
Jawa Pos Radar Madiun - Dominasi industri musik arus utama global tidak lantas meredam denyut nadi kreativitas kelompok pemusik yang bergerak di jalur independen.
Dari sudut-sudut kota yang luput dari sorotan media besar, sebuah pergerakan kultural tetap tumbuh subur dengan menyuarakan pesan-pesan ekspresif yang lugas dan penuh kebebasan.
Di balik gemuruh global industri K-pop yang mendominasi pasar Korea Selatan, geliat skena bawah tanah justru terus berdenyut liar dan tidak kalah berpengaruh.
Dari lorong-lorong kecil hingga panggung independen, energi musik keras tetap menemukan jalannya, di mana band Slant hadir sebagai salah satu wajah paling mencolok.
Terbentuk di Seoul pada tahun 2018, Slant dengan cepat mencuri perhatian, bukan hanya di lingkup lokal, tetapi juga hingga ke jaringan hardcore punk internasional.
Diisi oleh para musisi yang telah lebih dulu aktif di band underground seperti Scumraid, mereka membawa fondasi kuat yang kemudian diramu menjadi identitas musikal yang tajam.
Mengambil inspirasi dari aliran hardcore punk klasik era 1980-an, Slant konsisten menyajikan komposisi musik yang cepat, padat, dan penuh daya ledak.
Kombinasi riff gitar yang agresif berpadu dengan gebukan ritmis yang konstan, sementara karakter vokal dari Yeji tampil kasar, lantang, dan penuh amarah sebagai pusat energi utama.
Menggema lewat Label Seattle dan Menjaga Tradisi Kolektif Punk
Langkah kolaborasi bersama label luar negeri menjadi jembatan penting dalam memperluas jangkauan distribusi karya ke berbagai benua.
Nama Slant mulai menggema sejak perilisan demo awal mereka, disusul oleh sebuah mini album (EP) pada tahun 2019 yang dirilis oleh label independen asal Seattle, Iron Lung Records.



