alexametrics
24.7 C
Madiun
Thursday, May 19, 2022

Gorengan Jangan Berhenti

SAAT ini Covid-19 sedang tidak baik. Gelombang ketiga berada di puncaknya sementara ini. Dalam sepekan kemarin ada ratusan tambahan kasus. Pandemi sudah jelas berdampak kepada ekonomi. Namun, sepertinya pandemi saja belum cukup untuk memukul perekonomian kita. Masyarakat masih dihadapkan dengan urusan minyak goreng beberapa hari belakangan ini. Minyak goreng langka. Harga jualnya pun tinggi. Pedagang semakin pelik. Menaikkan harga jual untuk mengejar modal juga bukan solusi. Malah jualan semakin sepi. Sepi pembeli, modal jualan jelas tak kembali.

Pemerintah tidak boleh diam dalam situasi seperti ini. Makanya, saya terus berkeliling. Kita gelontorkan minyak goreng untuk masyarakat. Saya cek semua lini. Seperti biasa, sambil gowes bersama. Mulai pasar, lapak UMKM, hingga warung-warung tepi jalan. Minggu (20/2) kemarin saya juga cek Sunday Market di Taman Lalu Lintas Bantaran Kali Madiun. Di sana banyak yang jual gorengan. Saya juga ikut mencicipi. Gorengannya enak. Sayang kalau sampai tutup. Di sana, banyak penjual penggorengan sebagai sarana berjualannya. Saya bagikan minyak kepada mereka. Gratis. Saya tidak ingin jualan mereka terganggu karena masalah minyak goreng ini.

Usaha mereka harus tetap berjalan. Bakul gorengan jangan sampai berhenti berjualan. Jangan sampai ada yang tutup hanya karena minyak mahal atau sulit dicari. Saya pastikan minyak goreng aman di kota kita. Setidaknya ada 15 ton minyak goreng yang kita siapkan. Sudah kita bagikan sebagian sejak beberapa hari belakangan. Mungkin sudah ada 5 ton lebih yang kita bagikan. Sebagian lainnya kita gunakan untuk operasi pasar. Juga ada bazar. Ada di setiap kecamatan. Harganya mengikuti harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Harga minyak goreng tidak boleh lebih dari Rp 14 ribu.

Saya beruntung punya banyak pengusaha yang ikut andil dalam menyelesaikan masalah ini. Mereka secara sukarela membantu kebutuhan minyak goreng itu melalui anggaran CSR masing-masing. Ada juga yang pakai duit pribadi. Demi kemanusiaan katanya. Makanya, bisa kita bagi-bagikan gratis. Ini bukan yang pertama. Dulu, di saat awal pandemi, ada pengusaha yang membantu beras. Jumlahnya tidak sedikit. Sampai 25 ton. Makanya tidak ada yang kesulitan bahan makanan di kota kita. Masyarakat yang tidak dapat jatah bantuan dari pemerintah, kita berikan lewat beras itu.

Baca Juga :  Wali Kota Madiun Temukan Dua Ton Minyak Goreng saat Sidak ke Distributor

Ini bukan sekadar bantuan agar usaha mereka tetap berjalan. Ini juga upaya kita menstabilkan perekonomian. Jangan sampai daya beli masyarakat lesu karena harga jual pedagang tinggi. Saat harga minyak goreng tinggi, modal yang dikeluarkan pedagang tentu juga naik. Gorengan yang biasanya Rp 500 bisa jadi Rp 1.000 untuk menutup modal. Bisa juga harganya tetap, tapi ukurannya yang dikurangi. Artinya, bahan yang lain dikurangi untuk menutup modal beli minyak. Jelas pembeli jadi malas. Daya beli jadi lesu. Ini tidak boleh terjadi.

Saat daya beli masyarakat lesu, perputaran uang juga turun. Ditambah pandemi, perekonomian bisa langsung ke jurang resesi. Daya beli masyarakat tetap harus tinggi. Pedagang juga tidak boleh merugi. Kita beri minyak gratis untuk menjaga keduanya itu. Pedagang tidak boleh menaikkan harga jual karena sudah kita bantu minyak. Sekali lagi, minyak goreng bukan alasan. Semua tercukupi. Minyak goreng ada dengan harga yang biasa.

Operasi pasar, bazar, dan bagi-bagi ini tidak berhenti sampai di sini. Ke depan masih akan kita gelar. Setiap hari ada. Silakan dicari jadwalnya. Sudah saya minta untuk diumumkan. Ini terus kita lakukan. Pokoknya sampai minyak tidak jadi salah satu sumber masalah. Sampai minyak goreng kembali seperti biasa. Ini pasti ada ujungnya. Saya percayakan kepada yang berwenang. Kalau ada permainan, biar satgas yang bertindak. Di berbagai pemberitaan sudah sering muncul. Beberapa oknum yang melakukan penimbunan sudah ditangkap.

