alexametrics
28.7 C
Madiun
Sunday, May 22, 2022

Catatan Perjalanan Umrah Ladima Tour & Travel Semasih Pandemi Covid-19 (1)

Meski sangat rindu Baitullah, banyak jemaah enggan berangkat umrah karena takut tes polymerase chain reaction (PCR) berkali-kali dan karantina lima hari saat tiba di Saudi Arabia. Namun, sejak 5 Maret 2022 lalu, pemerintah Saudi Arabia sudah mencabut aturan tersebut. Berikut catatan H Soenarwoto, pimpinan Ladima Tour & Travel.

Tidak Dikarantina, Jemaah Langsung ke Nabawi

SALAM dan ucap selamat datang di Kota Madinah Al Munawarah meluncur dari bibir Ustad Jihad Abu Bakar Balbeid. Ucapan itu ditujukan kepada jemaah “Umrah Istimewa” Ladima Tour & Travel saat penjemputan di halaman Bandara Pangeran Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah, Kamis (24/3) sore.

Terlihat jelas kerinduan pada Tanah Suci di wajah para jemaah. Mafhum, karena pemerintah Saudi Arabia menutup pelaksanaan ibadah umrah dua tahun terakhir akibat pandemi Covid-19. ‘’Kepada jemaah yang sekarang sudah tiba di Saudi, kami ucapkan selamat menjalankan ibadah umrah,’’ sambut Ustad Jihad dengan ramah.

Tak hanya ucapan selamat datang, Ustad Jihad juga bercerita panjang lebar terkait kondisi di Saudi. Sejak 5 Maret 2022 lalu, pemerintah Saudi Arabia mencabut sejumlah aturan tentang protokol kesehatan bagi jemaah umrah dari luar negeri. Di antaranya, boleh tidak jaga jarak, tidak lagi tes PCR berkali-kali, dan tidak dikarantina lima hari saat kedatangan.

Tes PCR hanya sekali ketika hendak pulang ke tanah air. Itu pun karena aturan di Indonesia, bagi orang yang datang dari luar negeri harus menunjukkan hasil tes PCR dari negara mereka terbang. Jika tak ada aturan itu, Saudi tak melakukan bagi jemaah yang pulang ke negaranya.

Pada awal umrah dibuka bersamaan meningkatnya penderita Covid-19 varian Omicron, seluruh jemaah dari luar negeri yang tiba di Saudi wajib tes PCR dan karantina lima hari di hotel. Ketentuan itulah yang paling “ditakuti” calon jemaah umrah. Apalagi, saat karantina malah terpapar Covid-19. ‘’Alhamdulillah, sekarang sudah tidak diwajibkan lagi tes PCR dan karantina,’’ tutur Ustad Jihad.

Sehingga, begitu datang di Madinah, jemaah dapat langsung ke Masjid Nabawi. Sebelumnya, jangankan ke masjid, keluar kamar hotel pun dilarang. Jemaah tidak boleh bertemu siapa pun. Untuk makan hanya diberi nasi kotak dan sebotol air minum. Minimalis.

Baca Juga :  Catatan Perjalanan Umrah Ladima Tour & Travel Semasih Pandemi Covid-19 (2)

Sekarang makannya sudah full board atau prasmanan seperti sebelum terjadinya pandemi Covid-19. Menunya pun beragam. Namun, yang membuat jemaah sangat senang adalah begitu tiba langsung bisa ke Masjid Nabawi. Begitu pun yang turun di Jeddah dan langsung masuk Makkah.

Meski begitu,  jemaah harus tetap mengenakan masker dan sering memakai hand sanitizer di mana saja selama di Tanah Suci. Mengingat hingga kini Covid-19 belum benar-benar hilang dari muka bumi. ‘’Terutama saat di Masjid Nabawi dan Masjidilharam,’’ pinta Ustad Jihad.

Mendengar informasi itu, jemaah pun gembira dan bersyukur. ‘’Alhamdulillah, rupanya saya gagal berangkat umrah Februari lalu karena terpapar Covid-19 ada berkahnya. Karena, begitu datang di Saudi sekarang tidak dikarantina. Begitu datang langsung bisa ibadah. Sore datang, malamnya sudah bisa ikut jemaah salat Magrib dan Isya di Masjid Nabawi,’’ ujar Widodo, pemilik Warung Surya Alam, Ponorogo.

Hanya, sedikit kurang komplet. Karena Widodo sendirian, tidak bisa bareng istrinya. Padahal, daftar umrah berdua. Saat itu, 10 Februari 2022, Widodo gagal berangkat umrah karena hasil tes PCR-nya positif atau terpapar Covid-19. Sedangkan istrinya dinyatakan negatif, sehingga bisa berangkat.

Widodo baru berangkat umrah 24 Maret 2022. Serupa dengan Sulastri yang gagal berangkat umrah 10 Februari lalu. Dia juga positif, sementara suaminya negatif. Sedangkan aturan umrah di masa pandemi, bagi jemaah yang positif ditunda keberangkatannya dan yang negatif wajib berangkat. Sebab, jika tidak berangkat, maka dianggap hangus. Tak ada reschedule.

