alexametrics
29.9 C
Madiun
Friday, May 20, 2022

Catatan Perjalanan Umrah Ladima Tour & Travel Semasih Pandemi Covid-19 (2)

Sepekan jelang Ramadan 1443 Hijriah, suhu udara Kota Madinah Al Munawarah dingin disertai angin kencang. Pada siang hari suhu udara mencapai 18 derajat Celsius dan pada dini hari di bawah 16 derajat Celsius.  Berikut catatan H Soenarwoto, pimpinan Ladima Tour & Travel.

—————————-

Tak Ada Lagi Parade Batuk dan Tangis Bayi

SIANG menjelang sore. Matahari masih bersinar terang di atas langit Kota Madinah Al Munawarah. Tapi, tak menyengat. Sebaliknya, ketika rombongan Indonesia -termasuk jemaah umrah Ladima Tour & Travel- mendarat di Madinah, suhu udara sangat dingin.

Untuk menangkal dingin, jemaah dari Indonesia segera mengenakan jaket. Begitu keluar bandara ada yang cepat menutup kepalanya dengan serban atau mengalungkan slayer untuk menghangatkan badan. Apalagi angin juga berembus kencang, kian menebalkan suhu udara tambah dingin. Berrrr….

Jemaah segera masuk bus setelah keluar bandara. ‘’Udara di luar sangat dingin,  monggo jemaah langsung saja naik bus agar tidak masuk angin. Kita masih lama tinggal di Tanah Suci, jemaah harus selalu jaga kesehatan,’’ pinta Hj Arie Juwariah, owner Ladima Tour & Travel, kepada rombongannya.

Di Madinah memang masih musim dingin plus angin kencang. Biasanya, menjelang bulan suci, cuaca di kota ini memasuki musim panas. Ramadan tambah panas, dan saat musim haji suhu udara lebih panas lagi. ‘’Tapi entah, saat ini kok masih dingin. Mungkin pengaruh global warming atau perubahan iklim,’’ sambung Ustad Jihad Abubakar Balbeid, mutawif jemaah Ladima keberangkatan 24 Maret 2022.

Ketika itu suhu udara di Kota Madinah 16-18 derajat Celsius. Pada dini hari malah bisa mencapai 14-15 derajat Celsius. Membuat tubuh jemaah Indonesia menggigil. Dalam cuaca seperti ini, biasanya bermunculan ragam penyakit mendera jemaah. Seperti batuk, pilek, demam, gatal-gatal, tubuh bersisik, serta bibir hingga telapak kaki pecah-pecah dan hidung bisa mimisan. Umumnya, batuk dan pilek.

Baca Juga :  Calon Jemaah Haji Kota Madiun Berangkat 4 Juni

Tapi, pada musim dingin ini, cuma sedikit jemaah yang batuk dan pilek. Buktinya, saat jemaah salat dan iktikaf di Masjid Nabawi tak terdengar parade batuk. Padahal, biasanya mulai dari saf depan hingga belakang saling bersahutan. Grak grok grak grok.... Silih berganti seperti sedang mengikuti parade batuk. ‘’Alhamdulillah, sekarang tak ada parade batuk di Masjid Nabawi,’’ ucap Ustad Jihad.

Dugaannya, ada pengaruh dari jemaah umrah yang sudah diseleksi. Yakni, sudah divaksin komplet dan di-booster Covid-19. Sehingga, jemaah yang datang di Tanah Suci sehat semua. ‘’Kualitas udara pun masih bersih dan tidak berdebu, karena dua tahun tidak ada jemaah umrah dan haji dari luar ke Tanah Suci,’’ imbuhnya.

Pun, tak lagi terdengar tangis bayi dan celoteh bocah di Masjid Nabawi. Sekarang suasananya lebih tenang. Tidak seperti dulu lagi saat sebelum pandemi Covid-19. ‘’Sekarang ibadah jemaah tambah khusyuk,’’ tutur ustad yang masih bujang itu.

