alexametrics
25.8 C
Madiun
Tuesday, May 17, 2022

Hari Pers Nasional 2022

BAGI saya, puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun ini terasa berbeda. Tahun kemarin, melalui rubrik ini, saya diminta menulis secara khusus. Malah ada liputan khusus juga. Tahun ini, seperti saya tulis beberapa minggu yang lalu, saya mendapat Anugerah Kebudayaan 2022 dari PWI pusat.

Dulu, saat masih bekerja di Jakarta, saya menghadiri HPN setiap tahun mewakili kementerian. Kalau saat ini, betul-betul atas nama pribadi. Ya, undangan dari sebuah lembaga atas apa yang selama ini saya lakukan. Menulis di berbagai media. Seperti yang selama ini saya yakini, pengakuan atas perbuatan baik itu akan datang dengan sendirinya.

Sebelum menghadiri undangan HPN 2022 di Kendari, saya harus memberi kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tema yang diminta adalah Pembentukan dan Penguatan Idealisme Mahasiswa Melalui Penulisan Karya Ilmiah. Pesertanya dosen dan mahasiswa FISIP.

Tentu sebuah kehormatan bagi saya untuk memberi kuliah umum. Sebab, setelah pindah tugas ke Jakarta, saya tidak bisa lagi mengajar di UMM. Luar biasa rindu berhadapan dengan mahasiswa dan berdiskusi secara terbuka. Saling memberi untuk kamajuan dan membentuk ekosistem akademik yang baik melalui tulisan.

Ada dua pertanyaan menarik yang menurut saya selalu dihadapi penulis pemula seperti mahasiswa. Pertama, bagaimana menulis topik yang menarik. Kedua, bagaimana memelihara mood sekaligus menuangkan ide dalam sebuah tulisan. Katanya, saya sudah begitu lama menulis, tapi kok tidak pernah kehabisan ide.

Saya sendiri juga tidak habis mengerti. Kadang kalau ditanya juga bingung menjawab. Karena sering kali orang menulis katanya harus ada mood. Tapi, saya pernah diajari oleh pimpinan saya ketika dipaksa menjadi dosen. Waktu itu masih pegawai baru. Jawaban saya sama seperti orang kebanyakan. Ragu-ragu akan kemampuan karena belum pernah mengajar. Juga belum punya pengalaman.

Namun, jawaban yang saya dapatkan sungguh di luar dugaan. ‘’Dik, orang bisa itu karena ada dua sebab. Satu, dipersiapkan secara matang, dan itu perlu waktu. Kedua, dipaksa. Walaupun dipaksa, kalau yang bersangkutan ingin maju, akan muncul kemampuan lebihnya. Anda termasuk kriteria yang saya paksa. Masih ada waktu untuk mempersiapkan diri.” Demikian saran pimpinan saya.

Betul, dengan persiapan singkat, saya akhirnya menjadi terbiasa mengajar. Bahkan kecanduan. Sesibuk apa pun, saya tetap mengajar. Bahkan masih bisa menulis. Sepekan sekali di majalah Jawa sejak 2009. Demikian juga di Jawa Pos Radar Madiun, sudah lebih dari tiga tahun. Malah sekarang ditambah lagi satu media.

Menulis tidak lagi tergantung mood. Menulis sudah menjadi kewajiban. Justru mood yang akan mengikuti. Ketika misalnya ada tekanan pekerjaan, atau masalah lainnya, justru menulis seperti sebuah pelampiasan agar tidak terjebak persoalan. Walau mood sedang tidak baik. Mood yang tidak baik tidak boleh mendikte kita menjadi tidak produktif.

Baca Juga :  Kang Woto Rayu PT SMF Beri Kredit Lunak bagi UMKM Magetan

Kalau menulis sudah menjadi keharusan, apalagi dikejar deadline, pasti akan berjalan mengalir. Maka, perlu latihan dan jam terbang. Jujur, saya sejak dulu selalu menghargai waktu. Karena saya sadar waktu tidak pernah kembali. Kalau tidak kita gunakan dengan baik, betapa ruginya kita.

Lalu, bagaimana mencari topik atau masalah yang menarik? Pada hakikatnya, masalah adalah kesenjangan antara seharusnya dengan senyatanya. Tidak semua kesenjangan itu menarik. Lalu, apakah unik. Selain itu, apakah sudah banyak yang membahas topik sejenis.

Sebagai contoh, saya menulis artikel berbahasa Indonesia di media cetak sejak 1986. Kemudian, sejak 1990-an saya mulai menulis dalam bahasa Jawa. Salah satu pertimbangannya, sudah banyak orang yang menulis artikel dalam bahasa Indonesia. Namun, sangat sedikit yang mau menulis dalam bahasa Jawa. Malah, pada 2009 saya mulai punya rubrik tetap.

