Jawa Pos Radar Madiun – Harga telur ayam ras di Kabupaten Madiun mengalami kenaikan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Di pasar tradisional, harga telur kini menyentuh Rp 30 ribu per kilogram.
Kondisi tersebut dibenarkan Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Mikro (Disperdagkop UM) Kabupaten Madiun.
Kabid Perdagangan Disperdagkop UM Kabupaten Madiun Budi Santoso mengatakan, kenaikan harga telur terjadi hampir merata di seluruh pasar tradisional.
Sementara itu, harga sejumlah komoditas pangan lain masih terpantau relatif stabil.
“Kenaikan telur ini memang sudah mulai terlihat sejak mendekati momen akhir tahun,” ujarnya.
Menurut Budi, lonjakan harga telur dipicu tingginya permintaan pasar.
Selain kebutuhan konsumsi masyarakat saat Nataru, permintaan besar juga datang dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjalankan program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Telur menjadi salah satu bahan pangan utama dalam menu MBG.
“Permintaan dari SPPG cukup besar sehingga ikut mendorong naiknya harga telur,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat pasokan telur di pasaran menjadi lebih ketat.
Meski demikian, Disperdagkop UM telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi agar harga tetap terjangkau bagi masyarakat.
Salah satunya dengan menggelar pasar murah di beberapa titik.
Upaya ini diharapkan mampu menahan laju kenaikan harga, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Meski harga telur diperkirakan masih bertahan tinggi dalam waktu dekat, Budi menilai lonjakan tidak akan semakin tajam.
Pasalnya, memasuki masa libur sekolah, kebutuhan telur untuk program MBG diprediksi menurun.
“Kami perkirakan setelah libur sekolah, permintaan dari SPPG berkurang sehingga harga bisa lebih stabil,” pungkasnya. (odi/aan)
Editor : Hengky Ristanto