya.

Baca Juga :  Lima Kursi Kepala Dinas di Pemkab Madiun Lowong

Rentrix mengungkapkan, kasus ini bermula ketika Suhartono mendatangi korban di sekolah 13 Agustus lalu. Tersangka menuduh korban berselingkuh sambil memperlihatkan foto-fotonya. Bersamaan dengan itu, tersangka mengancam perbuatan tersebut bakal diberitakan di korannya.

Ketika korban ketakutan, tersangka menawarkan langkahnya itu diurungkan seandainya mau membayar Rp 10 juta. Sebagai gantinya, dia akan menulis berita profil sekolah. Nominal itu diturunkan jadi Rp 5 juta karena korban tidak sanggup membayar. ‘’Korban pun menyanggupi,’’ ujarnya.

Setelah itu, Suhartono berulang kali menghubungi korban via telepon dan pesan singkat. Namun, upaya untuk memastikan pembayaran itu tidak pernah direspons. Pada 27 Agustus tersangka menemui kasek dan menyampaikan pembicaraan yang awalnya disampaikan ke korban.

Kasek pun mempertemukan korban dengan tersangka pada hari itu juga. Nah, dalam pertemuan itu kembali terjadi tawar menawar hingga dua kali. Yakni, turun menjadi Rp 3 juta dan berakhir Rp 700 ribu. ‘’Kami menerima laporan, lalu dilakukan penangkapan,’’ jelas wakapolres.

Menurut Rentrix, kerugian yang diderita korban tidak hanya sekadar duit Rp 700 ribu. Juga menyebabkan tekanan psikis, malu, gelisah, dan ketakutan. Pihaknya menjerat Suhartono pasal 368 KUHP dengan ancaman maksimal sembilan tahun. ‘’Semoga ini bisa menjadi pembelajaran untuk yang lainnya,’’ ucapnya. (cor/sat)

Most Read

Artikel Terbaru

/