Menjelang pensiun pada 2017, saya menerbitkan autobiografi dalam bahasa Jawa. Saya tulis sendiri selama enam tahun. Kalau saya terbitkan dalam bahasa Indonesia, siapa yang akan membaca. Saya bukan siapa-siapa. Kecuali saya presiden atau setingkat menteri. Tentu akan lebih menarik. Atau tokoh sejarah yang mewarnai sebuah peristiwa.

Menulis autobiografi dalam bahasa Jawa menurut saya justru unik. Pertama, sebagai catatan perjalanan hidup yang nanti bisa dibaca anak cucu. Kedua, bisa sebagai bahan bacaan bagi masyarakat Jawa, mengingat kini sangat sedikit buku berbahasa Jawa. Ketiga, tentu unik. Belum pernah ada yang menulis autobiografi dalam bahasa Jawa. Karena itulah, justru mendapat rekor Muri sebagai ’’autobiografi pertama dalam bahasa Jawa’’.

Karena menulis rutin di Jawa Pos Radar Madiun selama lebih dari tiga tahun, maka tahun ini saya juga mendapat rekor Muri sebagai ’’bupati yang menulis di media massa dalam dua bahasa secara berkesinambungan terlama’’. Penghargaan tersebut saya persembahkan untuk masyarakat Magetan. Tempat saya mengabdi saat ini. Bayangkan, saya menulis di majalah Panjebar Semangat sudah lebih dari empat belas tahun, setiap pekan.

Keputusan saya ternyata tidak salah. Kalau saya menulis hanya dalam bahasa Indonesia, akan sulit mendapat rekor. Kalaupun dapat, akan mudah dipecahkan. Tapi, dengan dua bahasa sekaligus, tentu akan sulit dipecahkan oleh pejabat politik seperti bupati. Namun, bukan rekor yang menjadi tujuan utama. Keputusan memilih yang unik itulah yang kemudian membuahkan rekor.

Salah satu alasan saya konsisten menulis artikel dalam bahasa Jawa sedemikian lama itu karena orang lain tidak mau melakukannya. Atas pencapaian itu saya diberikan Anugerah Kebudayaan 2022 dari PWI pusat. Penghargaan diberikan di puncak peringatan HPN 2022 di Kendari, 9 Februari 2022. Perayaan HPN tahun ini memiliki arti khusus bagi saya pribadi. Selamat HPN 2022. (penulis adalah Bupati Magetan Suprawoto/naz/c1)

BAGI saya, puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun ini terasa berbeda. Tahun kemarin, melalui rubrik ini, saya diminta menulis secara khusus. Malah ada liputan khusus juga. Tahun ini, seperti saya tulis beberapa minggu yang lalu, saya mendapat Anugerah Kebudayaan 2022 dari PWI pusat.

Dulu, saat masih bekerja di Jakarta, saya menghadiri HPN setiap tahun mewakili kementerian. Kalau saat ini, betul-betul atas nama pribadi. Ya, undangan dari sebuah lembaga atas apa yang selama ini saya lakukan. Menulis di berbagai media. Seperti yang selama ini saya yakini, pengakuan atas perbuatan baik itu akan datang dengan sendirinya.

Sebelum menghadiri undangan HPN 2022 di Kendari, saya harus memberi kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tema yang diminta adalah Pembentukan dan Penguatan Idealisme Mahasiswa Melalui Penulisan Karya Ilmiah. Pesertanya dosen dan mahasiswa FISIP.

Tentu sebuah kehormatan bagi saya untuk memberi kuliah umum. Sebab, setelah pindah tugas ke Jakarta, saya tidak bisa lagi mengajar di UMM. Luar biasa rindu berhadapan dengan mahasiswa dan berdiskusi secara terbuka. Saling memberi untuk kamajuan dan membentuk ekosistem akademik yang baik melalui tulisan.

Ada dua pertanyaan menarik yang menurut saya selalu dihadapi penulis pemula seperti mahasiswa. Pertama, bagaimana menulis topik yang menarik. Kedua, bagaimana memelihara mood sekaligus menuangkan ide dalam sebuah tulisan. Katanya, saya sudah begitu lama menulis, tapi kok tidak pernah kehabisan ide.

Saya sendiri juga tidak habis mengerti. Kadang kalau ditanya juga bingung menjawab. Karena sering kali orang menulis katanya harus ada mood. Tapi, saya pernah diajari oleh pimpinan saya ketika dipaksa menjadi dosen. Waktu itu masih pegawai baru. Jawaban saya sama seperti orang kebanyakan. Ragu-ragu akan kemampuan karena belum pernah mengajar. Juga belum punya pengalaman.

