Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Kasus Pasung ODGJ Ngawi Jadi Polemik, Angka Pemprov dan Pemkab Tak Sinkron

Asep Syaeful • Selasa, 13 Januari 2026 | 06:30 WIB
PELAYANAN KESEHATAN: Pendampingan dan layanan kesehatan jiwa terus dilakukan Pemkab Ngawi untuk mencegah praktik pasung ODGJ kembali terjadi. ILUSTRASI: JAWA POS
PELAYANAN KESEHATAN: Pendampingan dan layanan kesehatan jiwa terus dilakukan Pemkab Ngawi untuk mencegah praktik pasung ODGJ kembali terjadi. ILUSTRASI: JAWA POS

Jawa Pos Radar Ngawi – Data kasus pemasungan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Ngawi memunculkan polemik.

Dinas Sosial (Dinsos) Ngawi dan Dinsos Jawa Timur memiliki catatan yang berbeda jauh.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur mencatat terdapat 235 korban pasung di Kabupaten Ngawi.

Namun, Pemkab Ngawi justru mengklaim wilayahnya sudah zero pasung.

“Status Ngawi sudah zero pasung,” tegas Kepala Dinsos Ngawi Bonadi, kemarin (12/1).

Bonadi menilai data yang dirilis pemprov tidak mencerminkan kondisi terkini di lapangan.

Menurutnya, angka 235 tersebut merupakan data historis kasus yang sudah ditangani, bukan ODGJ yang saat ini masih dipasung.

“Itu adalah data yang sudah ditangani, bukan yang masih dipasung,” ujarnya.

Dia menegaskan, penanganan ODGJ di Ngawi dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan.

Tidak hanya sebatas pelepasan pasung, tetapi juga edukasi keluarga dan masyarakat agar praktik pemasungan tidak kembali terjadi.

“Pendekatan kita bukan sekadar melepas pasung, tapi bagaimana keluarga dan lingkungan tidak lagi memasung ODGJ,” jelas Bonadi.

Menurutnya, pemasungan sering berawal dari minimnya pemahaman keluarga dan masyarakat.

Edukasi menjadi kunci karena pemasungan tidak menyembuhkan, bahkan berpotensi memperparah kondisi ODGJ.

Untuk itu, layanan kesehatan jiwa (keswa) telah tersedia di setiap puskesmas di seluruh kecamatan.

“Petugas aktif turun ke lapangan, melakukan asesmen, pendampingan, dan edukasi keluarga,” terangnya.

Bonadi mengungkapkan, tantangan terbesar justru muncul setelah ODGJ menjalani pengobatan.

Banyak yang kembali kambuh akibat tidak rutin minum obat, kurang pengawasan keluarga, hingga dikucilkan lingkungan sekitar.

“Kalau tidak ada pendampingan, tidak minum obat, dan dikucilkan, ini bisa kambuh,” ujarnya.

Karena itu, Dinsos Ngawi terus mendorong peran desa dan masyarakat agar ODGJ tetap dilibatkan dalam aktivitas sosial.

Dukungan lingkungan dinilai menjadi kunci agar pemulihan berjalan berkelanjutan.

“Terpenting adalah penanganan berkelanjutan agar ODGJ bisa pulih dan kembali diterima di lingkungan,” pungkasnya. (sae/den)

Editor : Hengky Ristanto
#ODGJ jawa timur #data pasung tidak sinkron #pasung ODGJ ngawi #ngawi #kesehatan jiwa puskesmas #kasus pasung jatim #Dinsos Ngawi