Sulis biasa nyetok beras ke Bulog. Sedangkan gabah diperoleh dari Tawangrejo. Akhir-akhir ini dia mulai kesulitan mendapatkan gabah. Selain itu kualitasnya tidak menentu. Pun, lahan pertanian semakin berkurang. ‘’Terlebih pada musim hujan. Pengeringan manual butuh tiga empat hari. Kalau cuaca cerah, cukup sehari,’’ ujarnya.
Menurut dia, saat ini harga beras di tingkat penggilingan mencapai Rp 11 ribu per kilogram. Padahal, biasanya Rp 9.000. ‘’Harga mulai naik sejak dua minggu yang lalu. Sama seperti kenaikan harga beras di pasaran,’’ ungkapnya sembari menyebut saat ini hanya dapat menghasilkan 10 ton beras sebulan.
Sementara itu, ongkos penggilingan padi juga naik. Saat ini, per sak gabah ongkosnya berkisar Rp 7.000. Sedangkan sebelumnya, hanya Rp 6.000 ribu. Dia pun terpaksa menaikkan harga beras lantaran enggan menanggung kerugian. Pun mengurangi jumlah pekerjanya.
Terpisah, Subkoordinator Ketersediaan dan Pengelolaan Kemandirian Pangan DKPP Kota Madiun Victorianus, menyebutkan bahwa kenaikan ongkos penggilingan padi masih wajar. Tiga penggilingan padi di Kota Madiun mematok harga sama, yakni Rp 7.000. ‘’Kami lakukan pemantauan agar biaya penggilingan padi stabil,’’ jelasnya. (mg4/sat) Editor : Hengky Ristanto