Jawa Pos Radar Madiun - Dunia musik rock Indonesia kembali kehilangan salah satu sosok terpentingnya.
Ecky Lamoh, mantan vokalis Edane dan Elpamas, dikabarkan meninggal dunia pada usia 64 tahun.
Kabar duka ini pertama kali dibagikan melalui unggahan Instagram resmi Edane, yang langsung memicu gelombang belasungkawa dari musisi dan penggemar di seluruh penjuru negeri.
Dalam unggahan tersebut, Edane menuliskan pesan perpisahan yang menyentuh:
“Selamat Jalan Kawan kami Eki Lamoh
Yogyakarta, Minggu 30 November 2025.
Detak jantung berhenti jam 2’11, Dinyatakan meninggal oleh Dokter jam 2’15 di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito Yogyakarta.
Jenazah disemayamkan di Rumah Duka RS. Panti Rapih Yogyakarta.”
Kepergian Ecky menyisakan duka mendalam bagi dunia musik.
Bagi mereka yang pernah mendengar suaranya, Ecky memiliki energi, karakter, dan napas rock Indonesia.
Lahir di Jakarta pada 13 Juli 1961, Ecky Lamoh memiliki suara khas: tinggi, serak, dan penuh tenaga.
Vokal seperti itu menjadi ciri kuat yang membedakannya dari musisi-musisi rock lainnya.
Ia pernah menjadi vokalis Elpamas, salah satu grup rock legendaris Indonesia yang banyak berkontribusi pada perkembangan musik keras di Tanah Air.
Setelah itu, ia bergabung dengan Edane, band rock papan atas yang terkenal dengan permainan gitar agresif dan aksi panggung penuh energi.
Kehadirannya memberi warna berbeda dan memperkuat karakter Edane pada masanya.
Usai berpisah dari kedua band besar tersebut, Ecky tidak berhenti berkarya.
Ia melanjutkan kiprahnya sebagai penyanyi solo, tetap mempertahankan karakter vokalnya yang kuat dan unik.
Karier solonya menunjukkan bahwa Ecky bukan hanya vokalis band, tetapi seorang seniman sejati yang hidup dari dan untuk musik.
Selama puluhan tahun, Ecky Lamoh diakui sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam ranah musik rock Indonesia.
Pengaruhnya terasa hingga kini, dari para musisi muda yang terinspirasi suaranya, hingga para penggemar yang tumbuh bersama lagu-lagu yang ia nyanyikan.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tetapi warisannya akan terus hidup.
Suara khasnya, energi panggungnya, dan dedikasinya pada musik rock telah membentuk perjalanan sejarah musik keras di Indonesia.
Sebuah legenda telah pergi, namun gaung suaranya akan tetap menggema. (fin)
Editor : AA Arsyadani