Jawa Pos Radar Madiun – BPBD Kabupaten Madiun memperkuat mitigasi menghadapi potensi bencana di musim penghujan.
Pemetaan risiko dilakukan sejak September, setelah BMKG merilis informasi peralihan musim.
’’BPBD bergerak sejak September lalu setelah adanya rilis informasi peralihan musim dari BMKG,’’ ujar Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Madiun, Boby Saktia Putra Lubis.
Menurut Boby, pemetaan dilakukan hingga tingkat desa melalui dokumen kajian risiko terbaru.
Setiap desa dipetakan berdasarkan potensi banjir, longsor, hingga angin kencang.
BPBD juga menyambut baik pengukuhan Kampung Siaga Bencana (KSB) pertama di kabupaten itu.
KSB bakal disinergikan dengan desa tangguh bencana.
’’KSB ini sangat kami dukung karena nantinya berkolaborasi dengan destana,’’ ujarnya.
Terkait potensi banjir, BPBD menetapkan empat zona risiko untuk memudahkan pemantauan saat hujan berintensitas tinggi.
Zona 1: Aliran sungai dari Kecamatan Wungu hingga Kecamatan Madiun.
Zona 2: Kecamatan Gemarang–Saradan hingga Desa Sugihwaras dan Kecamatan Mejayan.
Zona 3: Lintasan Waduk Dawuhan menuju Kecamatan Wonoasri dan Desa Ngadirejo.
Zona 4: Aliran Sungai Jeroan menuju Bengawan Madiun, mulai Pilangkenceng hingga Balerejo, sisi utara jalan nasional.
’’Empat zona ini menjadi fokus utama saat curah hujan tinggi,’’ jelas Boby.
Dalam beberapa pekan terakhir, BPBD mencatat kejadian pohon tumbang dan tanah longsor di sejumlah titik.
Masyarakat diminta waspada, khususnya saat hujan deras.
’’Kami mengimbau pengendara tidak berteduh di bawah pohon dan memilih bangunan yang lebih aman,’’ tandasnya. (ryu/aan)
Editor : Hengky Ristanto