Jawa Pos Radar Madiun – Persoalan air bersih yang kerap muncul setiap musim kemarau coba dimitigasi Pemkot Madiun.
Salah satu langkahnya yakni dengan mengoptimalkan sumur artesis di wilayah rawan kekeringan.
Berbeda dengan sumur sibel yang memerlukan pompa listrik, sumur artesis memanfaatkan tekanan alami dari lapisan akuifer di bawah tanah.
Air dapat keluar tanpa bantuan mesin.
’’Kalau semua sudah jalan, petani bisa luar biasa terbantu,’’ ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Madiun, Totok Sugiarto, Kamis (30/10).
Totok menyebut saat ini pihaknya tengah memetakan titik-titik potensial pengeboran sumur artesis.
Harapannya, keberadaan sumur tersebut dapat menghemat energi sekaligus membantu petani menghadapi musim kemarau.
’’Pengendalian air menjadi prioritas selain mengejar Indeks Pertanaman (IP3),’’ jelasnya.
Setiap tahun, DKPP juga menambah sumur sibel kecil sesuai kebutuhan warga dan kemampuan anggaran.
’’Rata-rata kami bantu tiga sampai empat unit per tahun. Saat ini total ada 1.070 sumur, baik bantuan pemerintah maupun swadaya masyarakat,’’ ungkapnya.
Namun, keterbatasan anggaran tahun depan membuat pembangunan baru akan disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Fokus diarahkan pada wilayah berkontur sulit seperti Tawangrejo, Pilangbango, Kelun, Sogaten, dan sekitar Ring Road, yang dikenal rawan kekeringan.
’’Masalah utama bukan pada jumlah sumur, tetapi kontur lahan. Karena itu, penanganan air harus disesuaikan kondisi di lapangan,’’ pungkas Totok. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto