27.2 C
Madiun
Friday, December 9, 2022

Banyak Luka Lebam di Dada, Santri Asal Ngawi Diduga Tewas Dipukuli Senior

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Di depan sebuah batu nisan tempat pemakaman umum (TPU) Desa Katikan, Kecamatan/Kabupaten Ngawi, perempuan 38 tahun ini menitihkan air mata. Jumasri menangisi kepergian Daffa Washif Waluyo, putra semata wayangnya, untuk selama-lamanya. 

Penyebab kematian remaja 14 tahun itu diduga akibat dianiaya seniornya di Pondok Pesantren (Ponpes) Ta’mirul Islam Surakarta Cabang Sragen.

Satreskrim Polres Sragen telah menetapkan satu tersangka. Yakni, santri ponpes yang beralamat di Desa Krikilan, Masaran, Sragen, Jawa Tengah, tersebut. ‘’Kami minta diusut tuntas,’’ kata Dwi Minto Waluyo, 43, ayah korban, Rabu (23/11).

Dwi dan istrinya mendengar kabar kematian anaknya Minggu (20/11) pagi. Perwakilan Ponpes Ta’mirul Islam Surakarta Cabang Sragen mendatangi rumah dan menyampaikan Daffa telah meninggal.

Alih-alih menyampaikan penyebab kematian, pihak ponpes malah menanyakan riwayat penyakit korban. ‘’Kami langsung berangkat ke Sragen untuk membawa pulang jenazah,’’ ujarnya. 

Dwi menyadari kematian Daffa tidak wajar setelah mendapati sejumlah kejanggalan. Selain tiadanya informasi penyebab kematian, jenazah anaknya juga telah dimandikan. Ketika kain kafannya dibuka, dadanya penuh luka lebam kehitaman. Pihaknya meminta proses otopsi demi mengetahui penyebab kematiannya. ‘’Kami masih menunggu hasil otopsi dari RSUD Sragen,’’ ucapnya. 

Kecurigaan semakin meningkat setelah Dwi mendengar keterangan dari sejumlah santri teman anaknya. Pengakuan mereka, Daffa sempat dipukuli kakak tingkatnya lantaran tidak piket Sabtu (19/11) malam. Santri yang menyaksikan kejadian itu dilarang menolong. Keesokan paginya, Daffa meninggal dunia. ‘’Teman-temannya melihat dipukul sampai terkapar,’’ ungkap Dwi.

Baca Juga :  Tradisi Ziarah Kaum Santri Tremas di Bulan Suci, Wujud Hormat dan Cinta Ulama

Dwi mengungkapkan, anaknya menimba ilmu di Ponpes Ta’mirul Islam Surakarta Cabang Sragen sejak tiga tahun lalu. Dua hari sebelum dikabari meninggal, keluarganya sempat menjenguk Daffa. Suasana hatinya saat itu cukup ceria. Bahkan, makanan yang dibawa dari Ngawi dibagikan ke teman-temannya. ‘’Anaknya ceria, supel, dan baik,’’ ujarnya. 

Ahmad Halim, pengasuh Ponpes Ta’mirul Islam Surakarta Cabang Sragen, membenarkan adanya kejadian penganiayaan kepada Daffa. Pihaknya berkomitmen menyerahkan sepenuhnya penanganan kepada pihak kepolisian.

Kasus itu menjadi catatan dan pembelajaran bagi seluruh pengasuh dan pengajar. ‘’Pelaku kekerasan akan dikeluarkan dan dikembalikan ke orang tuanya,’’ ucapnya melalui sebuah surat.

Terpisah, Kasi Humas Polres Sragen Iptu Ari Pujiantoro mengatakan, satu tersangka penganiayaan masih di bawah umur. Pihaknya tidak menahan dan memberlakukan wajib lapor. Namun, proses hukum tetap berjalan dengan sangkaan pasal 80 Undang-Undang (UU) tentang Perlindungan Anak.