‘’Ini qadarullah. Inginnya pergi bersama suami, kok saat keberangkatan 10 Februari itu saya positif dan suami negatif. Suami berangkat dulu. Saya baru 24 Maret ini bisa berangkat. Ya sudah, nggak apa-apa, usia juga sudah tua. Nanti saat meninggal dunia juga sendiri-sendiri,’’ seloroh Sulastri. ***(sat/c1)

Meski sangat rindu Baitullah, banyak jemaah enggan berangkat umrah karena takut tes polymerase chain reaction (PCR) berkali-kali dan karantina lima hari saat tiba di Saudi Arabia. Namun, sejak 5 Maret 2022 lalu, pemerintah Saudi Arabia sudah mencabut aturan tersebut. Berikut catatan H Soenarwoto, pimpinan Ladima Tour & Travel.

Tidak Dikarantina, Jemaah Langsung ke Nabawi

SALAM dan ucap selamat datang di Kota Madinah Al Munawarah meluncur dari bibir Ustad Jihad Abu Bakar Balbeid. Ucapan itu ditujukan kepada jemaah “Umrah Istimewa” Ladima Tour & Travel saat penjemputan di halaman Bandara Pangeran Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah, Kamis (24/3) sore.

Terlihat jelas kerinduan pada Tanah Suci di wajah para jemaah. Mafhum, karena pemerintah Saudi Arabia menutup pelaksanaan ibadah umrah dua tahun terakhir akibat pandemi Covid-19. ‘’Kepada jemaah yang sekarang sudah tiba di Saudi, kami ucapkan selamat menjalankan ibadah umrah,’’ sambut Ustad Jihad dengan ramah.

Tak hanya ucapan selamat datang, Ustad Jihad juga bercerita panjang lebar terkait kondisi di Saudi. Sejak 5 Maret 2022 lalu, pemerintah Saudi Arabia mencabut sejumlah aturan tentang protokol kesehatan bagi jemaah umrah dari luar negeri. Di antaranya, boleh tidak jaga jarak, tidak lagi tes PCR berkali-kali, dan tidak dikarantina lima hari saat kedatangan.

Tes PCR hanya sekali ketika hendak pulang ke tanah air. Itu pun karena aturan di Indonesia, bagi orang yang datang dari luar negeri harus menunjukkan hasil tes PCR dari negara mereka terbang. Jika tak ada aturan itu, Saudi tak melakukan bagi jemaah yang pulang ke negaranya.

Pada awal umrah dibuka bersamaan meningkatnya penderita Covid-19 varian Omicron, seluruh jemaah dari luar negeri yang tiba di Saudi wajib tes PCR dan karantina lima hari di hotel. Ketentuan itulah yang paling “ditakuti” calon jemaah umrah. Apalagi, saat karantina malah terpapar Covid-19. ‘’Alhamdulillah, sekarang sudah tidak diwajibkan lagi tes PCR dan karantina,’’ tutur Ustad Jihad.

Sehingga, begitu datang di Madinah, jemaah dapat langsung ke Masjid Nabawi. Sebelumnya, jangankan ke masjid, keluar kamar hotel pun dilarang. Jemaah tidak boleh bertemu siapa pun. Untuk makan hanya diberi nasi kotak dan sebotol air minum. Minimalis.

Baca Juga :  Catatan Perjalanan Umrah Istimewa Ladima Semasih Covid-19 (10/Habis)

Sekarang makannya sudah full board atau prasmanan seperti sebelum terjadinya pandemi Covid-19. Menunya pun beragam. Namun, yang membuat jemaah sangat senang adalah begitu tiba langsung bisa ke Masjid Nabawi. Begitu pun yang turun di Jeddah dan langsung masuk Makkah.

Meski begitu,  jemaah harus tetap mengenakan masker dan sering memakai hand sanitizer di mana saja selama di Tanah Suci. Mengingat hingga kini Covid-19 belum benar-benar hilang dari muka bumi. ‘’Terutama saat di Masjid Nabawi dan Masjidilharam,’’ pinta Ustad Jihad.

Mendengar informasi itu, jemaah pun gembira dan bersyukur. ‘’Alhamdulillah, rupanya saya gagal berangkat umrah Februari lalu karena terpapar Covid-19 ada berkahnya. Karena, begitu datang di Saudi sekarang tidak dikarantina. Begitu datang langsung bisa ibadah. Sore datang, malamnya sudah bisa ikut jemaah salat Magrib dan Isya di Masjid Nabawi,’’ ujar Widodo, pemilik Warung Surya Alam, Ponorogo.

Hanya, sedikit kurang komplet. Karena Widodo sendirian, tidak bisa bareng istrinya. Padahal, daftar umrah berdua. Saat itu, 10 Februari 2022, Widodo gagal berangkat umrah karena hasil tes PCR-nya positif atau terpapar Covid-19. Sedangkan istrinya dinyatakan negatif, sehingga bisa berangkat.

Widodo baru berangkat umrah 24 Maret 2022. Serupa dengan Sulastri yang gagal berangkat umrah 10 Februari lalu. Dia juga positif, sementara suaminya negatif. Sedangkan aturan umrah di masa pandemi, bagi jemaah yang positif ditunda keberangkatannya dan yang negatif wajib berangkat. Sebab, jika tidak berangkat, maka dianggap hangus. Tak ada reschedule.

‘’Ini qadarullah. Inginnya pergi bersama suami, kok saat keberangkatan 10 Februari itu saya positif dan suami negatif. Suami berangkat dulu. Saya baru 24 Maret ini bisa berangkat. Ya sudah, nggak apa-apa, usia juga sudah tua. Nanti saat meninggal dunia juga sendiri-sendiri,’’ seloroh Sulastri. ***(sat/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/