Suasana tersebut tercipta karena jemaah emak-emak dilarang membawa balita ke dalam Masjid Nabawi. Apalagi, saat hendak salat lima waktu (fardu) hendak dilaksanakan. Ibu-ibu yang membawa balita harus beribadah di pelataran masjid. Itu pun di belakang, pinggir pojok kiri atau kanan pelataran. Pelarangan balita konon karena mereka belum divaksin. ***(sat/c1)

Sepekan jelang Ramadan 1443 Hijriah, suhu udara Kota Madinah Al Munawarah dingin disertai angin kencang. Pada siang hari suhu udara mencapai 18 derajat Celsius dan pada dini hari di bawah 16 derajat Celsius.  Berikut catatan H Soenarwoto, pimpinan Ladima Tour & Travel.

—————————-

Tak Ada Lagi Parade Batuk dan Tangis Bayi

SIANG menjelang sore. Matahari masih bersinar terang di atas langit Kota Madinah Al Munawarah. Tapi, tak menyengat. Sebaliknya, ketika rombongan Indonesia -termasuk jemaah umrah Ladima Tour & Travel- mendarat di Madinah, suhu udara sangat dingin.

Untuk menangkal dingin, jemaah dari Indonesia segera mengenakan jaket. Begitu keluar bandara ada yang cepat menutup kepalanya dengan serban atau mengalungkan slayer untuk menghangatkan badan. Apalagi angin juga berembus kencang, kian menebalkan suhu udara tambah dingin. Berrrr….

Jemaah segera masuk bus setelah keluar bandara. ‘’Udara di luar sangat dingin,  monggo jemaah langsung saja naik bus agar tidak masuk angin. Kita masih lama tinggal di Tanah Suci, jemaah harus selalu jaga kesehatan,’’ pinta Hj Arie Juwariah, owner Ladima Tour & Travel, kepada rombongannya.

Di Madinah memang masih musim dingin plus angin kencang. Biasanya, menjelang bulan suci, cuaca di kota ini memasuki musim panas. Ramadan tambah panas, dan saat musim haji suhu udara lebih panas lagi. ‘’Tapi entah, saat ini kok masih dingin. Mungkin pengaruh global warming atau perubahan iklim,’’ sambung Ustad Jihad Abubakar Balbeid, mutawif jemaah Ladima keberangkatan 24 Maret 2022.

Ketika itu suhu udara di Kota Madinah 16-18 derajat Celsius. Pada dini hari malah bisa mencapai 14-15 derajat Celsius. Membuat tubuh jemaah Indonesia menggigil. Dalam cuaca seperti ini, biasanya bermunculan ragam penyakit mendera jemaah. Seperti batuk, pilek, demam, gatal-gatal, tubuh bersisik, serta bibir hingga telapak kaki pecah-pecah dan hidung bisa mimisan. Umumnya, batuk dan pilek.

Baca Juga :  Antrean CJH Magetan ke Tanah Suci Mencapai 32 Tahun

Tapi, pada musim dingin ini, cuma sedikit jemaah yang batuk dan pilek. Buktinya, saat jemaah salat dan iktikaf di Masjid Nabawi tak terdengar parade batuk. Padahal, biasanya mulai dari saf depan hingga belakang saling bersahutan. Grak grok grak grok.... Silih berganti seperti sedang mengikuti parade batuk. ‘’Alhamdulillah, sekarang tak ada parade batuk di Masjid Nabawi,’’ ucap Ustad Jihad.

Dugaannya, ada pengaruh dari jemaah umrah yang sudah diseleksi. Yakni, sudah divaksin komplet dan di-booster Covid-19. Sehingga, jemaah yang datang di Tanah Suci sehat semua. ‘’Kualitas udara pun masih bersih dan tidak berdebu, karena dua tahun tidak ada jemaah umrah dan haji dari luar ke Tanah Suci,’’ imbuhnya.

Pun, tak lagi terdengar tangis bayi dan celoteh bocah di Masjid Nabawi. Sekarang suasananya lebih tenang. Tidak seperti dulu lagi saat sebelum pandemi Covid-19. ‘’Sekarang ibadah jemaah tambah khusyuk,’’ tutur ustad yang masih bujang itu.

Suasana tersebut tercipta karena jemaah emak-emak dilarang membawa balita ke dalam Masjid Nabawi. Apalagi, saat hendak salat lima waktu (fardu) hendak dilaksanakan. Ibu-ibu yang membawa balita harus beribadah di pelataran masjid. Itu pun di belakang, pinggir pojok kiri atau kanan pelataran. Pelarangan balita konon karena mereka belum divaksin. ***(sat/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/