MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Gangguan bau tidak sedap dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Kaliabu bukan sekadar ancaman.
Bagi warga Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan, bau busuk itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Bahkan warga sempat menggeruduk TPA Kaliabu pada Februari lalu.
‘’Protes langsung ke TPA,’’ ungkap Sekdes Kaliabu Dewi Ernawati saat dijumpai di kantornya, kemarin (29/11).
Tidak hanya memprotes bau busuk, warga juga mengeluhkan aliran limbah TPA yang masuk ke sungai.
Aksi protes itu langsung mendapatkan tindak lanjut oleh pengelola TPA. Dibuktikan dengan berkurangnya bau dari TPA dan ditutupnya aliran limbah ke sungai.
‘’Sudah ada penanganan waktu itu,’’ bebernya.
Meski berkurang, bau busuk TPA tetap saja tercium warganya. Utamanya mereka yang bertempat tinggal di Dusun Sumberejo.
Sedangkan di Dusun Godang, bau tidak sedap timbul dan tenggelam. Dengan kondisi tersebut, Dewi berharap permasalahan itu bisa segera teratasi.
‘’Dengar-dengar dulu juga ada rencana pembuatan TPA baru,’’ tambahnya.
Bau tidak sedap benar-benar tercium oleh Sukardi, warga Dusun Sumberejo, Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan.
Gangguan bau memang tercium hampir setiap hari. Utamanya saat sore hari. Padahal, jarak TPA dan rumahnya hampir dua kilometer.
Sedangkan saat musim penghujan bau yang ditimbulkan lebih menyengat.
‘’Yang merasakan bau sebagian besar warga Dusun Sumberejo, Kaliabu sini dan Blimbing, Klecorejo mungkin lebih parah karena lebih dekat,’’ bebernya.
Hal senada diungkapkan warga Dusun Blimbing, Desa Klecorejo yang menolak namanya dikorankan.
Sejak tiga tahun terakhir bau busuk selalu tercium di rumahnya. Utamanya saat sore hari mendekati Magrib.
Bau itu diperkirakan muncul bersamaan proses pengolahan sampah dilakukan. Saat itu terdengar suara mesin. Entah dari mesin pengolah sampah atau backhoe.
Maklum, perumahan tempat tinggalnya berjarak tidak lebih dari 500 meter dengan TPA. ‘’Bau tidak mengenal musim,’’ tambahnya.
Menurutnya, laporan kerap disampaikan ke perangkat desa setempat. Terakhir setahun lalu. Namun pemdes tidak bisa berbuat banyak lantaran lokasi TPA bukan di desanya.
Dia dan warga lainnya semakin pasrah setelah disebut keberadaan TPA lebih dulu ketimbang perumahan tempat tinggalnya.
‘’Kalau ingin TPA ditutup juga salah, maka harapan kami hanya dimaksimalkan pengolahannya dan ada upaya sosialisasi kepada warga,’’ tuturnya. (odi/aan)
Editor : Mizan Ahsani