alexametrics
25.6 C
Madiun
Friday, May 20, 2022

Cerita Ringan Bupati

SELAMA 13 tahun menjadi pejabat eselon I di Kemkominfo, saya sengaja tidak memiliki sekretaris atau pengawal pribadi. Hanya sekretaris tata usaha selama jam kantor. Sehari-hari hanya dengan pengemudi. Bahkan, setelah dinas luar, kalau pulang ke rumah dan itu di luar jam kerja, saya lebih memilih naik Damri.

Semua itu saya lakukan karena satu pertimbangan: praktis saja. Supaya efisien dan tidak merepotkan orang. Toh, saya bisa sendiri. Pun agar terbiasa dengan transportasi umum. Selain ikut membantu mengurangi penggunaan kendaraan pribadi di Jakarta yang terbiasa dengan kemacetan.

Kebiasaan itu terbawa ketika menjadi bupati Magetan. Ada cerita yang kadang lucu atau malah absurd. Saya punya kebiasaan minimal berolahraga dua kali seminggu. Biasanya bersepeda, jalan kaki, main basket, dan treadmill. Pasti saya lakukan sendirian. Waktunya tidak menentu. Kalau tidak bisa pagi, bisa sore atau malam.

Suatu ketika, karena pagi dan sore tidak ada waktu, akhirnya pukul 23.00 saya bersepeda. Keliling kota, sekalian patroli dan melihat suasana malam. Sedang enak-enaknya mengayuh sepeda, di jalan yang cukup sepi, ada dua sepeda motor berboncengan menyalip cukup kencang dengan suara knalpot nyaring. Sekitar seratus meter di depan, tiba-tiba direm mendadak. Sepeda motor sengaja diparkir agak menutup jalan. Menghalangi saya. Dalam hati, ada apa?

Tentu saya harus mengambil sikap hati-hati. Setelah mendekat, saya dihentikan. ‘’Pak bupati ya. Kok malam-malam bersepeda sendiri. Kok tidak dikawal.” Saya kemudian berhenti. ‘’Ya Dik. Olahraga kok. Nggak apa-apa. Sambil lihat suasana malam kota. Sendiri apa tidak boleh?” Saya mendekat sambil tersenyum. Tiba-tiba salah satu dari empat anak muda tadi menyahut. ‘’Pak, boleh minta foto?” Waduh! Tentu saja saya membolehkan. Malah minta selfie segala, haaaaaa. Tiwas sudah waswas dalam hati.

Minggu pagi sekitar pukul 07.00, saya jalan kaki. Sejam saja. Mengambil rute dalam kota. Kemudian saya mampir alun-alun. Kebiasaan saya, sambil cek kondisi alun-alun, saya memunguti sampah yang sering dibuang sembarangan pengunjung. Meski kondisi saat ini sudah jauh lebih baik, ada saja yang masih membuang sampah sembarangan.

Sambil memunguti sampah plastik di rerumputan, saya menuju sekitar pohon beringin yang berada di tengah alun-alun. Di bawah pohon beringin sengaja dibuatkan tempat duduk. Pengunjung banyak yang duduk di situ.

Tepat di depan empat perempuan yang sedang duduk sambil makan, tergeletak plastik bekas tempat makanan yang penuh saus. Sambil mengambil sampah, saya bilang ‘’nuwun sewu Mbak!” Ketika saya melangkah pergi, tiba-tiba salah satu nyeletuk. ‘’Pak, sampahnya jatuh.” Tentu saya balik lagi sambil memungut sampah tepat di depannya. Bahkan di dekat kakinya. Keempat perempuan itu memandang saya dengan perasaan tidak bersalah.

Ketika baru berjalan sepuluh langkah, saya berpapasan dengan pasangan suami istri yang sedang menggendong anaknya berusia satu setengah tahun. ‘’Lho, Pak Bupati! Sampah sudah saya buang di tempat sampah lho Pak. Pak, boleh minta foto? Nak, ayo foto dengan Pak Bupati, nanti biar seperti Pak Bupati.” Sambil tersenyum menggendong putranya, saya bilang, ‘’Jangan ya Nak, saya doakan jadi presiden, menteri, atau gubernur.” Saya di mana-mana selalu meminta anak-anak punya mimpi yang tinggi.

Tentu, akibatnya banyak yang mendekat bergantian meminta foto. Semua saya layani. Tiba-tiba empat perempuan yang duduk di bawah pohon beringin tadi mendekat. ‘’Maaf Pak Bupati. Saya betul-betul minta maaf. Saya tidak mengira dan tidak tahu kalau Pak Bupati. Saya bukan orang sini, Pak. Saya orang Bekasi yang kebetulan lagi main di keluarga Magetan.” Ujung-ujungnya minta foto juga. Ya, saya dengan senang hati melayani, sambil menyampaikan agar ikut menjaga kebersihan di mana pun.

