Identitas Kota Madiun tersebut coba diimplementasikan dalam kurikulum pembelajaran di sekolah-sekolah. ‘’Kami berupaya membawa pencak silat terus eksis serta membawa manfaat positif ke depannya,’’ kata Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Madiun Lismawati kemarin (8/2).
Menurut dia, butuh peran dan pemikiran banyak pihak untuk mengemas pencak silat menjadi lebih bernilai jual atau menarik perhatian masyarakat luas. Untuk itu, berbagai pihak harus punya andil dalam membangun pencak silat.
Pun, bersama-sama menghapus stigma perselisihan antarperguruan. Termasuk di lingkungan sekolah. Sebagai upaya pelestarian budaya atau kearifan lokal, sekolah jenjang SD-SMP wajib memasukkan pencak silat dalam program ekstrakulikuler. ‘’Implementasinya sudah dimulai sejak 2022 lalu,’’ ujarnya.
Lismawati menambahkan, upaya mewadahi kreativitas anak muda dalam pencak silat atau bela diri penting dilakukan. Juga untuk membentuk atlet pencak silat profesional. Baik kategori seni maupun laga. Sebab, jika mereka berprestasi bakal membawa nama pencak silat dan Kota Madiun harum di tingkat nasional maupun internasional.
‘’Materi kami susun dari semua perguruan pencak silat di Kota Madiun. Ini juga sebagai pembiasaan atau pengenalan kepada anak-anak tentang keharmonisan serta saling menghargai dan menghormati antarperguruan pencaj silat,’’ imbuhnya.
Sehingga, lanjut dia, pemahaman ihwal kerukunan yang ditanamkan pada anak-anak usia sekolah bakal berdampak positif hingga dewasa kelak. ‘’Banyaknya perguruan pencak silat bukan pemicu konflik atau perselisihan. Melainkan membuat Kota Pendekar memiliki potensi yang luar biasa,’’ jelasnya. (ggi/sat) Editor : Hengky Ristanto