Jawa Pos Radar Madiun – Menjelang bulan suci Ramadan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan catatan penting terkait tradisi membangunkan sahur di tengah masyarakat.
Meskipun tradisi ini telah mengakar kuat, MUI menekankan perlunya keseimbangan antara semarak ibadah dengan etika sosial serta toleransi antarumat beragama.
Penggunaan Toa Masjid secara Proporsional
Wakil Ketua Umum MUI, Cholil Nafis, menyatakan bahwa tradisi membangunkan sahur tetap boleh dilestarikan sebagai bagian dari kegembiraan Ramadan.
Namun, ia mengimbau agar penggunaan pengeras suara (toa) di masjid atau musala dilakukan dengan bijak.
“Jika dilakukan pakai toa masjid seperlunya saja. Misalnya pada jam-jam sahur setengah 4, tapi jangan terlalu keras,” jelas Cholil Nafis.
Baca Juga: Update THR ASN 2026: Menkeu Sebut Pengumuman Resmi Tinggal Tunggu Presiden Prabowo
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga ketenangan malam dan kenyamanan warga yang sedang beristirahat.
Menghormati Kemajemukan Masyarakat
Di era modern yang semakin heterogen, banyak kawasan pemukiman dihuni oleh warga dengan latar belakang agama yang berbeda.
MUI mengingatkan bahwa semangat Ramadan seharusnya menghadirkan rahmat dan ketenangan bagi seluruh lingkungan, termasuk bagi warga non-Muslim.
“Di daerah padat dan banyak non-Muslim tentu diukur sebaiknya yang tidak mengganggu orang yang tidak berpuasa,” tegas Cholil.
Baca Juga: Alun-Alun Kota Madiun Dipoles Rp 400 Juta, Paving Baru Dipasang Tahun Ini
Pesan ini menekankan bahwa ibadah tidak hanya menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan horizontal antarsesama manusia.
Menjaga Harmoni di Bulan Suci
Tradisi membangunkan sahur, baik melalui tabuhan maupun pengumuman suara, merupakan warna khas Ramadan di banyak daerah.
Kunci agar tradisi ini tetap berjalan harmonis adalah kesadaran akan kondisi sekitar.
Volume suara yang wajar dan pemilihan waktu yang tepat akan memastikan tradisi ini tetap hidup tanpa mengorbankan hak kenyamanan orang lain.
Ramadan bukan hanya tentang persiapan makan sahur, melainkan juga tentang memperkuat toleransi dan menjaga kedamaian di tengah masyarakat. (naz)
Editor : Mizan Ahsani