alexametrics
24.1 C
Madiun
Thursday, May 26, 2022

Unesa Nonaktifkan Dosen yang Diduga Lecehkan Mahasiswinya

Jawa Pos Radar Madiun – Isu pelecehan seksual muncul di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Terdapat sejumlah korban dari berbagai fakultas yang diduga dilecehkan dosen dari Jurusan Hukum, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Unesa. Atas kasus tersebut pihak Unesa kemudian melakukan tindak lanjut. Hasilnya, dosen berinisial H yang diduga melakukan tindakan pelecehan tersebut dinonaktifkan.

Kepala Humas Unesa Vinda Maya Setianingrum memastikan, pihaknya sudah membentuk tim investigasi. Tim itu terdiri atas unsur jurusan hukum serta satuan tugas pencegahan dan penanganan kekerasan seksual. ‘’Kami berupaya menempuh langkah cepat dan terukur,’’ katanya seperti dikutip dari Jawapos, kemarin (10/1).

Vinda menyatakan, pihaknya pro terhadap korban dugaan kekerasan seksual. Pimpinan universitas telah mengadakan rapat bersama tim investigasi menyikapi kasus ini. ‘’Demi kelancaran proses investigasi dan pemeriksaan terduga pelaku, yang bersangkutan dinonaktifkan per 10 Januari 2022,’’ terangnya.

Sebelumnya, akun Instagram @dear_unesacatcallers mengunggah kronologi pelecehan seksual yang menimpa korban A. Dosen berinisial H disebut sebagai pelaku. ”Dan dari penelusuran, pelaku juga melakukan panggilan video kepada mahasiswi (korban) lain tapi masih dari jurusan yang sama. Permasalahannya, pelaku melakukan panggilan video tanpa mengenakan pakaian atas,” tulis akun itu pada Jumat (6/1).

Kemudian korban mengangkat panggilan video dari pelaku ada relasi kuasa dosen dan mahasiswa. ”Hal inilah yang sering dimanfaatkan oleh orang yang memiliki kuasa lebih atas korbannya untuk melakukan kekerasan seksual,” tulis aku itu lagi.

Baca Juga :  Tersangka Curat Akhirnya Menyerah di Warung Kopi

Kronologi pelecehan seksual yang terjadi disebut akun tersebut saat bimbingan skripsi di sebuah ruangan di lantai 2 gedung K1 (eks pascasarjana). Awal 2020, Gedung itu dipakai sebagai gedung jurusan hukum.

”Di sana hanya ada korban A sebagai korban 1 dan H. Karena memang hari sudah sore, seperti pada umumnya, mahasiswa sering menunggu waktu senggang dosen untuk bimbingan skripsinya,” papar akun Instagram @dear_unesacatcallers.

Bimbingan berjalan seperti biasa dengan diskusi dan tanya jawab. Tetapi nampaknya H memanfaatkan situasi kelas yang sepi untuk melancarkan aksinya. ”H mulai mendekat kepada korban A dan ketika jarak makin dekat, H berkata pada korban, Kamu cantik,” beber akun tersebut.

Kemudian, tidak lama setelah berkata demikian, H mencium A. Sejak kejadian itu, A selalu merasa ketakutan jika bimbingan skripsi. Padahal dia harus menyelesaikan revisi skripsi sebelum tanggal terakhir SPK atau surat penetapan kelulusan.

‘’Tidak berhenti di situ, H juga sering berusaha menelepon A melalui panggilan video WhatsApp. Dengan sekuat hati, A selalu mengabaikan panggilan tersebut,” tulis akun Instagram @dear_unesacatcallers.

Posisi korban A merasa takut dan bingung. Di satu sisi dia harus segera menyelesaikan studinya. Di sisi lain, dia takut jika harus bertemu H karena khawatir H akan berbuat lebih. Juga perasaan malu terhadap dosen dan teman-temannya atas musibah yang menimpanya. (JPG/her)

Jawa Pos Radar Madiun – Isu pelecehan seksual muncul di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Terdapat sejumlah korban dari berbagai fakultas yang diduga dilecehkan dosen dari Jurusan Hukum, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Unesa. Atas kasus tersebut pihak Unesa kemudian melakukan tindak lanjut. Hasilnya, dosen berinisial H yang diduga melakukan tindakan pelecehan tersebut dinonaktifkan.

Kepala Humas Unesa Vinda Maya Setianingrum memastikan, pihaknya sudah membentuk tim investigasi. Tim itu terdiri atas unsur jurusan hukum serta satuan tugas pencegahan dan penanganan kekerasan seksual. ‘’Kami berupaya menempuh langkah cepat dan terukur,’’ katanya seperti dikutip dari Jawapos, kemarin (10/1).

Vinda menyatakan, pihaknya pro terhadap korban dugaan kekerasan seksual. Pimpinan universitas telah mengadakan rapat bersama tim investigasi menyikapi kasus ini. ‘’Demi kelancaran proses investigasi dan pemeriksaan terduga pelaku, yang bersangkutan dinonaktifkan per 10 Januari 2022,’’ terangnya.

Sebelumnya, akun Instagram @dear_unesacatcallers mengunggah kronologi pelecehan seksual yang menimpa korban A. Dosen berinisial H disebut sebagai pelaku. ”Dan dari penelusuran, pelaku juga melakukan panggilan video kepada mahasiswi (korban) lain tapi masih dari jurusan yang sama. Permasalahannya, pelaku melakukan panggilan video tanpa mengenakan pakaian atas,” tulis akun itu pada Jumat (6/1).

Kemudian korban mengangkat panggilan video dari pelaku ada relasi kuasa dosen dan mahasiswa. ”Hal inilah yang sering dimanfaatkan oleh orang yang memiliki kuasa lebih atas korbannya untuk melakukan kekerasan seksual,” tulis aku itu lagi.

Baca Juga :  Dua Remaja di Magetan Jadi Korban Pelecehan Seksual dan Dianiaya Tetangganya

Kronologi pelecehan seksual yang terjadi disebut akun tersebut saat bimbingan skripsi di sebuah ruangan di lantai 2 gedung K1 (eks pascasarjana). Awal 2020, Gedung itu dipakai sebagai gedung jurusan hukum.

”Di sana hanya ada korban A sebagai korban 1 dan H. Karena memang hari sudah sore, seperti pada umumnya, mahasiswa sering menunggu waktu senggang dosen untuk bimbingan skripsinya,” papar akun Instagram @dear_unesacatcallers.

Bimbingan berjalan seperti biasa dengan diskusi dan tanya jawab. Tetapi nampaknya H memanfaatkan situasi kelas yang sepi untuk melancarkan aksinya. ”H mulai mendekat kepada korban A dan ketika jarak makin dekat, H berkata pada korban, Kamu cantik,” beber akun tersebut.

Kemudian, tidak lama setelah berkata demikian, H mencium A. Sejak kejadian itu, A selalu merasa ketakutan jika bimbingan skripsi. Padahal dia harus menyelesaikan revisi skripsi sebelum tanggal terakhir SPK atau surat penetapan kelulusan.

‘’Tidak berhenti di situ, H juga sering berusaha menelepon A melalui panggilan video WhatsApp. Dengan sekuat hati, A selalu mengabaikan panggilan tersebut,” tulis akun Instagram @dear_unesacatcallers.

Posisi korban A merasa takut dan bingung. Di satu sisi dia harus segera menyelesaikan studinya. Di sisi lain, dia takut jika harus bertemu H karena khawatir H akan berbuat lebih. Juga perasaan malu terhadap dosen dan teman-temannya atas musibah yang menimpanya. (JPG/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/