Jawa Pos Radar Madiun – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Madiun menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor pusat pemerintahan (puspem) Kabupaten Madiun di Mejayan, kemarin (24/12).
Aksi tersebut merupakan buntut pembubaran acara bedah dan diskusi buku Reset Indonesia karya kolektif Tim Indonesia.
Pembubaran kegiatan literasi itu terjadi pada 20 Desember lalu di Pasar Pundensari, Desa Gunungsari, Kecamatan Madiun.
Aparat pemerintah setempat disebut membubarkan acara secara paksa, sehingga memicu kekecewaan mahasiswa.
Koordinator Aksi, Ismail Hamdan Hidayatuloh Fauzan, menegaskan mahasiswa menuntut klarifikasi terbuka dari pihak yang membubarkan kegiatan.
‘’Kami hadir di sana dan kecewa kegiatan tersebut dibubarkan,” katanya.
‘’Di kota lain tidak ada yang masalah dan justru menerima buku ini dengan baik hingga kegiatan difasilitasi langsung pemerintah setempat, kenapa di Madiun justru dilarang hingga dibubarkan Camat Madiun? Kami menuntut untuk yang bersangkutan mengklarifikasi hal itu dan memohon maaf terhadap mahasiswa dan masyarakat,” imbuh Ismail.
Mahasiswa menilai tindakan pembubaran diskusi tersebut mencederai ruang literasi dan kebebasan akademik.
Karena itu, mereka mendesak Pemkab Madiun melakukan evaluasi dan memberikan sanksi terhadap pejabat terkait.
“Karena tindak pembubaran itu sangat mengganggu kami, ke depan jika kami ingin mengadakan kegiatan literasi dan mengundang narasumber akademisi akan ada rasa takut dan tidak nyaman, takut kejadian ini akan terulang kembali, jadi kami minta tindakan tegas dari pemkab,” tandasnya.
Menanggapi tuntutan mahasiswa, Camat Madiun Muksin Harjoko hadir langsung dalam aksi tersebut.
Dia mengakui bahwa pembubaran acara bedah buku dilakukan atas kewenangannya sendiri.
Dalam kesempatan itu, Muksin menyampaikan permintaan maaf kepada mahasiswa dan masyarakat.
Namun, ia enggan memberikan penjelasan rinci terkait alasan pembubaran kegiatan diskusi buku tersebut.
“Saya akui ini kekhilafan saya, dan jujur memang saya belum pernah membaca buku tersebut dan tahu isinya apa. Saya memohon maaf atas kekhilafan saya tersebut dan biar Tuhan yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” tuturnya. (ryu/aan)
Editor : Hengky Ristanto