alexametrics
24.5 C
Madiun
Thursday, May 26, 2022

Catatan Perjalanan Umrah Ladima Tour & Travel Semasih Covid-19 (3)

Jawa Pos Radar Madiun – Hotel dan toko di kawasan Masjid Nabawi, Madinah, tutup selama pandemi Covid-19. Bahkan, ketika pelaksanaan ibadah umrah sudah dibuka lagi, hingga kini tak sedikit hotel dan toko yang belum buka. Berikut catatan H SOENARWOTO, pimpinan Ladima Tour & Travel.

Ketika Malam Madinah seperti Kota Hantu

‘’ALHAMDULILLAH, sejak pelaksanaan ibadah umrah dibuka kembali, Kota Madinah menjadi hidup kembali, seperti sebelum pandemi Covid-19. Kota Madinah kini mulai didatangi banyak jemaah dari berbagai penjuru dunia,’’ tutur Ustadah Ririn, mutawifah asal Jember yang tetap tinggal di Kota Madinah selama pandemi Covid-19. Tidak mudik ke Indonesia.

Ketika Covid-19 mewabah, pemerintah Kerajaan Arab Saudi menutup sementara pelaksanaan ibadah umrah. Dampaknya, Kota Madinah sangat sepi. Tak ada jemaah mancanegara yang datang. Bahkan, penduduk setempat hanya bisa dihitung jari yang ke Masjid Nabawi. Pun, hanya saat salat lima waktu (fardu).

Apalagi pada malam hari, Kota Madinah malah seperti kota mati. Sebab, hotel-hotel di sekitar Nabawi yang biasanya menjadi tempat menginap jutaan jemaah umrah dan haji semuanya tutup. Tidak beroperasi, karena tidak ada jemaah yang menginap.

Biasanya, sepanjang malam hingga pagi, lampu penerangan menyala di semua sudut halaman, lobi, dan seluruh kamar. Terang benderang. Juga lampu penerangan jalan semua hidup. Bersinar terang. Tapi, saat pandemi Covid-19, yang menyala cuma terbatas. Khususnya lampu penerangan jalan menuju Masjid Nabawi.

‘’Jika malam hari Kota Madinah menjadi remang-remang. Bahkan, seperti kota hantu. Menyeramkan. Saya takut kalau malam hari lewat kawasan hotel sekitar Masjid Nabawi ini. Karena sepi dan gelap gulita,’’ ungkap Ustadah Ririn.

Baca Juga :  Pemerintah Usulkan Biaya Haji Sebesar Rp 42 Juta

Padahal, sepanjang sejarahnya, Kota Madinah tidak pernah mati. Siang dan malam selalu hidup. Apalagi dalam dasawarsa belakangan ini. Berjuta umat Islam dari segala penjuru dunia mendatangi Tanah Suci (Madinah dan Makkah) untuk melaksanakan umrah atau haji. Di kedua kota itu para jemaah lalu-lalang siang dan malam untuk beribadah.

Mereka datang dan pergi silih berganti untuk menziarahi Nabi Muhammad SAW dan beribadah di Masjid Nabawi. Setiap saat, setiap waktu, tiada henti. ‘’Hanya saat pandemi Covid-19 ini Kota Madinah sepi, bahkan bisa dibilang mati. Covid-19 memang membuat semuanya terdampak, tak terkecuali pelaksanaan ibadah umrah dan haji,’’ ujarnya.

Bukan hanya hotel-hotel yang tutup, toko-toko dan pusat perbelanjaan juga. Alasannya sama, karena tak ada jemaah umrah datang. Akibatnya, selama dua tahun tak sedikit toko yang gulung tikar.

‘’Toko-toko di bawah hotel itu banyak yang masih tutup meski sekarang pelaksanaan ibadah umrah dibuka kembali. Itu karena pemiliknya sudah tak mampu meneruskan usahanya. Tak mampu membayar sewa toko dan pajak,’’ ungkap sejumlah penjaga toko.

Toko-toko itu pula yang selama ini menghidupkan Kota Madinah, seperti halnya hotel. Siang malam buka tiada henti menjajakan dagangan kepada jemaah. Ketika toko-toko itu tutup, denyut kehidupan di Kota Madinah pun terhenti.

