NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Megaproyek tol Ngawi-Bojonegoro-Tuban (Ngaroban) menjadi buah bibir. Terutama oleh warga Desa Dempel, Geneng, Ngawi, yang wilayahnya masuk lintasan jalan bebas hambatan sepanjang 116,7 kilometer tersebut.
Belum adanya informasi trase (rute) dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) juga memunculkan kecemasan. Mereka khawatir gejolak proyek tol Solo-Kertosono (Soker) di wilayahnya beberapa tahun lalu terulang. ‘’Titiknya di mana saja belum tahu,’’ kata Kepala Desa (Kades) Dempel Sugeng Wiyono, Kamis (17/2).
Sugeng mengungkapkan, warganya sempat melihat sejumlah orang datang ke wilayahnya tiga bulan lalu. Rombongan yang mengaku sebagai tim Kementerian PUPR itu menyurvei lahan kosong di sebelah timur tol Soker.
Bukan sekadar mengamati, mereka juga menancapkan beberapa patok kayu yang ujungnya berwarna merah. Kala ditanya warga, patok itu penanda proyek tol Ngaroban. ‘’Saat itu kami belum bisa memastikan kebenarannya karena memang tidak ada informasi resmi,’’ ujarnya.
Sugeng ikut hadir dalam konsultasi publik penyusunan dokumen analisis dampak lingkungan (amdal) tol Ngaroban Senin (14/2) lalu. Akan tetapi, Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur (DJPI) Kementerian PUPR tidak sekalian menyampaikan sebaran titik lahan terdampak. Padahal, informasi tersebut sangat dinantikan. ‘’Penting untuk mengantisipasi sekaligus meminimalkan dampak prakonstruksi (pengukuran dan pembebasan lahan, Red) hingga proses konstruksi,’’ tuturnya.
Dia mengungkapkan, banyak permasalahan timbul saat pembangunan tol Soker. Jalan desa menjadi rusak karena lalu-lalang kendaraan berat. Debu yang ditimbulkan juga memicu polusi udara. Nah, jika tahu peta trase, pihaknya dapat melakukan antisipasi dini. Misalnya, memperkuat jalur yang dilewati kendaraan berat. Juga menuntut komitmen perbaikan tatkala jalan desa rusak. ‘’Jangan menunggu jalan rusak atau warga batuk-batuk akibat debu, baru dilakukan perbaikan,’’ tegas Kades.
Di sisi lain, Camat Kasreman Muhammad Arief Arifin baru mengetahui adanya proyek tol Ngaroban saat menerima undangan konsultasi publik. Dua desanya, Tawun dan Kiyonten, turut terdampak proyek strategis nasional (PSN) itu. ‘’Saya juga belum menerima informasi yang utuh, khususnya titik mana saja yang akan dilewati,’’ ujarnya.
Setali tiga uang, Camat Ngawi Eko Yudo Nurcahyo juga buta trase tol Ngaroban. Padahal, wilayahnya paling banyak terdampak dengan jumlah lima desa. (sae/c1/cor/her)
Editor : Hengky Ristanto