Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Apa Itu Batik Geblek Renteng yang Bikin Kepsek Diancam Bupati Kulon Progo? Dulu Ramai Dipakai, Sekarang Simbol Terlarang

Mizan Ahsani • Kamis, 12 Februari 2026 | 09:51 WIB
Motif batik Geblek Renteng khas Kabupaten Kulon Progo.
Motif batik Geblek Renteng khas Kabupaten Kulon Progo.

Jawa Pos Radar Madiun – Roda nasib berputar begitu cepat bagi Batik Geblek Renteng.

Motif batik yang selama satu dekade terakhir dipuja sebagai identitas kebanggaan Kabupaten Kulon Progo, kini mendadak menjadi barang panas.

Di era kepemimpinan bupati baru, simbol yang terinspirasi dari makanan rakyat ini tak lagi dianggap sebagai representasi kemajuan.

Bahkan, keberadaannya di gedung sekolah bisa berujung fatal, yakni pencopotan jabatan kepala sekolah.

Padahal, jika menilik sejarahnya, Geblek Renteng lahir dari proses kreatif yang panjang dan memiliki filosofi luhur tentang persatuan warga Kulon Progo.

Baca Juga: Gebrakan Bandung BJB Tandamata di Proliga Bojonegoro: Coret Sonaly Cidrao, Gaet Pevoli Italia Demi Final Four

Lahir dari Tangan Siswa SMA

Batik Geblek Renteng bukanlah karya sembarangan. Motif ini pertama kali muncul pada tahun 2012 melalui sebuah lomba desain batik khas Kulon Progo.

Pemenangnya adalah seorang siswa SMAN 1 Wates bernama Ales Candra Wibawa.

Desain Ales dinilai paling autentik karena mengangkat potensi lokal yang sangat merakyat: Geblek.

Geblek adalah makanan tradisional khas Kulon Progo berbahan dasar singkong yang bentuknya menyerupai angka delapan.

Baca Juga: Siap-Siap! THR 2026 Cair Maret: Cek Jadwal dan Rumus Hitung untuk PNS, PPPK, serta Karyawan Swasta

Filosofi Angka 8: Persaudaraan Tanpa Putus

Di balik bentuknya yang sederhana, motif ini menyimpan makna mendalam:

1. Angka Delapan (Geblek):

Melambangkan hubungan yang tidak terputus (renteng berarti berkaitan/bersambung). Ini merepresentasikan keterkaitan antarwilayah serta persaudaraan warga Kulon Progo yang erat.

2. Identitas Alam:

Motif ini sering dipadukan dengan ornamen kuncup bunga (binangun) dan burung kacer (fauna khas daerah), melambangkan kekayaan alam Bumi Binangun.

Selama bertahun-tahun, motif ini menjadi simbol gerakan ekonomi "Bela Beli Kulon Progo".

Batik ini wajib digunakan sebagai seragam sekolah (TK-SMA) hingga Aparatur Sipil Negara (PNS), yang secara langsung mendongkrak ekonomi para pengrajin batik lokal.

Baca Juga: Aneh tapi Nyata: Usai Diangkat PPPK, Gaji Guru di Tulungagung Justru Turun Jadi Rp 350 Ribu Sebulan

Dari Ikon Jadi Ancaman

Namun, kejayaan Geblek Renteng kini berada di ujung tanduk.

Bupati Kulon Progo saat ini, Agung Setyawan, menilai simbol tersebut sarat muatan politis era pendahulunya dan tidak sesuai dengan arahan Gubernur DIY yang lebih condong pada unsur Gunungan.

Ironisnya, simbol yang dulu diwajibkan, kini menjadi alasan ancaman sanksi tegas.

"Kalau itu memang ada kaitannya dengan tujuan politis, saya ganti kepala sekolahnya," ancam Bupati Agung kepada kepala sekolah yang masih mempertahankan ornamen Geblek Renteng di bangunan sekolah mereka.

Kini, nasib Geblek Renteng—sang simbol persatuan angka delapan—justru menjadi pemicu perpecahan opini di masyarakat Kulon Progo. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
#batik khas kulon progo #Motif #Kepala sekolah dicopot #Bupati Kulon Progo Agung Setyawan #pns #kontroversi #Batik Geblek Renteng