‘’Hidupnya Kota Madinah adalah kehadiran para jemaah. Dengan dibukanya pelaksanaan ibadah umrah sekarang ini, warga Kota Madinah pun sangat  senang. Selain tidak sepi, perekonomian bangkit lagi,’’ jelasnya.*** (sat/c1)

Jawa Pos Radar Madiun – Hotel dan toko di kawasan Masjid Nabawi, Madinah, tutup selama pandemi Covid-19. Bahkan, ketika pelaksanaan ibadah umrah sudah dibuka lagi, hingga kini tak sedikit hotel dan toko yang belum buka. Berikut catatan H SOENARWOTO, pimpinan Ladima Tour & Travel.

Ketika Malam Madinah seperti Kota Hantu

‘’ALHAMDULILLAH, sejak pelaksanaan ibadah umrah dibuka kembali, Kota Madinah menjadi hidup kembali, seperti sebelum pandemi Covid-19. Kota Madinah kini mulai didatangi banyak jemaah dari berbagai penjuru dunia,’’ tutur Ustadah Ririn, mutawifah asal Jember yang tetap tinggal di Kota Madinah selama pandemi Covid-19. Tidak mudik ke Indonesia.

Ketika Covid-19 mewabah, pemerintah Kerajaan Arab Saudi menutup sementara pelaksanaan ibadah umrah. Dampaknya, Kota Madinah sangat sepi. Tak ada jemaah mancanegara yang datang. Bahkan, penduduk setempat hanya bisa dihitung jari yang ke Masjid Nabawi. Pun, hanya saat salat lima waktu (fardu).

Apalagi pada malam hari, Kota Madinah malah seperti kota mati. Sebab, hotel-hotel di sekitar Nabawi yang biasanya menjadi tempat menginap jutaan jemaah umrah dan haji semuanya tutup. Tidak beroperasi, karena tidak ada jemaah yang menginap.

Biasanya, sepanjang malam hingga pagi, lampu penerangan menyala di semua sudut halaman, lobi, dan seluruh kamar. Terang benderang. Juga lampu penerangan jalan semua hidup. Bersinar terang. Tapi, saat pandemi Covid-19, yang menyala cuma terbatas. Khususnya lampu penerangan jalan menuju Masjid Nabawi.

‘’Jika malam hari Kota Madinah menjadi remang-remang. Bahkan, seperti kota hantu. Menyeramkan. Saya takut kalau malam hari lewat kawasan hotel sekitar Masjid Nabawi ini. Karena sepi dan gelap gulita,’’ ungkap Ustadah Ririn.

Baca Juga :  Pemberangkatan Tertunda, Bagaimana Calon Jemaah Haji Menyikapinya?

Padahal, sepanjang sejarahnya, Kota Madinah tidak pernah mati. Siang dan malam selalu hidup. Apalagi dalam dasawarsa belakangan ini. Berjuta umat Islam dari segala penjuru dunia mendatangi Tanah Suci (Madinah dan Makkah) untuk melaksanakan umrah atau haji. Di kedua kota itu para jemaah lalu-lalang siang dan malam untuk beribadah.

Mereka datang dan pergi silih berganti untuk menziarahi Nabi Muhammad SAW dan beribadah di Masjid Nabawi. Setiap saat, setiap waktu, tiada henti. ‘’Hanya saat pandemi Covid-19 ini Kota Madinah sepi, bahkan bisa dibilang mati. Covid-19 memang membuat semuanya terdampak, tak terkecuali pelaksanaan ibadah umrah dan haji,’’ ujarnya.

Bukan hanya hotel-hotel yang tutup, toko-toko dan pusat perbelanjaan juga. Alasannya sama, karena tak ada jemaah umrah datang. Akibatnya, selama dua tahun tak sedikit toko yang gulung tikar.

‘’Toko-toko di bawah hotel itu banyak yang masih tutup meski sekarang pelaksanaan ibadah umrah dibuka kembali. Itu karena pemiliknya sudah tak mampu meneruskan usahanya. Tak mampu membayar sewa toko dan pajak,’’ ungkap sejumlah penjaga toko.

Toko-toko itu pula yang selama ini menghidupkan Kota Madinah, seperti halnya hotel. Siang malam buka tiada henti menjajakan dagangan kepada jemaah. Ketika toko-toko itu tutup, denyut kehidupan di Kota Madinah pun terhenti.

‘’Hidupnya Kota Madinah adalah kehadiran para jemaah. Dengan dibukanya pelaksanaan ibadah umrah sekarang ini, warga Kota Madinah pun sangat  senang. Selain tidak sepi, perekonomian bangkit lagi,’’ jelasnya.*** (sat/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/