Jawa Pos Radar Madiun – Ramadan menjadi momen paling dinanti di Pondok Pesantren Al Basyariyah, Desa Kenongorejo, Kecamatan Pilangkenceng.
Di tengah lantunan ayat suci selepas tarawih, pesantren bercorak salafiyah ini menghidupkan tradisi Ngaji Pasan (Ngaji Posoan) dan Ngaji Wetonan.
Dua majelis tersebut dipimpin langsung pengasuhnya, KH Mustaqim Basyari.
Menurutnya, Ramadan adalah waktu santri fokus penuh menimba ilmu dan bertatap muka langsung dengan kiai.
“Ramadan ini memang waktunya santri full mengaji dan ketemu langsung dengan kiai,” ungkapnya.
Meski menyelenggarakan pendidikan formal, Al Basyariyah tetap mempertahankan jati diri sebagai pesantren salafiyah.
Pengajaran ilmu alat seperti nahwu, sharaf, ma’ani, balaghah, hingga tajwid menjadi ciri khas.
Selama Ramadan, pengajian berlangsung sejak pukul 09.00 hingga menjelang tengah malam.
Dimulai pagi, dilanjutkan setelah Zuhur, selepas Asar, hingga usai tarawih sekitar pukul 23.00.
Kitab yang dikaji antara lain Ta’limul Muta’allim, Matan Taqrib, Fathul Mu’in, hingga Bulughul Maram.
Seluruh santri wajib mengikuti, termasuk para ustaz.
Santri Al Basyariyah datang dari berbagai daerah, mulai Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, hingga luar Jawa seperti Sumatra dan Kalimantan.
Biasanya pada 17 atau 21 Ramadan digelar khataman.
Setelah itu santri dipulangkan untuk berlebaran, dan kembali mondok 15 Syawal.
KH Mustaqim menegaskan, pesantren bukan lembaga yang ketinggalan zaman.
Justru sejak dahulu mencetak ulama dan pemimpin bangsa.
“Prinsip kami, menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik,” pungkasnya. (odi/fin)
Editor : Hengky Ristanto