Jawa Pos Radar Madiun – Persoalan kesehatan calon jemaah haji (CJH) Kota Madiun menjadi perhatian serius.
Kemarin (11/2), Dinkes PPKB kembali memantau sekaligus koordinasi istitaah dan pembinaan kesehatan jemaah jelang keberangkatan ke Tanah Suci.
Plh Kepala Dinkes PPKB Kota Madiun dr Muhammad Nur mengatakan, pembinaan dilakukan agar jemaah mampu mempertahankan kondisi istitaah sejak sekarang hingga pelaksanaan ibadah haji.
“Yang sehat tetap sehat. Yang mungkin sakit bisa terkontrol sakitnya. Sehingga semua rukun dan wajib haji bisa dikerjakan dengan sangat baik, tepat waktu, aman, dan mendapatkan predikat haji yang mabrur,” ujarnya, Kamis (12/2).
Dia menjelaskan, pemeriksaan kesehatan sebelumnya sudah menghasilkan status istitaah.
Sementara jemaah yang belum memenuhi syarat masih diberi kesempatan menjalani pengobatan, perawatan, serta konsultasi dokter agar penyakitnya terkontrol.
Setelah itu, dinkes juga akan menggelar rapat koordinasi bersama CJH dan petugas haji daerah.
Selain itu, vaksin meningitis dan polio dijadwalkan pada 30 Maret hingga 1 April di enam puskesmas.
Yakni Puskesmas Banjarejo, Demangan, Sukosari, Tawangrejo, Manguharjo, dan Ngegong.
Vaksin tersebut menjadi tahapan wajib sekaligus persyaratan dari Arab Saudi.
Tujuannya melindungi daya tahan tubuh jemaah dari bakteri maupun kuman penyebab penyakit.
“Ini salah satu bentuk perhatian pemerintah mempersiapkan jemaah supaya tidak mudah terkena penyakit-penyakit yang bisa timbul keluhan di sana,” tambah Nur.
Sementara itu, Subkoordinator Pengelolaan Pelayanan Penyakit Menular dan Tidak Menular Dinkes PPKB Kota Madiun Tri Wahyuning Novitasari mengatakan, dari total 231 CJH yang diperiksa, tiga orang dinyatakan tidak istitaah.
Sehingga tidak diberangkatkan tahun ini.
“Karena penyakit gagal ginjal, demensia, dan jantung,” katanya.
Vita menambahkan, tiga jemaah tersebut sudah menerima keputusan dan memilih menunda keberangkatan.
Mereka berpeluang kembali mengikuti pemeriksaan kesehatan ulang pada tahun depan.
“Ditunda sampai tahun depan. Kalau bisa tahun depan memulihkan kesehatannya, nanti bisa dilakukan pemeriksaan kesehatan ulang,” imbuhnya.
Diketahui, usia CJH didominasi lansia di atas 50 tahun. CJH tertua bernama Sami Al Sami Joni (79) dan termuda Abdullah Gazi Faizulhaq (16).
Rata-rata masa tunggu haji mencapai 20 hingga 30 tahun.
Sementara riwayat penyakit yang paling banyak ditemukan adalah hipertensi dan diabetes.
Untuk petugas haji daerah (PHD), Kota Madiun menyiapkan dua orang.
Terdiri dari ketua kloter dan tenaga kesehatan.
Sedangkan calon Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) yang lolos tes ada empat orang.
Namun, Vita menyebut pihaknya masih menunggu penetapan resmi siapa yang akan bertugas di kloter Kota Madiun.
“Daftar nama-namanya yang bertugas sampai saat ini belum keluar,” pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto