Jawa Pos Radar Madiun - Kabar duka datang dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Sri Susuhunan Pakubuwono XIII atau Sinuhun Hangabehi wafat pada Minggu (2/11) pagi di Rumah Sakit Indriati, Solo, sekitar pukul 07.30 WIB.
Kabar berpulangnya raja disampaikan langsung oleh kerabat keraton, KPH Eddy Wirabhumi, yang menyebut kondisi kesehatan Sinuhun sempat menurun sebelum akhirnya berpulang.
“Memang hari ini kita berduka. Beliau positif tidak ada di Rumah Sakit Indriati. Sekarang sedang dipersiapkan untuk dipulangkan ke keraton,” ujar KPH Eddy.
Jejak Kehidupan dan Keturunan
PB XIII lahir di Surakarta pada 28 Juni 1948 dengan nama GRM Suryo Partono, putra tertua dari Susuhunan Pakubuwono XII dan KRAy Pradapaningrum.
Sejak muda, ia dikenal tekun menimba ilmu budaya Jawa dan diberi gelar Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH) Hangabehi, tanda sebagai calon penerus tahta.
Beliau menikah tiga kali. Dari pernikahan dengan KRAy Endang Kusumaningdyah, dikaruniai tiga putri.
Mereka di antaranya GRAy Rumbai Kusuma Dewayani (GKR Timoer), GRAy Devi Lelyana Dewi, dan GRAy Dewi Ratih Widyasari.
Dari istri kedua, KRAy Winari Sri Haryani, lahir GRM Suryo Suharto (KGPH Mangkubumi) serta dua putri lainnya.
Pernikahan terakhir dengan KRAy Asih Winarni (GKR Pakubuwana) dikaruniai seorang putra.
Ia yakni GRM Suryo Aryo Mustiko (KGPAA Hamangkunegara Sudibya Rajaputra Narendra Mataram).
Perebutan Tahta dan Rekonsiliasi Keraton
Setelah wafatnya PB XII pada 11 Juni 2004, sempat terjadi dualisme kepemimpinan antara KGPH Hangabehi dan KGPH Tejowulan.
Tejowulan lebih dulu dinobatkan sebagai raja pada 31 Agustus 2004, namun sebagian besar keluarga dan abdi dalem tetap mengakui Hangabehi sebagai penerus sah.
Ketegangan memuncak hingga sempat terjadi insiden di dalam keraton.
Namun pada akhirnya, rekonsiliasi difasilitasi oleh Pemerintah Kota Surakarta dan DPR RI, menegaskan Hangabehi sebagai PB XIII dan Tejowulan diangkat sebagai Mahapatih Agung.
Penobatan PB XIII berlangsung khidmat pada 10 September 2004 di Bangsal Manguntur Tangkil, Sitihinggil Lor, dihadiri para sesepuh dan tokoh kebudayaan Jawa.
Raja Pelestari Budaya Jawa
Selama memimpin, PB XIII dikenal sebagai sosok raja yang tenang dan visioner dalam melestarikan adat Jawa.
Ia aktif memimpin upacara adat besar seperti Sekaten, Garebeg, Labuhan, dan Kirab 1 Sura.
Beliau juga dikenal dekat dengan rakyat dan banyak memberikan gelar kebangsawanan kepada tokoh yang berjasa di bidang budaya.
Pada 2018, PB XIII mendapat penghargaan rekor dunia sebagai penggagas wayang kulit berkelir terpanjang di dunia, simbol dari dedikasinya menjaga seni pedalangan dan tradisi leluhur.
Kepergian PB XIII menjadi kehilangan besar bagi masyarakat Jawa.
Sejak pagi, ratusan abdi dalem dan warga telah berdatangan ke Keraton Surakarta untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sang raja Keraton Solo. (naz)
Editor : Mizan Ahsani