Jawa Pos Radar Ngawi – Setelah sempat dinyatakan nihil, kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) kembali ditemukan pada ternak sapi di Kabupaten Ngawi.
Dinas Perikanan dan Peternakan Ngawi mencatat 23 ekor sapi positif PMK hingga kemarin (21/1).
Kepala Bidang Kesehatan Hewan DPP Ngawi Tony Keswan mengatakan, laporan pertama diterima dari petugas kesehatan hewan lapangan pada 5 Januari.
“Kasusnya tersebar di sembilan kecamatan,” ujarnya.
Sebaran sapi terinfeksi meliputi Kecamatan Gerih, Karanganyar, Kasreman, Mantingan, Sine, Padas, Widodaren, Pangkur, dan Ngrambe.
Meski jumlahnya puluhan, Tony menegaskan kondisi masih terkendali.
Seluruh sapi yang terinfeksi telah mendapatkan penanganan medis dan dilaporkan sembuh.
“Tidak ada laporan sapi mati akibat PMK,” tegasnya.
DPP Ngawi belum merekomendasikan penutupan pasar hewan.
Namun, pengawasan lalu lintas ternak diperketat untuk mencegah penyebaran meluas.
Setiap sapi yang masuk pasar hewan wajib menjalani pemeriksaan kesehatan, sementara kendaraan pengangkut ternak disemprot disinfektan.
“Langkah antisipasi fokus pada screening dan desinfeksi,” jelas Tony.
Di sisi lain, program vaksinasi PMK terus berjalan.
Vaksin diprioritaskan bagi peternak atau desa yang mengajukan permintaan.
Stok vaksin dinyatakan aman hingga bulan depan.
“Masih ada sisa stok tahun lalu dan mencukupi untuk Januari hingga Februari,” ungkapnya. (sae/cor)
Editor : Hengky Ristanto