Jawa Pos Radar Ngawi – Masjid bukan sekadar tempat ibadah.
Sejak masa Nabi Muhammad SAW, masjid menjadi pusat pengembangan ilmu dan kegiatan sosial.
Spirit itu dihidupkan kembali oleh takmir Masjid Agung Baiturrahman Ngawi selama Ramadan 1447 Hijriah.
Sekretaris panitia Ramadan, M. Lathif Nur Basith, mengatakan berbagai kajian keilmuan digelar setiap hari.
Mulai kuliah subuh, kultum bakda zuhur, hingga ngaji kitab kuning menjelang berbuka.
Tiga kitab klasik yang dikaji yakni Maraqi al-‘Ubudiyah karya Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Mukhtarul Ahadis karya Sayyid Ahmad bin Ibrahim Al-Hasyimi, dan Al-Adab fid-Dīn karya Imam Ghazali.
“Karena masjid adalah pusat pengembangan ilmu, maka harus dihidupkan untuk pusat pengembangan ilmu di momen Ramadan ini,” ujarnya.
Setiap Minggu juga digelar kajian tematik, mulai fikih nisa, fikih munakahat, fikih zakat, muamalah, hingga moderasi beragama.
Selain kajian, masjid juga aktif dalam kegiatan sosial.
Masjid yang berdiri 25 November 1879 itu menyiapkan 750–800 nasi kotak takjil setiap hari untuk jamaah, musafir, warga sekitar, hingga masyarakat kurang mampu.
“Kita ajak kolaborasi donatur. Siapapun boleh berdonasi dan siapapun juga bisa menerima. Ini dari masyarakat untuk masyarakat,” jelas Lathif.
Masjid juga merangkul generasi muda melalui tadarus malam dan rencana seminar penguatan keimanan.
“Harapannya jamaah merasa nyaman, betah, dan masjid benar-benar hidup sebagai pusat peradaban,” pungkasnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto