alexametrics
28.3 C
Madiun
Wednesday, May 25, 2022

Menjadi Dosen Tetap Itu Sulit (Cerita Dari Menantu)

SEJAK 1986, selain bekerja di pemerintahan, saya juga merangkap dosen di beberapa perguruan tinggi di Surabaya dan Malang. Ketika pindah tugas di Jakarta, saya tetap mengajar di dua universitas. Berhadapan dan berdiskusi dengan mahasiswa atau berinteraksi dengan para dosen, memberi kepuasan tersendiri.

Di awal mengajar, saya hanya berbekal ijazah sarjana. Sambil bekerja, saya mengambil program magister dan doktor. Bahkan saya memiliki pangkat akademik dan nomor induk dosen. Sampai sekarang, saya tercatat sebagai dosen tetap di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi AWS Surabaya. Saya juga menjadi ketua dewan pembina di Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur yang menaungi pendidikan tinggi dan menengah.

Ketika aturan kenaikan pangkat dan pengangkatan guru besar belum serumit dan seketat sekarang, saya selalu didorong mengurus pangkat. Apalagi setelah lulus pendidikan doktor, beberapa universitas meminta saya pindah, sampai dijanjikan akan dibantu mengurus jenjang pangkat dan guru besar.

Saya tidak bersedia. Bahkan, mengurus pangkat saja saya tidak mau. Jangan heran, pangkat saya tidak pernah naik sampai sekarang. Salah satu alasannya, karena profesi utama saya birokrat pemerintahan. Bukan dosen. Saya berkeyakinan, rasanya kurang etis. Apalagi guru besar kan jabatan akademik di perguruan tinggi. Bukan di birokrasi.

Saat bekerja di Jakarta, saya mendapat peluang menjadi anggota tim seleksi calon penerima beasiswa program magister dari Kementerian Kominfo yang akan dikirim ke luar negeri. Bidang ilmunya mencakup komunikasi, cyber law, komputer, telekomunikasi, dan lainnya, di beberapa universitas riset yang baik.

Saya ikut melakukan monitoring dan evaluasi kepada penerima beasiswa di Jerman atau Belanda. Berdiskusi dengan pihak universitas dan para penerima beasiswa untuk mengetahui progres dan kesulitan yang dihadapi.

Contoh kasusnya Belanda. Di sana ada dua jenis perguruan tinggi, research university dan applied science. Universitas riset jumlahnya sekitar 12. Namun, kualitasnya sangat tinggi. Semua universitas riset di Belanda masuk ranking 150 dunia. Bandingkan dengan universitas riset terbaik di Indonesia yang masih di peringkat 700-an. Di Belanda, yang banyak applied science university. Lulusannya disiapkan untuk bekerja. Sama seperti politeknik di Indonesia.

Menantu saya alumnus Vrije Universiteit Amsterdam. Lulus dengan predikat cum laude. Bidang yang ditekuni geologi. Kedua anak perempuan saya kebetulan juga lulusan master universitas riset di Belanda. Setelah lulus dan menikah dengan anak saya, dia minta pertimbangan kepada saya jika ingin mengambil postdoctoral di Carnegie Institution for Science di Washington DC. Itu lembaga riset bergengsi di Amerika Serikat.

Baca Juga :  Operasi Pasar, Warga Rela Berdesakan Demi Dapat Dua Liter Minyak Goreng

Kontrak postdoctoral berdurasi dua tahun. Risetnya harus sesuai proposal yang telah disetujui. Ketika sudah menjalani postdoctoral di lembaga riset bergengsi, juga tulisannya dimuat di jurnal ilmiah bergengsi sesuai bidang keahliannya, maka itu akan memperbanyak pengalaman dan curriculum vitae. Universitas riset terbaik akan mempertimbangkan hal itu dalam menarik masuk seseorang menjadi tenaga pengajar mereka.

Jelang kontrak postdoctoral di Amerika berakhir, dia mencari lembaga riset yang bersedia mendanai dan menjadi tempat risetnya. University of Munster di Jerman bersedia karena sebelumnya menjalani postdoctoral di lembaga riset bergengsi dan pernah memublikasikan tulisan di jurnal ilmiah bergengsi. Pun, proposal risetnya juga didanai lembaga riset bergengsi. Tentu, nama dan reputasi universitas bisa ikut terangkat.

