Edukasi melalui media audio visual itu menyasar anak berusia di rentang enam hingga 10 tahun. ‘’Mereka dikenalkan jenis kelamin, bagian tubuh yang boleh dan tidak disentuh orang lain secara sembarangan,’’ kata Marcella Mariska Ariyono, dosen psikologi UKWMS, Jumat (23/12).
Marcella mengatakan, proses belajar-mengajar melalui aplikasi game bernama Aku dan Diriku. Perangkat lunak yang dioperasikan pada smartphone itu buatan tim dosen UKWMS.
Pemainnya diminta menjawab pertanyaan mengenai area private tubuh dari karakter game itu. ‘’Permainan ini juga memuat materi-materi lainnya berkaitan pendidikan seks,’’ ujarnya.
Dalam memainkan game, siswa wajib didampingi orang tua. Sivitas akademika UKWMS memberikan pengarahan khusus ke wali siswa ihwal cara main dan tujuan game tersebut. ‘’Respons anak-anak positif. Seks bisa diartikan sebagai jenis kelamin manusia. Membicarakannya menjadi hal yang wajar,’’ paparnya.
Marcella menyampaikan bahwa kasus kekerasan seksual terhadap anak merajalela di banyak daerah. Bila dibiarkan bisa menjadi ancaman serius bagi anak-anak.
Sejumlah lembaga dan organisasi masyarakat kompak melakukan sosialisasi ke berbagai lapisan masyarakat. ‘’Pendidikan seks sejak dini diharapkan dapat meminimalkan kasus kekerasan seksual,’’ tuturnya. (mg4/cor) Editor : Hengky Ristanto