Namun, jawaban yang saya dapatkan sungguh di luar dugaan. ‘’Dik, orang bisa itu karena ada dua sebab. Satu, dipersiapkan secara matang, dan itu perlu waktu. Kedua, dipaksa. Walaupun dipaksa, kalau yang bersangkutan ingin maju, akan muncul kemampuan lebihnya. Anda termasuk kriteria yang saya paksa. Masih ada waktu untuk mempersiapkan diri.” Demikian saran pimpinan saya.

Betul, dengan persiapan singkat, saya akhirnya menjadi terbiasa mengajar. Bahkan kecanduan. Sesibuk apa pun, saya tetap mengajar. Bahkan masih bisa menulis. Sepekan sekali di majalah Jawa sejak 2009. Demikian juga di Jawa Pos Radar Madiun, sudah lebih dari tiga tahun. Malah sekarang ditambah lagi satu media.

Menulis tidak lagi tergantung mood. Menulis sudah menjadi kewajiban. Justru mood yang akan mengikuti. Ketika misalnya ada tekanan pekerjaan, atau masalah lainnya, justru menulis seperti sebuah pelampiasan agar tidak terjebak persoalan. Walau mood sedang tidak baik. Mood yang tidak baik tidak boleh mendikte kita menjadi tidak produktif.

Baca Juga :  Kang Woto Rayu PT SMF Beri Kredit Lunak bagi UMKM Magetan

Kalau menulis sudah menjadi keharusan, apalagi dikejar deadline, pasti akan berjalan mengalir. Maka, perlu latihan dan jam terbang. Jujur, saya sejak dulu selalu menghargai waktu. Karena saya sadar waktu tidak pernah kembali. Kalau tidak kita gunakan dengan baik, betapa ruginya kita.

Lalu, bagaimana mencari topik atau masalah yang menarik? Pada hakikatnya, masalah adalah kesenjangan antara seharusnya dengan senyatanya. Tidak semua kesenjangan itu menarik. Lalu, apakah unik. Selain itu, apakah sudah banyak yang membahas topik sejenis.

Sebagai contoh, saya menulis artikel berbahasa Indonesia di media cetak sejak 1986. Kemudian, sejak 1990-an saya mulai menulis dalam bahasa Jawa. Salah satu pertimbangannya, sudah banyak orang yang menulis artikel dalam bahasa Indonesia. Namun, sangat sedikit yang mau menulis dalam bahasa Jawa. Malah, pada 2009 saya mulai punya rubrik tetap.

Menjelang pensiun pada 2017, saya menerbitkan autobiografi dalam bahasa Jawa. Saya tulis sendiri selama enam tahun. Kalau saya terbitkan dalam bahasa Indonesia, siapa yang akan membaca. Saya bukan siapa-siapa. Kecuali saya presiden atau setingkat menteri. Tentu akan lebih menarik. Atau tokoh sejarah yang mewarnai sebuah peristiwa.

Menulis autobiografi dalam bahasa Jawa menurut saya justru unik. Pertama, sebagai catatan perjalanan hidup yang nanti bisa dibaca anak cucu. Kedua, bisa sebagai bahan bacaan bagi masyarakat Jawa, mengingat kini sangat sedikit buku berbahasa Jawa. Ketiga, tentu unik. Belum pernah ada yang menulis autobiografi dalam bahasa Jawa. Karena itulah, justru mendapat rekor Muri sebagai ’’autobiografi pertama dalam bahasa Jawa’’.

Karena menulis rutin di Jawa Pos Radar Madiun selama lebih dari tiga tahun, maka tahun ini saya juga mendapat rekor Muri sebagai ’’bupati yang menulis di media massa dalam dua bahasa secara berkesinambungan terlama’’. Penghargaan tersebut saya persembahkan untuk masyarakat Magetan. Tempat saya mengabdi saat ini. Bayangkan, saya menulis di majalah Panjebar Semangat sudah lebih dari empat belas tahun, setiap pekan.

Keputusan saya ternyata tidak salah. Kalau saya menulis hanya dalam bahasa Indonesia, akan sulit mendapat rekor. Kalaupun dapat, akan mudah dipecahkan. Tapi, dengan dua bahasa sekaligus, tentu akan sulit dipecahkan oleh pejabat politik seperti bupati. Namun, bukan rekor yang menjadi tujuan utama. Keputusan memilih yang unik itulah yang kemudian membuahkan rekor.

Salah satu alasan saya konsisten menulis artikel dalam bahasa Jawa sedemikian lama itu karena orang lain tidak mau melakukannya. Atas pencapaian itu saya diberikan Anugerah Kebudayaan 2022 dari PWI pusat. Penghargaan diberikan di puncak peringatan HPN 2022 di Kendari, 9 Februari 2022. Perayaan HPN tahun ini memiliki arti khusus bagi saya pribadi. Selamat HPN 2022. (penulis adalah Bupati Magetan Suprawoto/naz/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/