alexametrics
24.8 C
Madiun
Saturday, May 21, 2022

IDI Madiun: Lawan Omicron dengan Disiplin Prokes

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Madiun – KASUS Omicron sudah terjadi di Indonesia. Tingkat penularan varian baru Covid-19 ini patut diwaspadai seiring mobilitas masyarakat yang cukup tinggi akibat pelonggaran sejumlah kegiatan. ‘’Pemerintah dan masyarakat bisa belajar dari pengalaman ledakan kasus varian Delta,’’ kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Madiun Tauhid Islamy, Senin (20/12).

Menurut dia, minimnya antisipasi varian Delta kala itu menjadikan Indonesia kelabakan. Angka penularan hingga tingkat kematian melambung tinggi. ‘’Tidak perlu cemas berlebihan. Tapi, mengabaikan prokes (protokol kesehatan, Red) yang sudah berjalan, sangat tidak bijaksana,’’ ujar dokter spesialis obstetri dan ginekologi itu.

Tauhid menjelaskan, prokes bukan sekadar memakai masker dengan baik dan benar. Namun, juga butuh upaya menekan mobilitas masyarakat. Termasuk karantina bagi orang yang pulang dari luar negeri. Pun, vaksinasi Covid-19 konsisten digencarkan hingga mencapai herd immunity. ‘’Untuk varian ini (Omicron, Red) mungkin bakal lebih dapat dikendalikan dibandingkan Delta. Karena masyarakat sudah divaksin meskipun belum seluruhnya,’’ tutur Tauhid.

Baca Juga :  Deteksi Banjir Lebih Awal, Enam EWS Dipasang Pemkab Madiun

Belum tuntasnya pandemi Covid-19 menjadikan pemerintah dan masyarakat memasuki era kebiasaan baru. Mau tidak mau harus mampu hidup berdampingan dengan virus itu. Kuncinya, tetap dan terus menjalankan prokes yang sejauh ini cukup efektif. ‘’Kami menyadari, secara psikis masyarakat lelah dengan prokes ketat. Tetapi, jangan lantas abai. Karena fatal kalau masyarakat tidak memakai masker di tempat umum,’’ ungkapnya.

Soal keganasan Omicron dibanding varian sebelumnya, Tauhid belum bisa berbicara banyak. Sebab, sejauh ini belum ada kasus tersebut, khususnya di Madiun. Seperti halnya varian Delta, baru diketahui keganasannya setelah ada kasus. ‘’Informasi sejauh ini, varian Omicron penularannya cepat. Tapi, gejalanya tergolong ringan. Kami belum bisa memastikan sebelum menangani virus itu,’’ ucapnya. (mg4/c1/sat/her)

MEJAYAN, Jawa Pos Radar Madiun – KASUS Omicron sudah terjadi di Indonesia. Tingkat penularan varian baru Covid-19 ini patut diwaspadai seiring mobilitas masyarakat yang cukup tinggi akibat pelonggaran sejumlah kegiatan. ‘’Pemerintah dan masyarakat bisa belajar dari pengalaman ledakan kasus varian Delta,’’ kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Madiun Tauhid Islamy, Senin (20/12).

Menurut dia, minimnya antisipasi varian Delta kala itu menjadikan Indonesia kelabakan. Angka penularan hingga tingkat kematian melambung tinggi. ‘’Tidak perlu cemas berlebihan. Tapi, mengabaikan prokes (protokol kesehatan, Red) yang sudah berjalan, sangat tidak bijaksana,’’ ujar dokter spesialis obstetri dan ginekologi itu.

Tauhid menjelaskan, prokes bukan sekadar memakai masker dengan baik dan benar. Namun, juga butuh upaya menekan mobilitas masyarakat. Termasuk karantina bagi orang yang pulang dari luar negeri. Pun, vaksinasi Covid-19 konsisten digencarkan hingga mencapai herd immunity. ‘’Untuk varian ini (Omicron, Red) mungkin bakal lebih dapat dikendalikan dibandingkan Delta. Karena masyarakat sudah divaksin meskipun belum seluruhnya,’’ tutur Tauhid.

Baca Juga :  Pandemi Batasi Gerak Mobil Perpus Keliling Ponorogo

Belum tuntasnya pandemi Covid-19 menjadikan pemerintah dan masyarakat memasuki era kebiasaan baru. Mau tidak mau harus mampu hidup berdampingan dengan virus itu. Kuncinya, tetap dan terus menjalankan prokes yang sejauh ini cukup efektif. ‘’Kami menyadari, secara psikis masyarakat lelah dengan prokes ketat. Tetapi, jangan lantas abai. Karena fatal kalau masyarakat tidak memakai masker di tempat umum,’’ ungkapnya.

Soal keganasan Omicron dibanding varian sebelumnya, Tauhid belum bisa berbicara banyak. Sebab, sejauh ini belum ada kasus tersebut, khususnya di Madiun. Seperti halnya varian Delta, baru diketahui keganasannya setelah ada kasus. ‘’Informasi sejauh ini, varian Omicron penularannya cepat. Tapi, gejalanya tergolong ringan. Kami belum bisa memastikan sebelum menangani virus itu,’’ ucapnya. (mg4/c1/sat/her)

Most Read

Artikel Terbaru

/