alexametrics
25.8 C
Madiun
Wednesday, May 18, 2022

Pohon Asam

SETIAP peristiwa dimaknai berbeda oleh setiap orang. Perbedaan cara pandang itu turut dipengaruhi oleh latar belakang hidup masing-masing. Demikian juga ketika terjadi pergantian musim di Indonesia. Pemaknaannya tentu berbeda. Seorang petani, misalnya, menganggap musim hujan sebagai musim menanam.

Namun, tidak sedikit yang memaknai musim hujan sebagai musim banjir. Akibat perubahan iklim, terjadi musim hujan ekstrem. Curah hujan diperkirakan 70 persen lebih tinggi dari normalnya. Terbukti, terjadi banjir di mana-mana.

Saya tidak dapat membayangkan bagaimana cuaca ekstrem di tahun ini. Tahun lalu saja, ketika musim hujan tidak terlalu ekstrem, Magetan diterjang banjir bandang. Ada beberapa jembatan yang putus. Pun ada yang baru selesai diperbaiki awal tahun ini.

Usaha untuk mengurangi banjir terus dilakukan, sambil terus menangani persebaran Covid-19. Kami bangun embung di Ringinagung untuk mengurangi air dari atas yang menuju wilayah selatan kota. Juga pembuatan sudetan ke Sungai Sadon untuk mengurangi debit air yang meluber di sekitar kantor Samsat dan BPS.

Musim hujan yang ekstrem ini juga saya maknai sebagai momen untuk menanam. Beruntung saya dibesarkan dekat dengan kakek saya yang petani tulen; yang selalu mengajarkan bahwa menanam pohon di musim yang tepat itu penting.

Sampai-sampai, setiap anaknya lahir, kakek saya selalu menandai dengan menanam pohon di belakang rumah. Jangan heran di belakang rumah kakek saya ada banyak pohon. Mulai kelapa, nangka, jeruk pamelo, mangga, jati, hingga bunga. Menanam pohon tidak asal menanam. Tapi, betul-betul diperhitungkan manfaatnya.

Belajar dari kakek, saya selalu ingin menanam ketika musim hujan tiba. Tidak ada yang dirugikan dengan itu. Apalagi, jika menanam pohon yang memberi banyak manfaat, tentu akan lebih berguna.

Waktu saya kecil, jalan raya di Magetan belum selebar sekarang. Jalan nasional seperti jalan kabupaten pada saat ini. Juga tak semulus sekarang. Namun, kanan kirinya penuh dengan pohon. Bukan pohon asal teduh. Pohon yang ditanam mempunyai banyak manfaat.

Kita masih ingat, sejak zaman pendudukan Belanda, pasti ada banyak pohon kenari, asam, mahoni, atau sonokeling. Pohon-pohon itu juga merangsang burung. Walaupun kini pepohonan tersebut tinggal kenangan, sebenarnya ada banyak manfaat yang dapat diberikan. Pohon yang ditanam adalah pohon yang kuat. Di musim kemarau, daunnya tetap hijau. Buah kenari atau buah asam juga banyak manfaatnya. Pohon asam daunnya kecil-kecil. Sehingga, ketika gugur, tidak akan menyumbat saluran air.

Baca Juga :  Pondok Lansia Mulia

Demikian pula pohon asam. Dahannya tidak mudah patah. Bahkan kuat menahan angin. Daun asam bisa untuk bahan minuman. Demikian juga buahnya, bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Karena memiliki banyak manfaat, Belanda pada waktu itu menanam banyak pohon asam di berbagai ruas jalan.

Apalagi dulu, transportasi dan teknologi belum berkembang seperti sekarang. Bayangkan, kalau pohon yang ada di tepi jalan mudah tumbang, kelancaran transportasi pasti terganggu. Karena zaman berkembang dengan cepat, maka ada kecenderungan pohon yang ditanam adalah yang cepat tumbuh. Manfaat yang diharapkan hanya sebagai peneduh. Jangan heran, ketika ada pelebaran jalan, maka pepohonan yang hidup sejak era kolonial menjadi korban.

Kini rasanya sulit bagi kita untuk bisa melihat lagi pohon asam, kenari, mahoni, atau sonokeling di pinggir jalan. Saat ini yang mendominasi adalah angsana, akasia, dan sejenisnya. Pohon-pohon yang gampang tumbuh, tapi dahan dan pohonnya mudah patah. Bila musim kemarau, daunnya banyak yang gugur.

Belajar dari cara berpikir kakek, setiap musim hujan saya merasa harus menanam. Juga belajar dari bangsa Belanda yang sedemikian detail dalam merencanakan sesuatu, termasuk pohon peneduh di pinggir jalan. Sejak tahun lalu Magetan banyak menanam pohon asam di pinggir-pinggir jalan. Sebagian yang ditanam asam manis. Juga ada asam Jawa. Siapa tahu, sepuluh tahun yang akan datang buahnya dapat menjadi komoditas yang menguntungkan bagi masyarakat.

Dalam setahun, tinggi pohon asam rata-rata sudah empat kali lipat. Karena dirawat. Tahun ini kita juga menanam pohon asam kembali. Pohon yang mati kita ganti baru. Bahkan, pada hari Jumat bulan Januari 2022 yang lalu, saya sengaja menanam pohon asam manis di Jalan Raya Barat-Maospati. Hampir 200 pohon ditanam di sepanjang jalan. Saya menjadi salah satu saksi dari rimbunnya pepohonan asam yang kini tinggal kenangan itu. Bisakah kenangan tersebut menjadi kenyataan kembali? Waktu yang akan menjawab. Saya yakin pasti bisa! (penulis adalah Bupati Magetan Suprawoto/naz/c1)

SETIAP peristiwa dimaknai berbeda oleh setiap orang. Perbedaan cara pandang itu turut dipengaruhi oleh latar belakang hidup masing-masing. Demikian juga ketika terjadi pergantian musim di Indonesia. Pemaknaannya tentu berbeda. Seorang petani, misalnya, menganggap musim hujan sebagai musim menanam.