Ancaman hukumannya maksimal 10 tahun penjara. ”Kami masih mendalami pengakuan tersangka korban tidak melaksanakan piket kamar,’’ ujarnya sembari menyebut 11 saksi telah diperiksa yang meliputi ustad, santri, dan orang tua korban. (sae/cor)

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Di depan sebuah batu nisan tempat pemakaman umum (TPU) Desa Katikan, Kecamatan/Kabupaten Ngawi, perempuan 38 tahun ini menitihkan air mata. Jumasri menangisi kepergian Daffa Washif Waluyo, putra semata wayangnya, untuk selama-lamanya. 

Penyebab kematian remaja 14 tahun itu diduga akibat dianiaya seniornya di Pondok Pesantren (Ponpes) Ta’mirul Islam Surakarta Cabang Sragen.

Satreskrim Polres Sragen telah menetapkan satu tersangka. Yakni, santri ponpes yang beralamat di Desa Krikilan, Masaran, Sragen, Jawa Tengah, tersebut. ‘’Kami minta diusut tuntas,’’ kata Dwi Minto Waluyo, 43, ayah korban, Rabu (23/11).

Dwi dan istrinya mendengar kabar kematian anaknya Minggu (20/11) pagi. Perwakilan Ponpes Ta’mirul Islam Surakarta Cabang Sragen mendatangi rumah dan menyampaikan Daffa telah meninggal.

Alih-alih menyampaikan penyebab kematian, pihak ponpes malah menanyakan riwayat penyakit korban. ‘’Kami langsung berangkat ke Sragen untuk membawa pulang jenazah,’’ ujarnya. 

Dwi menyadari kematian Daffa tidak wajar setelah mendapati sejumlah kejanggalan. Selain tiadanya informasi penyebab kematian, jenazah anaknya juga telah dimandikan. Ketika kain kafannya dibuka, dadanya penuh luka lebam kehitaman. Pihaknya meminta proses otopsi demi mengetahui penyebab kematiannya. ‘’Kami masih menunggu hasil otopsi dari RSUD Sragen,’’ ucapnya. 

Kecurigaan semakin meningkat setelah Dwi mendengar keterangan dari sejumlah santri teman anaknya. Pengakuan mereka, Daffa sempat dipukuli kakak tingkatnya lantaran tidak piket Sabtu (19/11) malam. Santri yang menyaksikan kejadian itu dilarang menolong. Keesokan paginya, Daffa meninggal dunia. ‘’Teman-temannya melihat dipukul sampai terkapar,’’ ungkap Dwi.

Baca Juga :  Ekonomi dan Budaya Positif, Airlangga Sebut Indonesia Kian Diperhitungkan Dunia

Dwi mengungkapkan, anaknya menimba ilmu di Ponpes Ta’mirul Islam Surakarta Cabang Sragen sejak tiga tahun lalu. Dua hari sebelum dikabari meninggal, keluarganya sempat menjenguk Daffa. Suasana hatinya saat itu cukup ceria. Bahkan, makanan yang dibawa dari Ngawi dibagikan ke teman-temannya. ‘’Anaknya ceria, supel, dan baik,’’ ujarnya. 

Ahmad Halim, pengasuh Ponpes Ta’mirul Islam Surakarta Cabang Sragen, membenarkan adanya kejadian penganiayaan kepada Daffa. Pihaknya berkomitmen menyerahkan sepenuhnya penanganan kepada pihak kepolisian.

Kasus itu menjadi catatan dan pembelajaran bagi seluruh pengasuh dan pengajar. ‘’Pelaku kekerasan akan dikeluarkan dan dikembalikan ke orang tuanya,’’ ucapnya melalui sebuah surat.

Terpisah, Kasi Humas Polres Sragen Iptu Ari Pujiantoro mengatakan, satu tersangka penganiayaan masih di bawah umur. Pihaknya tidak menahan dan memberlakukan wajib lapor. Namun, proses hukum tetap berjalan dengan sangkaan pasal 80 Undang-Undang (UU) tentang Perlindungan Anak.

Ancaman hukumannya maksimal 10 tahun penjara. ”Kami masih mendalami pengakuan tersangka korban tidak melaksanakan piket kamar,’’ ujarnya sembari menyebut 11 saksi telah diperiksa yang meliputi ustad, santri, dan orang tua korban. (sae/cor)

Most Read

Artikel Terbaru

/