Baca Juga :  Keluarga Samawa

Saya juga sering ditanya bagaimana membagi waktu antara pekerjaan yang demikian padat sebagai bupati dengan menulis. Tentu saya harus pandai membagi waktu. Bahkan, kenyamanan sering saya kalahkan kalau sudah deadline. Naskah harus dikirim karena ditunggu. Sementara saya ada acara di Surabaya. Akhirnya saya putuskan naik kereta api ekonomi Sri Tanjung dari Stasiun Magetan yang berangkat pukul 09.23.

Meski kereta ekonomi, tidak pernah terlambat. Sampai menitnya pun tepat. Sehingga bisa merencanakan acara dengan tenang. Sengaja saya minta jemput di Stasiun Surabaya. Di dalam kereta, saya segera mengeluarkan laptop. Terus asyik ngetik tanpa memedulikan sekeliling.

Tiba di Stasiun Madiun, ada seorang perempuan setengah baya naik. Membawa koper besar dan duduk di depan saya. Kemudian njawil lengan saya. ‘’Pak, minta tolong naikkan koper saya ya Pak.” Saya langsung meletakkan laptop di samping saya, lalu mengangkat koper yang cukup besar itu ke bagasi. Kemudian saya melanjutkan mengetik naskah.

Sampai Jombang naskah selesai. Langsung saya e-mail ke redaktur Jawa Pos Radar Madiun. Seperempat jam kemudian sampai di Mojokerto. Ada petugas PT KAI yang memakai seragam lewat di samping saya, tiba-tiba balik lagi. “Lho, Pak Bupati. Kok naik kereta api ekonomi,” sambil melihat dan meyakinkan diri. Kelihatan takut salah karena saya pakai masker rangkap dua. Saya langsung jawab, ‘’Ya nggak apa-apa, Mas. Saya pencinta kereta api lho.”

Kemudian yang bersangkutan mengenalkan diri kalau warga saya. Asli dari Kecamatan Barat. Kembali lagi, akhirnya minta foto. Tentu mbak yang minta tolong mengangkatkan koper jadi salah tingkah. Langsung minta maaf. Saya juga yakinkan bahwa saya tidak apa-apa. Sudah selayaknya saling membantu dalam arti yang baik.

Saya hobi mengajar. Bahkan mengajar sejak 1986. Kebiasaan saya ketika mengajar di Malang, tiap Jumat ketika masuk pintu tol Waru, banyak marinir berdiri di pintu tol. Saya sudah tahu kalau mereka mencari tumpangan ke Malang. Langsung saya berhenti. Dan, saya minta masuk. Kebetulan mobil saya Kijang.

Pertimbangan saya, toh saya naik sendiri atau bersama orang lain, habisnya bensin juga sama. Kebiasaan itu saya lakukan selama mengajar di Malang sekitar sepuluh tahun. Kalau beruntung, ada yang di kantor sebagai driver. Kemudian dengan sukarela menggantikan saya mengemudi. Tentu saya bisa istirahat.

Ketika jadi bupati, kadang kalau ke Surabaya saya nyetir mobil sendiri. Agar tidak lupa, sekaligus menjaga refleks dan insting mengemudi. Ketika pulang ke Magetan, di atas tol Waru menuju Madiun, ada marinir yang berdiri di tepi jalan. Naluri saya mengatakan, pasti mencari tumpangan. Langsung saya menepi.

Saya minta naik. Saya mengemudi, yang bersangkutan duduk di depan. Di samping saya. Kebetulan turun di Kertosono, karena rumahnya di Kediri. Kemudian ngobrol macam-macam selama perjalanan. Mulai profesi sampai keluarga. Ketika saya didesak bekerja apa di Magetan, saya sengaja tidak mengaku.

Menurutnya, wajah saya sudah familier. Ya saya bilang sambil tertawa, ‘’kayak Pak Jokowi ya wajah saya!” Sesampainya di pintu keluar tol Kertosono, kami berhenti. Kemudian yang bersangkutan minta selfie. Sambil mengambil foto di dekat wajah saya, kemudian saya berbisik, ‘’saya Suprawoto, bupati Magetan.” Kemudian saya segera tancap gas. Saya lihat dari kaca spion, yang bersangkutan masih berdiri melihat mobil saya yang semakin menjauh. (*/naz/c1)

SELAMA 13 tahun menjadi pejabat eselon I di Kemkominfo, saya sengaja tidak memiliki sekretaris atau pengawal pribadi. Hanya sekretaris tata usaha selama jam kantor. Sehari-hari hanya dengan pengemudi. Bahkan, setelah dinas luar, kalau pulang ke rumah dan itu di luar jam kerja, saya lebih memilih naik Damri.

