Jawa Pos Radar Madiun - Semewah dan semahal apa pun sebuah mobil, saat dijual kembali pasti mengalami penurunan nilai alias depresiasi.
Uniknya, mobil sultan seperti Mercedes-Benz S-Class bisa anjlok nilainya hingga ratusan juta rupiah per tahun.
Sebaliknya, mobil sejuta umat seperti Toyota Avanza jauh lebih stabil nilai jualnya.
Mobil Mewah Bisa Terjun Bebas
Contohnya, Mercedes-Benz S400 L Exclusive tahun 2015 yang saat baru harganya mencapai Rp 2,3 miliar, kini di akhir 2024 hanya laku sekitar Rp 720 juta.
Artinya, mobil ini hanya mempertahankan 31 persen dari harga awalnya. Rata-rata depresiasinya mencapai Rp 177 juta per tahun.
Baca Juga: Lisa BLACKPINK Gabung Reality Show Musik Netflix, Bareng Penulis Lagu Ariana Grande & Dua Lipa
Avanza Lebih Bertahan
Sementara itu, Toyota Avanza 1.3 E A/T tahun 2015 yang saat baru dibanderol Rp 192 juta, kini masih bernilai Rp 122 juta.
Artinya, mobil ini mempertahankan 61 persen nilainya dan hanya mengalami depresiasi sekitar Rp 7,8 juta per tahun.
Cukup tangguh untuk mobil keluarga yang selalu jadi pilihan masyarakat.
Rumus Depresiasi yang Perlu Diketahui
Untuk menghitung nilai depresiasi mobil, ada dua rumus sederhana yang bisa digunakan:
Depresiasi Tahunan (%)
(Harga Beli – Harga Saat Ini) ÷ Harga Beli × 100
Contoh:
Mobil dibeli Rp 300 juta, dijual Rp 200 juta setelah 3 tahun.
Maka depresiasi tahunan:
(300 - 200) ÷ 300 × 100 = 33,3%
Depresiasi dalam Rupiah
Depresiasi = Harga Beli – Harga Jual
Lalu dibagi dengan jumlah tahun pemakaian.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Depresiasi Mobil
Usia kendaraan. Tahun pertama hingga ketiga, depresiasi paling tajam. Jarak tempuh juga mempengaruhi. Makin tinggi, makin turun harga jualnya.
Merek dan model mobil seperti Toyota, Honda, Suzuki Jimny lebih dikenal tahan harga dibandingkan lainnya.
Kondisi fisik dan mesin dan permintaan pasar tak dapat ditepikan dari faktor penurunan harga. Pun dengan warna mobil. Warna netral seperti putih, hitam, dan merah lebih diminati.
Beberapa faktor lain seperti riwayat kecelakaan hingga kondisi ekonomi juga jadi penyebab. (rio/naz)
Editor : Mizan Ahsani