Jawa Pos Radar Madiun – Ancaman gempa dahsyat dari zona Megathrust kembali menjadi perbincangan hangat setelah wilayah Pacitan diguncang gempa magnitudo 6,2 pada Jumat (6/2/2026) lalu.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa gempa tersebut murni bersumber dari aktivitas subduksi lempeng pada zona Megathrust Jawa Timur.
Sejalan dengan fenomena tersebut, para ahli melalui Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2024 mengungkap data terbaru yang menunjukkan peningkatan jumlah zona bahaya.
Jika pada 2017 tercatat 13 zona, kini terdeteksi 14 zona Megathrust yang mengelilingi Indonesia dengan potensi kekuatan guncangan mencapai lebih dari M 9,0.
Baca Juga: SPPG di Trenggalek Disemprit karena Pegawai Tidur di Lantai, Wakil Kepala BGN: Saya Marah Betul!
Peningkatan Bahaya dan Daftar 14 Zona Megathrust
Guru Besar ITB, Iswandi Imran, menyoroti bahwa peta tahun 2024 menunjukkan kontur yang lebih rapat, mengindikasikan adanya peningkatan risiko di sejumlah wilayah.
Salah satu yang paling diwaspadai adalah Megathrust Jawa yang berpotensi memicu gempa hingga magnitudo 9,1.
Berikut daftar lengkap 14 zona Megathrust berdasarkan peta terbaru:
1. Aceh-Andaman: Magnitudo maksimal 9,2
2. Nias-Simelue: Magnitudo maksimal 8,7
3. Batu: Magnitudo maksimal 7,8
4. Mentawai-Siberut: Magnitudo maksimal 8,9
5. Mentawai-Pagai: Magnitudo maksimal 8,9 (Meningkat dari estimasi sebelumnya)
6. Enggano: Magnitudo maksimal 8,9
7. Jawa: Magnitudo maksimal 9,1
8. Jawa Bagian Barat: Magnitudo maksimal 8,9
9. Jawa Bagian Timur: Magnitudo maksimal 8,9
10. Sumba: Magnitudo maksimal 8,9
11. Sulawesi Utara: Magnitudo maksimal 8,5 (Meningkat dari M 7,9)
12. Palung Cotobato: Magnitudo maksimal 8,3 (Zona baru di Filipina berdampak ke Talaud)
13. Filipina Selatan: Magnitudo maksimal 8,2
14. Filipina Tengah: Magnitudo maksimal 8,1
Ancaman Tsunami dan "Seismic Gap"
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, memperingatkan dua zona kritis, yakni Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.
Kedua wilayah ini telah mengalami seismic gap atau tidak melepaskan gempa besar selama ratusan tahun, sehingga energinya terus terkunci dan "tinggal menunggu waktu" untuk pecah.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memproyeksikan jika Megathrust di selatan Jawa pecah, potensi tsunami setinggi 20 meter dapat menerjang pesisir Pangandaran.
Dampaknya bahkan diprediksi menjalar hingga pesisir utara Jakarta dengan ketinggian air 1-1,8 meter sekitar 2,5 jam setelah gempa terjadi.
Baca Juga: Tahun Kuda Api 2026, Ini 5 Shio Paling Hoki dan Ciong Menurut Pakar Feng Shui
Langkah Mitigasi: Persiapan Sebelum Terjadi
Meski potensi bencana ini nyata, BMKG menekankan bahwa pengumuman ini bertujuan untuk kesiapsiagaan, bukan kepanikan.
"Tujuan pembahasan ini agar masyarakat melakukan mitigasi, edukasi, dan persiapan," ujar Dwikorita Karnawati.
Langkah antisipasi yang telah dilakukan meliputi:
1. Pemasangan sensor sistem peringatan dini InaTEWS yang menghadap langsung ke zona Megathrust.
2. Pendampingan pemerintah daerah untuk menyiapkan infrastruktur evakuasi, shelter, dan jalur evakuasi yang memadai.
3. Kolaborasi internasional untuk mengedukasi negara-negara di kawasan Samudera Hindia.
Bagi warga di pesisir selatan, termasuk wilayah yang berdekatan dengan Pacitan dan Jawa Timur, memahami jalur evakuasi mandiri dan tetap tenang mengikuti arahan BMKG adalah kunci utama dalam menghadapi potensi bencana ini. (*)
*Sayiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura
Editor : Mizan Ahsani