Semua itu saya lakukan karena satu pertimbangan: praktis saja. Supaya efisien dan tidak merepotkan orang. Toh, saya bisa sendiri. Pun agar terbiasa dengan transportasi umum. Selain ikut membantu mengurangi penggunaan kendaraan pribadi di Jakarta yang terbiasa dengan kemacetan.

Kebiasaan itu terbawa ketika menjadi bupati Magetan. Ada cerita yang kadang lucu atau malah absurd. Saya punya kebiasaan minimal berolahraga dua kali seminggu. Biasanya bersepeda, jalan kaki, main basket, dan treadmill. Pasti saya lakukan sendirian. Waktunya tidak menentu. Kalau tidak bisa pagi, bisa sore atau malam.

Suatu ketika, karena pagi dan sore tidak ada waktu, akhirnya pukul 23.00 saya bersepeda. Keliling kota, sekalian patroli dan melihat suasana malam. Sedang enak-enaknya mengayuh sepeda, di jalan yang cukup sepi, ada dua sepeda motor berboncengan menyalip cukup kencang dengan suara knalpot nyaring. Sekitar seratus meter di depan, tiba-tiba direm mendadak. Sepeda motor sengaja diparkir agak menutup jalan. Menghalangi saya. Dalam hati, ada apa?

Tentu saya harus mengambil sikap hati-hati. Setelah mendekat, saya dihentikan. ‘’Pak bupati ya. Kok malam-malam bersepeda sendiri. Kok tidak dikawal.” Saya kemudian berhenti. ‘’Ya Dik. Olahraga kok. Nggak apa-apa. Sambil lihat suasana malam kota. Sendiri apa tidak boleh?” Saya mendekat sambil tersenyum. Tiba-tiba salah satu dari empat anak muda tadi menyahut. ‘’Pak, boleh minta foto?” Waduh! Tentu saja saya membolehkan. Malah minta selfie segala, haaaaaa. Tiwas sudah waswas dalam hati.

Minggu pagi sekitar pukul 07.00, saya jalan kaki. Sejam saja. Mengambil rute dalam kota. Kemudian saya mampir alun-alun. Kebiasaan saya, sambil cek kondisi alun-alun, saya memunguti sampah yang sering dibuang sembarangan pengunjung. Meski kondisi saat ini sudah jauh lebih baik, ada saja yang masih membuang sampah sembarangan.

Sambil memunguti sampah plastik di rerumputan, saya menuju sekitar pohon beringin yang berada di tengah alun-alun. Di bawah pohon beringin sengaja dibuatkan tempat duduk. Pengunjung banyak yang duduk di situ.

Tepat di depan empat perempuan yang sedang duduk sambil makan, tergeletak plastik bekas tempat makanan yang penuh saus. Sambil mengambil sampah, saya bilang ‘’nuwun sewu Mbak!” Ketika saya melangkah pergi, tiba-tiba salah satu nyeletuk. ‘’Pak, sampahnya jatuh.” Tentu saya balik lagi sambil memungut sampah tepat di depannya. Bahkan di dekat kakinya. Keempat perempuan itu memandang saya dengan perasaan tidak bersalah.

Ketika baru berjalan sepuluh langkah, saya berpapasan dengan pasangan suami istri yang sedang menggendong anaknya berusia satu setengah tahun. ‘’Lho, Pak Bupati! Sampah sudah saya buang di tempat sampah lho Pak. Pak, boleh minta foto? Nak, ayo foto dengan Pak Bupati, nanti biar seperti Pak Bupati.” Sambil tersenyum menggendong putranya, saya bilang, ‘’Jangan ya Nak, saya doakan jadi presiden, menteri, atau gubernur.” Saya di mana-mana selalu meminta anak-anak punya mimpi yang tinggi.

Tentu, akibatnya banyak yang mendekat bergantian meminta foto. Semua saya layani. Tiba-tiba empat perempuan yang duduk di bawah pohon beringin tadi mendekat. ‘’Maaf Pak Bupati. Saya betul-betul minta maaf. Saya tidak mengira dan tidak tahu kalau Pak Bupati. Saya bukan orang sini, Pak. Saya orang Bekasi yang kebetulan lagi main di keluarga Magetan.” Ujung-ujungnya minta foto juga. Ya, saya dengan senang hati melayani, sambil menyampaikan agar ikut menjaga kebersihan di mana pun.

