Jawa Pos Radar Madiun – Gempa yang berpusat di wilayah tenggara Pacitan diduga turut berdampak pada kerusakan bangunan menara di salah satu masjid di Desa Kincang Wetan, Kecamatan Jiwan.
Menara yang sebelumnya pada Kamis (5/2) pagi dilaporkan sudah mengalami kemiringan atau condong itu disebut semakin parah usai terjadi gempa, Jumat (6/2).
Kepala Desa Kincang Wetan, Ety Soekilasmini, mengatakan pihaknya baru mendapat laporan adanya kerusakan menara pada Kamis malam.
Dia langsung berkoordinasi dengan takmir masjid guna memastikan penyebab kemiringan bangunan tersebut.
“Saya dapat laporan itu baru tadi malam. Katanya dari warga menaranya doyong. Saya masih koordinasi dengan takmir untuk memastikan penyebabnya, apakah karena bencana atau faktor lain,” terangnya.
Di sisi lain, BPBD Kabupaten Madiun langsung melakukan assessment di lokasi menara miring di Kincang Wetan.
Hasilnya, menara tersebut diketahui mulai mengalami kemiringan sejak Kamis (5/2) pagi, sehingga dipastikan bukan disebabkan karena gempa.
“Kalau miringnya itu sudah ada sejak Kamis pagi, hanya memang karena ada getaran gempa, jadi dimungkinkan bisa memperparah kerusakan bangunan yang sudah doyong itu,” ungkap Plt Kalaksa BPBD Kabupaten Madiun, Boby Saktia Putra Lubis.
“Kerusakan yang jelas itu ada penurunan paving di area menara, kondisi menara miring dan lantai menara ada yang retak,” imbuhnya.
Boby menduga penyebab awal kemiringan menara di masjid tersebut kemungkinan dikarenakan adanya penurunan struktur tanah di bawahnya atau tanah labil.
Namun, pihaknya masih belum dapat memastikan secara detail dan teknis untuk saat ini.
“Namun lebih jelasnya ini saya sedang upayakan meminta bantuan pihak konsultan untuk mengkaji secara teknis penyebab kemiringan menara tersebut,” jelasnya.
Dengan kondisi menara yang cukup berbahaya, terutama jika dipicu kembali oleh gempa susulan, BPBD mengimbau warga sekitar untuk sementara tidak beraktivitas di dekat menara tersebut.
“Sudah kami imbau untuk warga tidak berada di area menara dan menara tidak difungsikan terlebih dulu,” pungkasnya. (ryu/aan)
Editor : Hengky Ristanto