Jawa Pos Radar Madiun – Nasib petani tebu di Kabupaten Madiun kian terjepit.
Sejak panen raya Juli lalu, para petani mengeluhkan belum menerima pembayaran hasil panen.
Penyebabnya, gula produksi lokal belum laku terjual hingga 13 minggu.
“Sekarang ini petani tebu setengah mati karena gula tidak laku. Sudah 13 minggu ini kami tidak terima uang dari gula,” kata Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Madiun, Mujiono, kemarin (25/8).
Mujiono menyebut program dropping gula rafinasi atau gula impor menjadi biang seretnya penjualan gula lokal.
Stok berlimpah membuat gula petani tak terserap.
Upaya penyerapan melalui Danantara sesuai hasil audiensi DPR RI juga belum berjalan.
“Sudah hampir dua bulan Danantara sampai sekarang juga belum terealisasi. Kami selalu diberi janji-janji, bahkan Menteri Pertanian berjanji siap menyerap, tapi sampai saat ini kami kesulitan,” ujarnya.
Dia menilai pemerintah kurang tanggap dalam menangani masalah ini.
Jika terus dibiarkan, kerugian petani bakal semakin besar.
“Pemerintah harus berani membeli gula, seperti Bulog membeli padi. Kalau tidak, petani tebu bisa mati pelan-pelan,” tegasnya. (odi/aan)
Editor : Hengky Ristanto