Setelah setahun riset di Jerman, menantu saya ancang-ancang bekerja dan mengajar di Belanda. Supaya dekat dengan keluarga. Karena istri (anak saya) tinggal di Amsterdam, dan menantu di Munster, Jerman. Bila weekend pulang. Naik kereta hanya dua jam.

Supaya mendapat tawaran di Belanda, dia berusaha mendapat dana hibah riset dari lembaga riset yang didanai Uni Eropa. Sebab, lembaga riset yang didanai Uni Eropa tergolong bergengsi. Selain dananya besar, hasil risetnya kualitas emas. Tentu kualitas riset akan lebih mengangkat reputasi universitas yang dinaungi. Upaya ini harus ditempuh menantu saya agar mendapatkan tawaran dari universitas riset bergengsi di Belanda.

Betul. Beberapa saat lalu, menantu saya dihubungi salah satu professor di universitas teknik terbaik Belanda dan Eropa. Akan dijadikan assistant professor (dosen tetap) di universitas tersebut, dengan syarat bisa membawa hibah riset yang didanai lembaga riset Uni Eropa. Tentu saat ini menantu saya bekerja keras untuk menggapainya. Saya sebagai orang tua bisanya hanya berdoa. Semoga berhasil.

Kalau saya rasakan, betapa mudahnya menjadi dosen tetap di Indonesia. Seperti yang pernah saya rasakan selama ini. Bukan mau membandingkan, dan kemudian mengambil kesimpulan bahwa universitas riset di Indonesia lebih rendah kualitasnya karena model rekrutmennya. Tentu itu terlalu premature. Sama sekali tidak. Semata-mata supaya kita belajar dari negara lain.

Bukankah pengalaman adalah guru paling baik. Kita bisa mengadopsinya bila memungkinkan. Dan, mungkin betul, pendapat bahwa kualitas universitas riset dan alumninya di negara maju memang sedemikian baik. Semua berstandar emas. Berbagai alasan di atas itulah, contoh penyebabnya.*(naz/c1)

SEJAK 1986, selain bekerja di pemerintahan, saya juga merangkap dosen di beberapa perguruan tinggi di Surabaya dan Malang. Ketika pindah tugas di Jakarta, saya tetap mengajar di dua universitas. Berhadapan dan berdiskusi dengan mahasiswa atau berinteraksi dengan para dosen, memberi kepuasan tersendiri.

Di awal mengajar, saya hanya berbekal ijazah sarjana. Sambil bekerja, saya mengambil program magister dan doktor. Bahkan saya memiliki pangkat akademik dan nomor induk dosen. Sampai sekarang, saya tercatat sebagai dosen tetap di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi AWS Surabaya. Saya juga menjadi ketua dewan pembina di Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur yang menaungi pendidikan tinggi dan menengah.

Ketika aturan kenaikan pangkat dan pengangkatan guru besar belum serumit dan seketat sekarang, saya selalu didorong mengurus pangkat. Apalagi setelah lulus pendidikan doktor, beberapa universitas meminta saya pindah, sampai dijanjikan akan dibantu mengurus jenjang pangkat dan guru besar.

Saya tidak bersedia. Bahkan, mengurus pangkat saja saya tidak mau. Jangan heran, pangkat saya tidak pernah naik sampai sekarang. Salah satu alasannya, karena profesi utama saya birokrat pemerintahan. Bukan dosen. Saya berkeyakinan, rasanya kurang etis. Apalagi guru besar kan jabatan akademik di perguruan tinggi. Bukan di birokrasi.

Saat bekerja di Jakarta, saya mendapat peluang menjadi anggota tim seleksi calon penerima beasiswa program magister dari Kementerian Kominfo yang akan dikirim ke luar negeri. Bidang ilmunya mencakup komunikasi, cyber law, komputer, telekomunikasi, dan lainnya, di beberapa universitas riset yang baik.

