Jawa Pos Radar Madiun - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global.
Eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, ditambah potensi penutupan Selat Hormuz, diprediksi bisa mendorong harga minyak mentah dunia melonjak tajam hingga menembus USD 100 per barel.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pusat produksi dan distribusi energi terbesar di dunia. Setiap gangguan keamanan di wilayah tersebut hampir selalu berdampak langsung pada fluktuasi harga minyak global.
Harga Minyak Sudah Mulai Naik
Ekonom Energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menyebut kenaikan harga minyak sebenarnya sudah mulai terasa sejak serangan pertama ke Iran terjadi.
“Jadi serangan pertama ke Iran itu sudah menaikkan harganya sampai USD 67 per barel. Kemudian naik lagi menjadi USD 70 dan setelah ditutup akan mencapai USD 80-an,” ujar Fahmy saat dihubungi, Senin (2/3).
Artinya, pasar sudah merespons risiko geopolitik bahkan sebelum skenario terburuk terjadi.
Selat Hormuz, Urat Nadi Energi Dunia
Menurut Fahmy, dampak paling signifikan akan muncul jika Selat Hormuz benar-benar ditutup. Jalur ini merupakan salah satu chokepoint energi terpenting di dunia.
“Jadi dampak langsung dari peperangan itu, harga minyak dunia pasti akan terdorong untuk naik dan dalam jumlah yang cukup besar,” tegasnya.
Ia menambahkan, posisi Selat Hormuz sangat strategis karena menjadi jalur utama ekspor-impor minyak dan gas dari kawasan Teluk ke berbagai negara.
“Apalagi Selat Hormuz itu merupakan lalu lintas ekspor dan impor dari minyak dan gas maupun komoditas lainnya,” jelasnya.
Jika jalur tersebut terganggu, maka pasokan minyak global otomatis menyusut. Ketidakseimbangan antara supply dan demand inilah yang menjadi pemicu utama lonjakan harga.
Skenario Terburuk: Tembus USD 100 per Barel
Fahmy memperingatkan, harga minyak bisa melesat lebih tinggi apabila konflik meluas dan berlangsung dalam waktu lama.
“Sehingga, ini memperkecil supply tadi, maka harga akan semakin tinggi. Bahkan, kalau perang meluas, pergerakan bisa juga harga akan mencapai USD 100 per barrel,” ungkap Fahmy.
Ia menegaskan kembali bahwa penutupan Selat Hormuz dalam durasi panjang akan menjadi faktor krusial dalam mendorong harga minyak ke level tiga digit.
“Ya, kalau perang meluas, Selat Hormuz ditutup, dan dalam waktu yang lama, maka ini bisa menaikkan harga sampai USD 100 per barrel itu,” tandasnya.
Lonjakan harga minyak mentah hingga USD 100 per barel tentu akan berdampak luas, mulai dari kenaikan harga BBM, inflasi global, hingga tekanan terhadap perekonomian negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia. Dunia kini menanti apakah eskalasi konflik akan mereda atau justru memasuki babak yang lebih berbahaya. (fin)
Editor : AA Arsyadani