Jawa Pos Radar Ngawi – Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi di Ngawi kian merebak.
Hingga kini tercatat 30 ekor sapi terinfeksi yang tersebar di 11 kecamatan.
Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono mengatakan, meski Ngawi menjadi salah satu daerah dengan mobilitas perdagangan sapi cukup tinggi, penanganan PMK masih terkontrol.
Pemkab mengutamakan upaya pengobatan dan pencegahan melalui vaksinasi.
“Penanganan kita fokus pada pengobatan dan pencegahan. Sampai saat ini, penutupan pasar hewan belum dilakukan,” ujar Ony, kemarin (8/2).
Menurut Ony, pemkab terus menjalankan vaksinasi secara berkala, baik vaksinasi baru maupun vaksinasi lanjutan.
Hal itu menjadi salah satu alasan penyebaran PMK di Ngawi dinilai lebih terkendali dibanding daerah lain.
“Ngawi termasuk daerah yang masih konsisten melaksanakan vaksinasi baru maupun vaksinasi lanjutan. Itu bisa dilihat dari minimnya penularan,” jelasnya.
Ony mengakui, posisi Ngawi sebagai pusat perdagangan sapi membuat potensi penyebaran PMK cukup tinggi.
Sapi dari luar daerah masuk untuk diperjualbelikan, lalu dibawa kembali ke daerah asal.
Terkait pengawasan, pemkab tetap melakukan pemantauan dan pemeriksaan kesehatan pada setiap hewan yang masuk pasar.
“Sehingga yang masuk pasar dipastikan benar-benar sehat,” ujarnya.
Dia menilai penutupan pasar hewan bukan solusi utama mitigasi.
Jika pasar ditutup, pedagang kesulitan menjual ternak dan pendapatan daerah dari retribusi juga hilang.
“Menurut saya itu bukan solusi utama,” tegasnya.
Sebagai langkah mitigasi, pemkab memilih strategi jemput bola melalui vaksinasi door to door serta mengintensifkan komunikasi kepada masyarakat.
“Solusinya adalah mengedukasi dan mengkomunikasikan kepada masyarakat pentingnya vaksinasi, supaya mereka mau melapor dan ternaknya bisa segera ditangani,” pungkasnya. (sae/her)
Editor : Hengky Ristanto