Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Gelombang Teror ke Ketua dan Pengurus BEM UGM Meluas, Diduga Ada Penyusup di Kepengurusan

Grendy Damara • Senin, 23 Februari 2026 | 15:09 WIB

KAMPUS IMPIAN: Gerbang utama masuk kompleks Universitas Gadjah Mada atau UGM.
KAMPUS IMPIAN: Gerbang utama masuk kompleks Universitas Gadjah Mada atau UGM.

Jawa Pos Radar Madiun — Gelombang teror yang menimpa Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, kian meluas.

Tak hanya dirinya dan keluarga yang menerima intimidasi dari nomor tak dikenal, lebih dari 40 pengurus BEM UGM dilaporkan mengalami hal serupa.

Bahkan sejumlah orang tua pengurus lainnya turut menjadi sasaran pesan bernada ancaman.

Tiyo menyampaikan bahwa aksi teror yang kini menjadi perhatian publik tersebut masih terus berlangsung.

Tekanan yang datang, menurutnya, tidak hanya menyasar individu, tetapi juga mencoba menyentuh ranah keluarga.

Pihak BEM UGM berkoordinasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA), serta pihak kampus untuk menyikapi situasi ini.

Tetap Fokus Kritik Pemerintah

Meski banyak dorongan agar kasus ini dilaporkan ke aparat penegak hukum, BEM UGM untuk sementara memilih tidak menempuh jalur hukum.

Fokus utama organisasi, kata Tiyo, tetap pada penyampaian evaluasi dan kritik terhadap kebijakan pemerintah.

“Karena pada dasarnya teror yang terjadi itu tidak berimbas apa-apa kepada kami, kami akan senantiasa melawan, senantiasa akan mengkritik apa yang kami anggap tidak adil dan menindas rakyat,” ujarnya.

Ia bahkan menyebut intimidasi yang diterima justru memperkuat solidaritas internal organisasi.

“Justru terima kasih kepada teman-teman yang menyampaikan teror, karena persaudaraan di antara teman-teman BEM UGM semakin solid. Kami punya nasib yang sama, menjadi korban teror dari nomor-nomor yang tidak dikenal,” tambahnya.

Alasan Tak Lapor Polisi

Ketidakpercayaan terhadap institusi kepolisian menjadi salah satu alasan BEM UGM belum melaporkan kasus ini.

Tiyo menyinggung peristiwa di Tual, Maluku, yang melibatkan anggota Brimob dan memicu sorotan publik.

Menurutnya, dengan situasi tersebut, BEM UGM merasa ragu untuk meminta perlindungan kepada aparat. Apalagi teror yang diterima sejauh ini masih dalam bentuk digital.

“Teror ini masih sebatas digital, sehingga kami tidak ingin disibukkan dengan itu,” jelasnya.

Dugaan Penyusupan dan Kebocoran Data

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto juga mengungkapkan kecurigaan adanya penyusup dalam kepengurusan BEM UGM.

Organisasi tersebut memiliki sekitar 600 pengurus aktif, dan jika termasuk relawan kepanitiaan, jumlahnya mendekati 1.000 orang.

Indikasi itu muncul karena teror hanya menyasar sekitar 40 pengurus. BEM UGM sempat menduga apakah data diperoleh dari media sosial seperti LinkedIn, namun tidak semua korban mencantumkan identitas sebagai pengurus BEM di akun publik mereka.

“Karena ini bicara soal data digital, siapa yang masuk ke grup besar BEM UGM pasti bisa mengakses siapa saja yang ada di sana,” ungkapnya.

Namun hingga kini, pihaknya belum memiliki cukup waktu dan sumber daya untuk melacak kemungkinan kebocoran tersebut. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
#BEM UGM #Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto #Ketua BEM UGM #ketua bem ugm diteror #universitas gadjah mada #teror