Baca Juga :  Pasang CCTV, Ketati Akses Keluar-Masuk Pasar Sleko

Saya juga sering ditanya bagaimana membagi waktu antara pekerjaan yang demikian padat sebagai bupati dengan menulis. Tentu saya harus pandai membagi waktu. Bahkan, kenyamanan sering saya kalahkan kalau sudah deadline. Naskah harus dikirim karena ditunggu. Sementara saya ada acara di Surabaya. Akhirnya saya putuskan naik kereta api ekonomi Sri Tanjung dari Stasiun Magetan yang berangkat pukul 09.23.

Meski kereta ekonomi, tidak pernah terlambat. Sampai menitnya pun tepat. Sehingga bisa merencanakan acara dengan tenang. Sengaja saya minta jemput di Stasiun Surabaya. Di dalam kereta, saya segera mengeluarkan laptop. Terus asyik ngetik tanpa memedulikan sekeliling.

Tiba di Stasiun Madiun, ada seorang perempuan setengah baya naik. Membawa koper besar dan duduk di depan saya. Kemudian njawil lengan saya. ‘’Pak, minta tolong naikkan koper saya ya Pak.” Saya langsung meletakkan laptop di samping saya, lalu mengangkat koper yang cukup besar itu ke bagasi. Kemudian saya melanjutkan mengetik naskah.

Sampai Jombang naskah selesai. Langsung saya e-mail ke redaktur Jawa Pos Radar Madiun. Seperempat jam kemudian sampai di Mojokerto. Ada petugas PT KAI yang memakai seragam lewat di samping saya, tiba-tiba balik lagi. “Lho, Pak Bupati. Kok naik kereta api ekonomi,” sambil melihat dan meyakinkan diri. Kelihatan takut salah karena saya pakai masker rangkap dua. Saya langsung jawab, ‘’Ya nggak apa-apa, Mas. Saya pencinta kereta api lho.”

Kemudian yang bersangkutan mengenalkan diri kalau warga saya. Asli dari Kecamatan Barat. Kembali lagi, akhirnya minta foto. Tentu mbak yang minta tolong mengangkatkan koper jadi salah tingkah. Langsung minta maaf. Saya juga yakinkan bahwa saya tidak apa-apa. Sudah selayaknya saling membantu dalam arti yang baik.

Saya hobi mengajar. Bahkan mengajar sejak 1986. Kebiasaan saya ketika mengajar di Malang, tiap Jumat ketika masuk pintu tol Waru, banyak marinir berdiri di pintu tol. Saya sudah tahu kalau mereka mencari tumpangan ke Malang. Langsung saya berhenti. Dan, saya minta masuk. Kebetulan mobil saya Kijang.

Pertimbangan saya, toh saya naik sendiri atau bersama orang lain, habisnya bensin juga sama. Kebiasaan itu saya lakukan selama mengajar di Malang sekitar sepuluh tahun. Kalau beruntung, ada yang di kantor sebagai driver. Kemudian dengan sukarela menggantikan saya mengemudi. Tentu saya bisa istirahat.

Ketika jadi bupati, kadang kalau ke Surabaya saya nyetir mobil sendiri. Agar tidak lupa, sekaligus menjaga refleks dan insting mengemudi. Ketika pulang ke Magetan, di atas tol Waru menuju Madiun, ada marinir yang berdiri di tepi jalan. Naluri saya mengatakan, pasti mencari tumpangan. Langsung saya menepi.

Saya minta naik. Saya mengemudi, yang bersangkutan duduk di depan. Di samping saya. Kebetulan turun di Kertosono, karena rumahnya di Kediri. Kemudian ngobrol macam-macam selama perjalanan. Mulai profesi sampai keluarga. Ketika saya didesak bekerja apa di Magetan, saya sengaja tidak mengaku.

Menurutnya, wajah saya sudah familier. Ya saya bilang sambil tertawa, ‘’kayak Pak Jokowi ya wajah saya!” Sesampainya di pintu keluar tol Kertosono, kami berhenti. Kemudian yang bersangkutan minta selfie. Sambil mengambil foto di dekat wajah saya, kemudian saya berbisik, ‘’saya Suprawoto, bupati Magetan.” Kemudian saya segera tancap gas. Saya lihat dari kaca spion, yang bersangkutan masih berdiri melihat mobil saya yang semakin menjauh. (*/naz/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/