Saya juga heran. Kenapa ada saja yang berbuat seperti itu. Mencari keuntungan di saat kondisi sedang sulit seperti ini. Pandemi Covid-19 sudah cukup menguras energi. Pun, belum dapat dipastikan sampai kapan akan berlangsung. Tidak perlu ada tambahan masalah lainnya. Kita harus saling menjaga. Ini kota kita bersama. Tempat kita tinggal dan menjalani kehidupan. Mungkin, tempat kita meninggal kelak. Mari kita jaga bersama. (penulis adalah Wali Kota Madiun Maidi)

SAAT ini Covid-19 sedang tidak baik. Gelombang ketiga berada di puncaknya sementara ini. Dalam sepekan kemarin ada ratusan tambahan kasus. Pandemi sudah jelas berdampak kepada ekonomi. Namun, sepertinya pandemi saja belum cukup untuk memukul perekonomian kita. Masyarakat masih dihadapkan dengan urusan minyak goreng beberapa hari belakangan ini. Minyak goreng langka. Harga jualnya pun tinggi. Pedagang semakin pelik. Menaikkan harga jual untuk mengejar modal juga bukan solusi. Malah jualan semakin sepi. Sepi pembeli, modal jualan jelas tak kembali.

Pemerintah tidak boleh diam dalam situasi seperti ini. Makanya, saya terus berkeliling. Kita gelontorkan minyak goreng untuk masyarakat. Saya cek semua lini. Seperti biasa, sambil gowes bersama. Mulai pasar, lapak UMKM, hingga warung-warung tepi jalan. Minggu (20/2) kemarin saya juga cek Sunday Market di Taman Lalu Lintas Bantaran Kali Madiun. Di sana banyak yang jual gorengan. Saya juga ikut mencicipi. Gorengannya enak. Sayang kalau sampai tutup. Di sana, banyak penjual penggorengan sebagai sarana berjualannya. Saya bagikan minyak kepada mereka. Gratis. Saya tidak ingin jualan mereka terganggu karena masalah minyak goreng ini.

Usaha mereka harus tetap berjalan. Bakul gorengan jangan sampai berhenti berjualan. Jangan sampai ada yang tutup hanya karena minyak mahal atau sulit dicari. Saya pastikan minyak goreng aman di kota kita. Setidaknya ada 15 ton minyak goreng yang kita siapkan. Sudah kita bagikan sebagian sejak beberapa hari belakangan. Mungkin sudah ada 5 ton lebih yang kita bagikan. Sebagian lainnya kita gunakan untuk operasi pasar. Juga ada bazar. Ada di setiap kecamatan. Harganya mengikuti harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Harga minyak goreng tidak boleh lebih dari Rp 14 ribu.

Saya beruntung punya banyak pengusaha yang ikut andil dalam menyelesaikan masalah ini. Mereka secara sukarela membantu kebutuhan minyak goreng itu melalui anggaran CSR masing-masing. Ada juga yang pakai duit pribadi. Demi kemanusiaan katanya. Makanya, bisa kita bagi-bagikan gratis. Ini bukan yang pertama. Dulu, di saat awal pandemi, ada pengusaha yang membantu beras. Jumlahnya tidak sedikit. Sampai 25 ton. Makanya tidak ada yang kesulitan bahan makanan di kota kita. Masyarakat yang tidak dapat jatah bantuan dari pemerintah, kita berikan lewat beras itu.

Baca Juga :  Stop Celaka Rel Serong

Ini bukan sekadar bantuan agar usaha mereka tetap berjalan. Ini juga upaya kita menstabilkan perekonomian. Jangan sampai daya beli masyarakat lesu karena harga jual pedagang tinggi. Saat harga minyak goreng tinggi, modal yang dikeluarkan pedagang tentu juga naik. Gorengan yang biasanya Rp 500 bisa jadi Rp 1.000 untuk menutup modal. Bisa juga harganya tetap, tapi ukurannya yang dikurangi. Artinya, bahan yang lain dikurangi untuk menutup modal beli minyak. Jelas pembeli jadi malas. Daya beli jadi lesu. Ini tidak boleh terjadi.

Saat daya beli masyarakat lesu, perputaran uang juga turun. Ditambah pandemi, perekonomian bisa langsung ke jurang resesi. Daya beli masyarakat tetap harus tinggi. Pedagang juga tidak boleh merugi. Kita beri minyak gratis untuk menjaga keduanya itu. Pedagang tidak boleh menaikkan harga jual karena sudah kita bantu minyak. Sekali lagi, minyak goreng bukan alasan. Semua tercukupi. Minyak goreng ada dengan harga yang biasa.

Operasi pasar, bazar, dan bagi-bagi ini tidak berhenti sampai di sini. Ke depan masih akan kita gelar. Setiap hari ada. Silakan dicari jadwalnya. Sudah saya minta untuk diumumkan. Ini terus kita lakukan. Pokoknya sampai minyak tidak jadi salah satu sumber masalah. Sampai minyak goreng kembali seperti biasa. Ini pasti ada ujungnya. Saya percayakan kepada yang berwenang. Kalau ada permainan, biar satgas yang bertindak. Di berbagai pemberitaan sudah sering muncul. Beberapa oknum yang melakukan penimbunan sudah ditangkap.

Saya juga heran. Kenapa ada saja yang berbuat seperti itu. Mencari keuntungan di saat kondisi sedang sulit seperti ini. Pandemi Covid-19 sudah cukup menguras energi. Pun, belum dapat dipastikan sampai kapan akan berlangsung. Tidak perlu ada tambahan masalah lainnya. Kita harus saling menjaga. Ini kota kita bersama. Tempat kita tinggal dan menjalani kehidupan. Mungkin, tempat kita meninggal kelak. Mari kita jaga bersama. (penulis adalah Wali Kota Madiun Maidi)

Most Read

Artikel Terbaru

/