Saya ikut melakukan monitoring dan evaluasi kepada penerima beasiswa di Jerman atau Belanda. Berdiskusi dengan pihak universitas dan para penerima beasiswa untuk mengetahui progres dan kesulitan yang dihadapi.

Contoh kasusnya Belanda. Di sana ada dua jenis perguruan tinggi, research university dan applied science. Universitas riset jumlahnya sekitar 12. Namun, kualitasnya sangat tinggi. Semua universitas riset di Belanda masuk ranking 150 dunia. Bandingkan dengan universitas riset terbaik di Indonesia yang masih di peringkat 700-an. Di Belanda, yang banyak applied science university. Lulusannya disiapkan untuk bekerja. Sama seperti politeknik di Indonesia.

Menantu saya alumnus Vrije Universiteit Amsterdam. Lulus dengan predikat cum laude. Bidang yang ditekuni geologi. Kedua anak perempuan saya kebetulan juga lulusan master universitas riset di Belanda. Setelah lulus dan menikah dengan anak saya, dia minta pertimbangan kepada saya jika ingin mengambil postdoctoral di Carnegie Institution for Science di Washington DC. Itu lembaga riset bergengsi di Amerika Serikat.

Baca Juga :  Naik-Naik ke Gunung Lawu

Kontrak postdoctoral berdurasi dua tahun. Risetnya harus sesuai proposal yang telah disetujui. Ketika sudah menjalani postdoctoral di lembaga riset bergengsi, juga tulisannya dimuat di jurnal ilmiah bergengsi sesuai bidang keahliannya, maka itu akan memperbanyak pengalaman dan curriculum vitae. Universitas riset terbaik akan mempertimbangkan hal itu dalam menarik masuk seseorang menjadi tenaga pengajar mereka.

Jelang kontrak postdoctoral di Amerika berakhir, dia mencari lembaga riset yang bersedia mendanai dan menjadi tempat risetnya. University of Munster di Jerman bersedia karena sebelumnya menjalani postdoctoral di lembaga riset bergengsi dan pernah memublikasikan tulisan di jurnal ilmiah bergengsi. Pun, proposal risetnya juga didanai lembaga riset bergengsi. Tentu, nama dan reputasi universitas bisa ikut terangkat.

Setelah setahun riset di Jerman, menantu saya ancang-ancang bekerja dan mengajar di Belanda. Supaya dekat dengan keluarga. Karena istri (anak saya) tinggal di Amsterdam, dan menantu di Munster, Jerman. Bila weekend pulang. Naik kereta hanya dua jam.

Supaya mendapat tawaran di Belanda, dia berusaha mendapat dana hibah riset dari lembaga riset yang didanai Uni Eropa. Sebab, lembaga riset yang didanai Uni Eropa tergolong bergengsi. Selain dananya besar, hasil risetnya kualitas emas. Tentu kualitas riset akan lebih mengangkat reputasi universitas yang dinaungi. Upaya ini harus ditempuh menantu saya agar mendapatkan tawaran dari universitas riset bergengsi di Belanda.

Betul. Beberapa saat lalu, menantu saya dihubungi salah satu professor di universitas teknik terbaik Belanda dan Eropa. Akan dijadikan assistant professor (dosen tetap) di universitas tersebut, dengan syarat bisa membawa hibah riset yang didanai lembaga riset Uni Eropa. Tentu saat ini menantu saya bekerja keras untuk menggapainya. Saya sebagai orang tua bisanya hanya berdoa. Semoga berhasil.

Kalau saya rasakan, betapa mudahnya menjadi dosen tetap di Indonesia. Seperti yang pernah saya rasakan selama ini. Bukan mau membandingkan, dan kemudian mengambil kesimpulan bahwa universitas riset di Indonesia lebih rendah kualitasnya karena model rekrutmennya. Tentu itu terlalu premature. Sama sekali tidak. Semata-mata supaya kita belajar dari negara lain.

Bukankah pengalaman adalah guru paling baik. Kita bisa mengadopsinya bila memungkinkan. Dan, mungkin betul, pendapat bahwa kualitas universitas riset dan alumninya di negara maju memang sedemikian baik. Semua berstandar emas. Berbagai alasan di atas itulah, contoh penyebabnya.*(naz/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/