Namun, tidak sedikit yang memaknai musim hujan sebagai musim banjir. Akibat perubahan iklim, terjadi musim hujan ekstrem. Curah hujan diperkirakan 70 persen lebih tinggi dari normalnya. Terbukti, terjadi banjir di mana-mana.

Saya tidak dapat membayangkan bagaimana cuaca ekstrem di tahun ini. Tahun lalu saja, ketika musim hujan tidak terlalu ekstrem, Magetan diterjang banjir bandang. Ada beberapa jembatan yang putus. Pun ada yang baru selesai diperbaiki awal tahun ini.

Usaha untuk mengurangi banjir terus dilakukan, sambil terus menangani persebaran Covid-19. Kami bangun embung di Ringinagung untuk mengurangi air dari atas yang menuju wilayah selatan kota. Juga pembuatan sudetan ke Sungai Sadon untuk mengurangi debit air yang meluber di sekitar kantor Samsat dan BPS.

Musim hujan yang ekstrem ini juga saya maknai sebagai momen untuk menanam. Beruntung saya dibesarkan dekat dengan kakek saya yang petani tulen; yang selalu mengajarkan bahwa menanam pohon di musim yang tepat itu penting.

Sampai-sampai, setiap anaknya lahir, kakek saya selalu menandai dengan menanam pohon di belakang rumah. Jangan heran di belakang rumah kakek saya ada banyak pohon. Mulai kelapa, nangka, jeruk pamelo, mangga, jati, hingga bunga. Menanam pohon tidak asal menanam. Tapi, betul-betul diperhitungkan manfaatnya.

Belajar dari kakek, saya selalu ingin menanam ketika musim hujan tiba. Tidak ada yang dirugikan dengan itu. Apalagi, jika menanam pohon yang memberi banyak manfaat, tentu akan lebih berguna.

Waktu saya kecil, jalan raya di Magetan belum selebar sekarang. Jalan nasional seperti jalan kabupaten pada saat ini. Juga tak semulus sekarang. Namun, kanan kirinya penuh dengan pohon. Bukan pohon asal teduh. Pohon yang ditanam mempunyai banyak manfaat.

Kita masih ingat, sejak zaman pendudukan Belanda, pasti ada banyak pohon kenari, asam, mahoni, atau sonokeling. Pohon-pohon itu juga merangsang burung. Walaupun kini pepohonan tersebut tinggal kenangan, sebenarnya ada banyak manfaat yang dapat diberikan. Pohon yang ditanam adalah pohon yang kuat. Di musim kemarau, daunnya tetap hijau. Buah kenari atau buah asam juga banyak manfaatnya. Pohon asam daunnya kecil-kecil. Sehingga, ketika gugur, tidak akan menyumbat saluran air.

Baca Juga :  Investasi dan Kebersihan

Demikian pula pohon asam. Dahannya tidak mudah patah. Bahkan kuat menahan angin. Daun asam bisa untuk bahan minuman. Demikian juga buahnya, bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Karena memiliki banyak manfaat, Belanda pada waktu itu menanam banyak pohon asam di berbagai ruas jalan.

Apalagi dulu, transportasi dan teknologi belum berkembang seperti sekarang. Bayangkan, kalau pohon yang ada di tepi jalan mudah tumbang, kelancaran transportasi pasti terganggu. Karena zaman berkembang dengan cepat, maka ada kecenderungan pohon yang ditanam adalah yang cepat tumbuh. Manfaat yang diharapkan hanya sebagai peneduh. Jangan heran, ketika ada pelebaran jalan, maka pepohonan yang hidup sejak era kolonial menjadi korban.

Kini rasanya sulit bagi kita untuk bisa melihat lagi pohon asam, kenari, mahoni, atau sonokeling di pinggir jalan. Saat ini yang mendominasi adalah angsana, akasia, dan sejenisnya. Pohon-pohon yang gampang tumbuh, tapi dahan dan pohonnya mudah patah. Bila musim kemarau, daunnya banyak yang gugur.

Belajar dari cara berpikir kakek, setiap musim hujan saya merasa harus menanam. Juga belajar dari bangsa Belanda yang sedemikian detail dalam merencanakan sesuatu, termasuk pohon peneduh di pinggir jalan. Sejak tahun lalu Magetan banyak menanam pohon asam di pinggir-pinggir jalan. Sebagian yang ditanam asam manis. Juga ada asam Jawa. Siapa tahu, sepuluh tahun yang akan datang buahnya dapat menjadi komoditas yang menguntungkan bagi masyarakat.

Dalam setahun, tinggi pohon asam rata-rata sudah empat kali lipat. Karena dirawat. Tahun ini kita juga menanam pohon asam kembali. Pohon yang mati kita ganti baru. Bahkan, pada hari Jumat bulan Januari 2022 yang lalu, saya sengaja menanam pohon asam manis di Jalan Raya Barat-Maospati. Hampir 200 pohon ditanam di sepanjang jalan. Saya menjadi salah satu saksi dari rimbunnya pepohonan asam yang kini tinggal kenangan itu. Bisakah kenangan tersebut menjadi kenyataan kembali? Waktu yang akan menjawab. Saya yakin pasti bisa! (penulis adalah Bupati Magetan Suprawoto/naz/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/