Jawa Pos Radar Madiun — Di tengah suasana bulan suci Ramadan, semangat para seniman di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Magetan justru semakin menyala.
Latihan digelar di Gedung Kesenian Tripandita yang berada di sebelah selatan Alun-Alun Kabupaten Magetan atau sebelah timur Pendapa Surya Graha Kabupaten Magetan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan menuju sejumlah agenda besar yang akan digelar di Jakarta pada April mendatang.
Dua panggung bergengsi telah menanti, yakni di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) serta dalam rangkaian acara Pawitandirogo.
Momentum ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Magetan karena dipercaya tampil di ruang-ruang budaya tingkat nasional.
Ramadan Bukan Penghalang Berkarya
Pelatihan selama Ramadan ini bukan sekadar rutinitas.
Tujuannya meningkatkan kualitas dan keterampilan para pelaku seni, mulai dari tari, karawitan, pedalangan, hingga unsur seni tradisi lainnya.
Menurut Putut Puji Agusseno, koordinator karawitan sekaligus pegawai dinas kebudayaan, latihan ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi antar-seniman.
“Kebersamaan akan memperkuat sebuah tampilan seni karena saling mengisi dan mendukung pentas sebuah seni. Keberagaman menjadi semakin indah, bukan saling menjatuhkan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kekuatan seni bukan hanya pada teknik, tetapi juga pada harmoni dan kekompakan.
Magetan Tak Hanya Tampil, Tapi Bersaing
Selama ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Magetan dikenal aktif mengisi berbagai acara besar, baik di tingkat regional maupun nasional.
Mereka kerap tampil di Kabupaten Madiun, Surabaya, hingga Jakarta.
Kepercayaan tersebut menjadi bukti bahwa seniman Magetan tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mampu bersaing dan menunjukkan eksistensi di panggung yang lebih luas.
Konsistensi ini membuktikan bahwa pelestarian budaya bukan sekadar slogan, melainkan kerja nyata yang dilakukan dengan disiplin dan komitmen.
Seni sebagai Perekat dan Identitas
Latihan di bulan Ramadan juga mengandung makna spiritual. Selain memperkuat kualitas pertunjukan, kegiatan ini mempererat kebersamaan dan memperkuat identitas budaya daerah.
Seni tradisi seperti karawitan dan pedalangan bukan hanya hiburan, tetapi juga warisan nilai, filosofi, dan sejarah.
Ketika seniman terus berlatih dan tampil di panggung nasional, mereka membawa nama daerah sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Magetan kepada khalayak luas.
Dengan persiapan matang dan semangat kebersamaan, para seniman Magetan optimistis dapat memberikan penampilan terbaik di Jakarta nanti.
Lebih dari sekadar pertunjukan, ini adalah representasi jati diri daerah.
Magetan menunjukkan bahwa budaya akan tetap hidup selama ada orang-orang yang merawatnya dengan cinta, kerja keras, dan solidaritas.
Di bulan penuh berkah ini, para seniman membuktikan puasa bukan alasan untuk berhenti berkarya. Sebaliknya, justru menjadi energi untuk tampil lebih bermakna. (naz)
Editor : Mizan Ahsani