Sukses Turunkan Risiko Stunting, Program Gizi Dahsat Desa Beran Padukan Kelas Memasak hingga Bazar Ekonomi

Jawa Pos Radar Madiun - Tawa riang anak balita dan aroma sedap masakan rumahan berpadu hangat di sudut Desa Beran, Kabupaten Ngawi.
Di balik kesederhanaan pemandangan tersebut, tersimpan sebuah perjuangan besar untuk memutus mata rantai masalah kesehatan yang kerap menghantui masa depan generasi bangsa, yakni stunting. Tidak dengan teori medis yang rumit, perlawanan ini justru dimulai dari kepulan asap dapur warga.
Memasuki tahun kedua pelaksanaannya, program Gizi Dahsat (Dapur Sehat Atasi Stunting) yang digagas oleh Pemerintah Desa Beran terbukti bukan sekadar wacana, melainkan sebuah gerakan nyata yang langsung menyentuh akar permasalahan gizi di tingkat keluarga.
Berjalan efektif sejak bulan April lalu, inisiatif strategis ini resmi ditutup dengan penuh keakraban pada Rabu (13/5). Keberhasilan program ini terletak pada pendekatan pemberdayaan masyarakat yang terarah.
Sasarannya dikunci secara spesifik, memprioritaskan keluarga yang memiliki anak balita (terutama usia di bawah dua tahun atau baduta), ibu hamil, ibu menyusui, hingga para calon pengantin (catin).
Relawan Program Gizi Dahsat, Handarini Putri, mengungkapkan kebanggaannya melihat partisipasi aktif warga dalam menekan angka gizi buruk. “Peserta sangat antusias mengikuti program ini kami berharap terus memberikan manfaat dan efetif dalam menanggulangi stuntinh di wilayah Beran pada khususnya,” ujar Handarini.

Guna menarik minat warga, para relawan tidak sekadar memberikan penyuluhan satu arah. Berbagai kegiatan inovatif dan interaktif digelar untuk memastikan asupan gizi keluarga benar-benar terpenuhi.
Pertama, kelas memasak. Peserta diajak mempraktikkan langsung pembuatan menu "Isi Piringku". Menariknya, bahan yang digunakan adalah pangan lokal yang murah dan melimpah seperti daun kelor, ikan sungai, hingga telur. Bahan tersebut diolah secara kreatif agar ampuh membangkitkan nafsu makan anak.
Kedua, konseling kelompok. Diskusi mendalam mengenai pola asuh yang tepat, pentingnya menjaga kebersihan lingkungan (sanitasi), serta kampanye pemberian ASI eksklusif.
Ketiga, pemanfaatan pekarangan. Warga diedukasi untuk membuat "Warung Hidup" dengan menanam sayuran atau beternak unggas dan ikan di halaman rumah sebagai lumbung protein mandiri.



