alexametrics
30.8 C
Madiun
Tuesday, May 24, 2022

Birrul Walidain

BIRRUL walidaian adalah berbuat baik kepada kedua orang tua. Atau anak berbakti kepada kedua orang tua. Manusia lahir di bumi dengan perantara bapak dan ibu, kecuali Nabi Adam AS. Allah menitipkan rida kepada bapak dan ibu sebagai orang tua. jika kedua orang tua rida, maka Allah pun rida. Sebaliknya, jika kedua orang tua marah, maka Allah pun murka.

Sebagaimana sabda Nabi SAW: Ridhollahu biridhol walidaini (ridanya Allah tergantung kepada ridanya orang tua). Ada hadis yang lebih tegas:  Al jannatu tahta aqdamil ummahati (surga itu berada di bawah telapak kaki ibu).

Setinggi apa pun jabatan seseorang wajib berbakti kepada orang tua. Karena susahnya orang tua mendidik anak tidak sebanding dengan berbaktinya seorang anak kepada kedua orang tua. Ketika mengandung, seorang ibu mengalami penderitaan yang tidak bisa diukur hingga melahirkan dan menyusui.

Bapak mencarikan rezeki dan biaya pendidikan. Apa pun sulitnya ditempuh. Orang tua rela lapar demi anaknya jangan sampai lapar. Suksesnya anak karena ada doa orang tua, mulai dari kandungan sampai melahirkan. Sedikit pun anak tidak boleh menyakiti orang tua.

Ada kisah di zaman sahabat. Seorang ahli ibadah, hafiz Alquran, tidak pernah absen tahajud, tidak pernah absen puasa sekali pun dalam hidupnya, namun ia menyakiti orang tua. Orang tua tidak rida sampai tua, namanya Alqamah, termasuk dekat dengan Rasulullah.

Suatu ketika sahabat Alqamah sakratulmaut. Berhari-hari tidak kunjung meninggal. Kawan sahabat yang lain bergumam, ‘’Alqamah ini ketika hidup sangat saleh, ahli ibadah, kenapa mengalami kesulitan dalam sakratulmaut.’’

Hingga Rasulullah pun datang dan menanyakan kepada ibunya, ‘’Wahai Ibunda Alqamah, apakah ketika hidup dia pernah menyakiti Anda?’’ Ibunya Alqamah menjawab, ‘’Betul Rasulullah, ketika hidup dia tidak datang dan tidak saya maafkan hingga sekarang.’’

Baca Juga :  Puasa Lapar dan Dahaga

Kemudian Rasulullah meminta ibu Alqamah memaafkan. Setelah dimaafkan, Alqamah meninggal dengan husnulkhatimah. Bagaimana jika itu menimpa orang yang ibadahnya kurang dan suka menyakiti orang tua? Biarpun orang tua banyak dosa, berdoa untuk dirinya tidak makbul, maka berdoa untuk anaknya ada jaminan untuk ijabah. Dianjurkan oleh para ulama, setiap ada hajat mintalah doa kepada orang tua. Jangan sekali-sekali membuat orang tua susah yang menimbulkan doanya pada anak jelek.

Kesusahan orang tua dalam mendidik anak lebih lama daripada susahnya anak merawat bapak ibu ketika tua. Jika orang tua telah meninggal, doakan mereka. Jika masih hidup, berbaktilah kepada keduanya. Robighfirli waliwalidayawarham huma kama robbayani shoghiro (Ya Tuhan kami, ampunilah dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, dan sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana sayangnya orang tuaku kepada kami).

Uwes Al Qorni, seorang tabiin, merawat ibu hingga berangkat haji, jalan kaki, dan ibunya digendong. Sampai tawaf dan sai pun digendong, disayang dan dibahagiakan. Doanya Uwes Al Qorni mustajabah hingga dikenal penduduk langit.

