MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Sejumlah warga Desa Sewulan, Dagangan, melaksanakan jamasan pusaka di Pendapa Perdikan Sewulan kemarin (2/8). Tak sekadar membersihkan, ritual ini juga sarat makna. ‘’Jamasan mengandung filosofi tinggi, yaitu menjamasi lahir dan batin,’’ kata Muhammad Baidowi, pegiat budaya setempat.
Berbagai macam pusaka di Sewulan dibersihkan. Seperti tombak, keris, dan payung songsong. Tak cuma itu, masih ada pusaka lain yang jumlahnya lebih dari 10. ‘’Seperti keris, warangkanya ibarat jasad manusia dan curiga-nya itu roh. Semuanya disucikan. Melambangkan lahir dan batin manusia, kembali suci seperti bayi di bulan Sura,’’ ujarnya.
Baidowi mengungkapkan, sejumlah pusaka itu merupakan peninggalan pendiri Perdikan Sewulan. Tak terkecuali, Ki Ageng Basariyah. Dia menambahkan, jamasan sudah dilakukan sejak dulu. Mulai zaman Mataram Kuno sampai Mataram Islam. Pun, dilanjutkan sampai sekarang. ‘’Tujuannya untuk melestarikan tradisi-budaya,’’ tutur Baidowi.
Jamasan di Sewulan dilaksanakan setiap Sura (kalender Jawa) atau Muharam (kalender Islam). Pun tidak pada sembarang hari, melainkan hanya bisa dilakukan pada Selasa Kliwon. Jika sepanjang Sura tidak ada Selasa Kliwon, maka diganti Jumat Legi. ‘’Yang dijamasi di sini khusus pusaka ndalem,’’ sebutnya.
Jamasan menggunakan berbagai media. Mulai jeruk nipis, mengkudu, hingga air. Juga kembang setaman dan air kelapa hijau muda alias degan. ‘’Kerak-kerak dibersihkan, dijamasi, lalu diwarangi (pemberian racun arsenik, Red), dikeringkan, kemudian disimpan lagi,’’ jelasnya. (den/c1/sat)
Editor : Hengky Ristanto