Jawa Pos Radar Madiun - Kho Ping Hoo, penulis cerita silat legendaris yang namanya tak lekang oleh waktu, dianugerahi daya imajinasi yang luar biasa.
Sebagai penulis fiksi, ia tampaknya benar-benar berjodoh dengan mesin ketik.
Bunawan Sastraguna, menantu Kho Ping Hoo, masih terkesan dan sering mengenang kehebatan mertuanya tersebut.
“Beliau mengetik langsung dari imajinasinya dan langsung dituangkan ke mesin ketik,” kenang Om Bun, sapaan akrab Bunawan Sastraguna.
“Saya lihat sendiri dan itu tidak pernah salah,” tegasnya dengan penuh kekaguman.
Dalam dunia kepenulisan, kebanyakan penulis membutuhkan coretan tangan, catatan kecil, atau bahkan jeda panjang untuk menata dan merevisi cerita yang sedang ditulis.
Tidak jarang mereka merasa perlu waktu untuk melanjutkan kisah yang tertunda.
Namun, tidak demikian dengan Kho Ping Hoo.
“Ia menulis langsung dari imajinasinya, seolah-olah alur cerita sudah tertata rapi di dalam pikirannya,” kata Om Bun, menggambarkan cara menulis mertuanya yang unik.
Begitu ketikannya dimulai, tak ada keraguan. Dengan mesin ketik tua dan lembaran karbon, ia menulis tanpa henti.
"Tak-tak-tak... Tik-tik-tik... Cring!”
Bunyi mesin ketik ini menjadi tanda bahwa Kho Ping Hoo sedang menuangkan kisah-kisah epiknya dengan penuh semangat.
Ketukan tuts yang terdengar ritmis, cepat, hampir seakan mengikuti arus inspirasi yang mengalir deras dari pikirannya.
Bunyi “cring!” yang terdengar saat tuas mesin ketik kembali ke awal baris menandakan bahwa cerita yang ditulisnya, siap berlanjut ke baris selanjutnya.
Suara mesin ketik yang khas ini menjadi saksi bisu proses kreatif yang begitu alami dan murni.
Setiap kata yang tercetak adalah hasil dari ketelitian dan insting luar biasa yang dimiliki oleh Kho Ping Hoo.
“Itu berani pakai karbon karena waktu itu belum ada fotokopi. Imajinasinya langsung tersalurkan ke mesin ketik,” jelas Om Bun.
Om Bun mengingat hanya satu kali mertuanya melakukan kesalahan.
“Pernah terjadi kesalahan, yang sudah mati muncul lagi di mesin ketik. Lalu diingatkan sama anaknya, dan beliau langsung memperbaikinya,” kenangnya.
Hal itu menunjukkan bagaimana Kho Ping Hoo tetap teguh dan cepat dalam memperbaiki kesalahan, tanpa memengaruhi alur cerita yang sudah begitu lekat di benaknya.
Kisah ini tidak hanya menggambarkan kemampuan luar biasa Kho Ping Hoo dalam menulis.
Tetapi juga menunjukkan bagaimana seorang penulis bisa begitu terhubung dengan dunia ciptaannya.
Di mana setiap ketukan mesin ketik adalah suara yang mengalir dari imajinasi yang tak terbendung. (*/bersambung)
Editor : Mizan Ahsani