Maka, sesibuk apa pun jangan lupa berusaha membahagiakan kedua orang tua. Jika orang tua sudah tiada, sebagai gantinya muliakanlah saudara orang tua atau teman akrab orang tua yang masih hidup. Jangan lupa jaga dan laksanakan wasiatnya ketika orang tua telah tiada. Selamat berpuasa. Wallahu a’lam bis-sawab. ***(penulis adalah Ketua MUI Kota Madiun Sutoyo/sat/c1)

BIRRUL walidaian adalah berbuat baik kepada kedua orang tua. Atau anak berbakti kepada kedua orang tua. Manusia lahir di bumi dengan perantara bapak dan ibu, kecuali Nabi Adam AS. Allah menitipkan rida kepada bapak dan ibu sebagai orang tua. jika kedua orang tua rida, maka Allah pun rida. Sebaliknya, jika kedua orang tua marah, maka Allah pun murka.

Sebagaimana sabda Nabi SAW: Ridhollahu biridhol walidaini (ridanya Allah tergantung kepada ridanya orang tua). Ada hadis yang lebih tegas:  Al jannatu tahta aqdamil ummahati (surga itu berada di bawah telapak kaki ibu).

Setinggi apa pun jabatan seseorang wajib berbakti kepada orang tua. Karena susahnya orang tua mendidik anak tidak sebanding dengan berbaktinya seorang anak kepada kedua orang tua. Ketika mengandung, seorang ibu mengalami penderitaan yang tidak bisa diukur hingga melahirkan dan menyusui.

Bapak mencarikan rezeki dan biaya pendidikan. Apa pun sulitnya ditempuh. Orang tua rela lapar demi anaknya jangan sampai lapar. Suksesnya anak karena ada doa orang tua, mulai dari kandungan sampai melahirkan. Sedikit pun anak tidak boleh menyakiti orang tua.

Ada kisah di zaman sahabat. Seorang ahli ibadah, hafiz Alquran, tidak pernah absen tahajud, tidak pernah absen puasa sekali pun dalam hidupnya, namun ia menyakiti orang tua. Orang tua tidak rida sampai tua, namanya Alqamah, termasuk dekat dengan Rasulullah.

Suatu ketika sahabat Alqamah sakratulmaut. Berhari-hari tidak kunjung meninggal. Kawan sahabat yang lain bergumam, ‘’Alqamah ini ketika hidup sangat saleh, ahli ibadah, kenapa mengalami kesulitan dalam sakratulmaut.’’

Hingga Rasulullah pun datang dan menanyakan kepada ibunya, ‘’Wahai Ibunda Alqamah, apakah ketika hidup dia pernah menyakiti Anda?’’ Ibunya Alqamah menjawab, ‘’Betul Rasulullah, ketika hidup dia tidak datang dan tidak saya maafkan hingga sekarang.’’

Baca Juga :  Gas Ekonomi Lagi

Kemudian Rasulullah meminta ibu Alqamah memaafkan. Setelah dimaafkan, Alqamah meninggal dengan husnulkhatimah. Bagaimana jika itu menimpa orang yang ibadahnya kurang dan suka menyakiti orang tua? Biarpun orang tua banyak dosa, berdoa untuk dirinya tidak makbul, maka berdoa untuk anaknya ada jaminan untuk ijabah. Dianjurkan oleh para ulama, setiap ada hajat mintalah doa kepada orang tua. Jangan sekali-sekali membuat orang tua susah yang menimbulkan doanya pada anak jelek.

Kesusahan orang tua dalam mendidik anak lebih lama daripada susahnya anak merawat bapak ibu ketika tua. Jika orang tua telah meninggal, doakan mereka. Jika masih hidup, berbaktilah kepada keduanya. Robighfirli waliwalidayawarham huma kama robbayani shoghiro (Ya Tuhan kami, ampunilah dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, dan sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana sayangnya orang tuaku kepada kami).

Uwes Al Qorni, seorang tabiin, merawat ibu hingga berangkat haji, jalan kaki, dan ibunya digendong. Sampai tawaf dan sai pun digendong, disayang dan dibahagiakan. Doanya Uwes Al Qorni mustajabah hingga dikenal penduduk langit.

Maka, sesibuk apa pun jangan lupa berusaha membahagiakan kedua orang tua. Jika orang tua sudah tiada, sebagai gantinya muliakanlah saudara orang tua atau teman akrab orang tua yang masih hidup. Jangan lupa jaga dan laksanakan wasiatnya ketika orang tua telah tiada. Selamat berpuasa. Wallahu a’lam bis-sawab. ***(penulis adalah Ketua MUI Kota Madiun Sutoyo/sat/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/