Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kota Madiun dan Sekitarnya Hadapi Musim Pancaroba, Waspada Hujan Es dan Puting Beliung

E
Ilustrasi cuaca panas terik di musim pancaroba.
Ilustrasi cuaca panas terik di musim pancaroba.

Jawa Pos Radar Madiun – Akhir pekan ini, wilayah Kota Madiun mulai memasuki masa peralihan musim penghujan ke kemarau.


Advertisement

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan pancaroba berlangsung tidak merata. Sehingga, berpotensi terjadi hujan lokal di sejumlah wilayah.

Ada sejumlah faktor penyebab kondisi itu. Di antaranya angin gradien di Jawa Timur (Jatim) yang dominan dari arah tenggara dengan pola steady. Kemudian, suhu muka laut di sekitar perairan Jatim yang tidak signifikan.

Serta, analisis udara yang menunjukkan atmosfer ringan, tidak stabil, dengan konvektivitas lemah.

Advertisement

Pun, kelembapan udara di lapisan bawah dan tengah cenderung kering, sementara di lapisan atas masih lembap.

Berdasarkan dinamika atmosfer dan faktor kondisi lokal, BMKG memperkirakan masih ada potensi hujan ringan hingga sedang disertai petir, kilat, dan angin kencang sesaat di sebagian wilayah Jatim selama periode 26–28 April.

"Musim seperti ini perlu diwaspadai karena hujannya bersifat lokal, berdurasi singkat. Biasanya disertai angin kencang, puting beliung, dan hujan es," kata Setiyaris, Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya Stasiun Geofisika Nganjuk, Minggu (27/4).

Advertisement

Selain itu, peralihan musim ditandai dengan meningkatnya penguapan di lingkungan sekitar. Udara terasa panas, gerah, dan membuat tubuh mudah berkeringat.

Kalau kemarau, panas terasa lebih kering karena kandungan uap air di udara rendah.

"Pada musim kemarau, suhu memang tinggi, tapi udaranya kering. Sementara saat musim hujan, suhu tinggi disertai kelembapan tinggi, sehingga terasa lebih gerah," jelas Setiyaris.

Saat ini, lanjutnya, pola angin di wilayah Jatim masih variabel. Itu dipengaruhi dua massa udara dari Australia dan Asia yang sama-sama dominan.

Oleh sebab itu, wilayah Madiun masih berada dalam fase pancaroba.

''Kalau sudah memasuki puncak musim kemarau, kelembapan bisa turun di bawah 70 persen. Bahkan, saat siang hari, suhu terasa sangat panas dengan kelembapan sekitar 40 persen," ungkapnya. (err/den)

Advertisement

Artikel Terkait

Ramalan Cuaca Hari Ini: Hujan Ringan di Sebagian Wilayah Indonesia

Ramalan Cuaca Hari Ini: Hujan Ringan di Sebagian Wilayah Indonesia

BMKG memprediksi sebagian wilayah Indonesia terjadi hujan ringan hari ini. Potensi hujan ringan ditemukan di Medan, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Padang, Jambi, Bengkulu, dan Pangkal Pinang.

Suhu Magetan Tembus 37 Derajat Celsius, Puncak Cuaca Terik Diprediksi 11–14 Oktober

Suhu Magetan Tembus 37 Derajat Celsius, Puncak Cuaca Terik Diprediksi 11–14 Oktober

Suhu di kawasan Lanud Iswahjudi mencapai 37 derajat Celsius. BMKG memprediksi kulminasi utama di Jatim terjadi 11–14 Oktober 2026.

BMKG Peringatkan Angin Kencang di Madiun, Risiko Karhutla Ikut Meningkat

BMKG Peringatkan Angin Kencang di Madiun, Risiko Karhutla Ikut Meningkat

BMKG Nganjuk memperingatkan potensi hujan lokal dan angin kencang di Madiun pada musim kemarau.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer