alexametrics
23.6 C
Madiun
Monday, May 23, 2022

Puasa Lapar dan Dahaga

PUASA adalah menahan makan dan minum, serta yang membatalkannya mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Aktivitas menahan lapar dan dahaga, juga segala benda yang masuk dalam kerongkongan hingga perut, tidak diperbolehkan.

Tidak hanya itu, maksiat pun ditahan. Menghindari melakukan perbuatan yang dilarang. Misalnya, pacaran, menipu, bohong, mengibul, dan yang dilarang lainnya. Pun, menghindari perbuatan yang tidak berguna. Jika bisa menahan hal itu, maka puasa akan mengantarkan seseorang menjadi pribadi yang hebat. Dalam bahasa agama disebut derajat muttaqin.

Puasa Ramadan tidak hanya amalan rutin tiap tahun. Namun, harus bisa memenuhi target mengantar manusia berubah dari yang tidak baik menjadi baik, dari yang baik menjadi lebih baik. Rata-rata orang puasa hanya memenuhi kewajiban dan rutinitas tiap tahun. Sebab, setelah bulan puasa selesai, mereka kembali ke perbuatan semula seperti sebelum Ramadan.

Puasa sebagai bulan pendadaran ”kawah candradimuka”, mendidik diri untuk menjadi pribadi yang baik. Sebulan penuh merasa lapar dan dahaga dapat dihayati dan direnungkan betapa lapar dan dahaganya orang miskin sebagaimana yang kita alami. Sehingga, keluarlah empati dari hati nurani pada fakir miskin.

Baca Juga :  Ridho Sasongko, Jebolan Kakang Mbakyu yang Owner Agensi Modeling

Pun, peduli sosial, membantu kepada mereka berupa ego partikel atau materi. Sehingga, mengentaskan kemiskinan, juga tidal owel memberikan zakat, infak, dan sedekah pada mereka. Rasulullah telah mengatakan: Ashodaqotu liidabil bala’ (sedekah itu menolak bala). Namun, harus dibarengi dengan puasa agar penghayatan dalam peduli sosial itu mantap dan ikhlas.

Puasa Ramadan yang hanya rutinitas tetap berpahala. Namun, tidak bisa mengubah perilaku menjadi pribadi baik dan hebat. Lain lagi dengan puasa yang sungguh-sungguh lahir dan batin. Di samping berpahala dan menolong di akhirat, juga dapat mengubah perilaku menjadi pribadi baik dan hebat atau mutaqqin. Wallahu a’lam bis-sawab. (penulis adalah Ketua MUI Kota Madiun Sutoyo/sat/c1)

PUASA adalah menahan makan dan minum, serta yang membatalkannya mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Aktivitas menahan lapar dan dahaga, juga segala benda yang masuk dalam kerongkongan hingga perut, tidak diperbolehkan.

Tidak hanya itu, maksiat pun ditahan. Menghindari melakukan perbuatan yang dilarang. Misalnya, pacaran, menipu, bohong, mengibul, dan yang dilarang lainnya. Pun, menghindari perbuatan yang tidak berguna. Jika bisa menahan hal itu, maka puasa akan mengantarkan seseorang menjadi pribadi yang hebat. Dalam bahasa agama disebut derajat muttaqin.

Puasa Ramadan tidak hanya amalan rutin tiap tahun. Namun, harus bisa memenuhi target mengantar manusia berubah dari yang tidak baik menjadi baik, dari yang baik menjadi lebih baik. Rata-rata orang puasa hanya memenuhi kewajiban dan rutinitas tiap tahun. Sebab, setelah bulan puasa selesai, mereka kembali ke perbuatan semula seperti sebelum Ramadan.

Puasa sebagai bulan pendadaran ”kawah candradimuka”, mendidik diri untuk menjadi pribadi yang baik. Sebulan penuh merasa lapar dan dahaga dapat dihayati dan direnungkan betapa lapar dan dahaganya orang miskin sebagaimana yang kita alami. Sehingga, keluarlah empati dari hati nurani pada fakir miskin.

Baca Juga :  Ridho Sasongko, Jebolan Kakang Mbakyu yang Owner Agensi Modeling

Pun, peduli sosial, membantu kepada mereka berupa ego partikel atau materi. Sehingga, mengentaskan kemiskinan, juga tidal owel memberikan zakat, infak, dan sedekah pada mereka. Rasulullah telah mengatakan: Ashodaqotu liidabil bala’ (sedekah itu menolak bala). Namun, harus dibarengi dengan puasa agar penghayatan dalam peduli sosial itu mantap dan ikhlas.

Puasa Ramadan yang hanya rutinitas tetap berpahala. Namun, tidak bisa mengubah perilaku menjadi pribadi baik dan hebat. Lain lagi dengan puasa yang sungguh-sungguh lahir dan batin. Di samping berpahala dan menolong di akhirat, juga dapat mengubah perilaku menjadi pribadi baik dan hebat atau mutaqqin. Wallahu a’lam bis-sawab. (penulis adalah Ketua MUI Kota Madiun Sutoyo/sat/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/