Jawa Pos Radar Madiun - Kho Ping Hoo, Bapak Cerita Silat Indonesia, tak hanya dikenal karena kemampuannya mengolah cerita dengan penuh petualangan.
Dia juga memiliki ketelitian yang luar biasa dalam membangun latar belakang cerita yang kental dengan nuansa sejarah Tiongkok.
Menulis cerita silat tak hanya berkutat pada petualangan seru, pertarungan antar pendekar, dan kisah-kisah epik penuh intrik.
Bagi Kho Ping Hoo, menulis bukan sekadar sebuah kreasi khayalan.
Melainkan sebuah perjalanan mendalam tentang sejarah, budaya, dan geografi yang ia pelajari dengan seksama.
Meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan formal yang tinggi, Kho Ping Hoo memiliki tekad dan kegigihan yang luar biasa dalam mendalami berbagai hal yang terkait dengan cerita-ceritanya.
‘’Beliau memang tidak bisa berbahasa Mandarin, tetapi cakap berbahasa Belanda dan Inggris,’’ kata Bunawan Sastraguna.
Berbekal kemampuan bahasa internasional itu, Kho Ping Hoo menemukan banyak sumber referensi berharga.
Hal itu cukup membantunya dalam menghidupkan dunia Tiongkok kuno yang ia ciptakan dalam karyanya. ‘’Dalam menulis, Pak Kho Ping Hoo berbekal buku History of China,’’ sambungnya.
History of China, sebuah buku yang mengulas sejarah Tiongkok kuno dengan sangat detail.
Buku tersebut ditulis dalam bahasa Inggris.
Buku sejarah itu memberikan gambaran menyeluruh tentang perjalanan panjang sejarah negeri tirai bambu tersebut.
Seperti sejarah dinasti-dinasti besar seperti Han, Tang, hingga Ming dan Qing.
Meski buku sejarah itu ditulis dalam bahasa Inggris, Kho Ping Hoo mampu memanfaatkan informasi dalam buku tersebut dengan sangat baik.
Kho Ping Hoo sangat teliti dalam merujuk peta dan lokasi-lokasi yang ada dalam sejarah Tiongkok tersebut.
Meskipun Kho Ping Hoo begitu mendalam dalam memahami sejarah Tiongkok, ia juga tidak terjebak dalam ketepatan historis semata.
Kho Ping Hoo memandang cerita silat sebagai dunia imajinasi yang bisa berkembang bebas.
Dia pun tidak ragu untuk memasukkan elemen khayalan ke dalam setiap kisahnya. ‘’Cerita lainnya adalah khayalan semata,” ujarnya. (*/bersambung)
Editor : Mizan Ahsani