alexametrics
31 C
Madiun
Tuesday, May 17, 2022

Pusat Grosir Konveksi

PERKEMBANGAN daerah ke arah yang lebih baik harus total dan berimbang. Baik secara fisik maupun dari segi sumber daya manusianya. Perubahan secara fisik terus kita lakukan. Memang belum kelar 100 persen. Tetapi hasilnya sudah mulai terlihat dan manfaatnya mulai dapat kita rasakan.

Perubahan fisik yang sudah baik ini juga harus diimbangi dengan perkembangan SDM masyarakatnya. Karenanya, peningkatan SDM juga perlu dan terus kita lakukan. Kamis (17/3) kemarin, saya ajak perwakilan pedagang Pasar Besar Madiun (PBM) lantai dua ke Pasar Tanah Abang, Jakarta.

Kita memang sudah punya konsep untuk pengembangan PBM, khususnya bagian konveksi. Tapi, saya tidak ingin memberikan gambaran konsep secara lisan. Penerjemahan para pedagang mungkin akan berbeda-beda. Saya ingin memperlihatkannya secara langsung. Karenanya, perwakilan pedagang ini kita ajak ke lokasi yang memang sudah terkenal pusatnya grosir terbesar nasional bidang konveksi itu.

Ada 30 pedagang yang kita ajak studi banding ke sana. Biar mereka melihat sendiri. Biar mereka belajar secara mandiri. Apa yang mereka dapatkan akan kita kombinasikan dengan konsep yang pas untuk kota kita. Harapanya, pasar kita juga bisa menjadi salah satu pusat grosir konveksi nasional. Atau paling tidak untuk di Jawa Timur bagian barat dulu. Yang penting, ada perubahan. Perubahan yang lebih baik tentunya.

Ada banyak hal yang bisa dipelajari pedagang kita. Tentu tidak terlepas dari strategi pemasarannya. Mulai dari bagaimana menata barang dagangan yang baik, bagaimana agar pembeli terlayani secara optimal, juga bagaimana agar para pembeli kembali lagi. Mengubah pembeli menjadi pelanggan, inilah yang sulit.

Apalagi ada banyak pedagang lain. Banyak pesaing. Sekali tidak terlayani dengan baik, pembeli enggan kembali. Konsep-konsep ini mungkin akan sulit dijelaskan secara lisan. Tetapi akan berbeda kalau pedagang kita belajar sendiri secara langsung. Karenanya, pemerintah memfasilitasi.

Saya tidak ingin sekadar itu. Harus ada sesuatu yang dihasilkan secara nyata. Karenanya, saya minta ada kerja sama dengan Himpunan Pedagang Tanah Abang (Hipta). Ada beberapa poin penting dalam kerja sama itu. Mulai terkait suplai produk-produk konveksi, distribusi, sampai pembelian secara offline maupun online.

Harapannya, pedagang kita bisa menentukan strategi menyesuaikan kondisi. Bisa memetakan apa yang sedang dicari masyarakat. Bisa mendapatkan informasi model fashion yang tengah menjadi tren. Yang terpenting, bisa memenuhi ketersediaan stok barang. Dengan begitu, pasar besar kita tak kalah menarik. Punya informasi terkait stok barang maupun model yang tengah tren di salah satu pusat grosir nasional tersebut.

Baca Juga :  Sebulan Boyongan, Pasar Bunga Masih Sepi

Pembelajaran langsung di lokasi terbukti membuahkan hasil yang cukup baik. Ini memang bukan kali pertama. Sebelumnya, kita juga pernah mengajak perwakilan pedagang kaki lima untuk studi banding ke Semarang. Setelahnya, ada perwakilan pedagang Pasar Sleko yang kita tunjuki langsung salah satu pasar tebersih di Badung, Bali.

Sementara itu, pemerintah memperbaiki infrastrukturnya. Pujasera Pasar Sleko kita benahi. Pedagangnya kita ajak studi. Perputaran uang di sana mencapai miliaran dalam sebulan. Penghasilan bersih pedagang di sana mulai Rp 12 juta sampai Rp 30 juta dalam sebulan. Pendapatan itu jauh melebihi sebelum ada sentuhan-sentuhan pemerintah. Baik secara fisik maupun SDM-nya.

Saya optimistis PBM juga bisa seperti itu. Nanti tentunya juga ada perbaikan dari segi fisiknya. Tetapi, itu tidak akan berarti kalau tidak dibarengi peningkatan SDM. Pedagang kita harus menjadi raja di negeri sendiri. Harus ada peningkatan dari segi apa pun. Muaranya, peningkatan kesejahteraan.

Tentunya ini tidak instan. Harus ada perubahan. Biarpun perubahan selalu ada penentangan. Itu tidak masalah. Setiap kebijakan memang tidak bisa menyenangkan semua orang. Yang terpenting ada niat baik di balik kebijakan itu. Pun, ada hasil nyatanya. Ada peningkatan kesejahteraan di kota kita.

Hal itu dibuktikan dari meningkatnya indeks pembangunan manusia (IPM) kota kita. IPM kita di angka 81,25 persen untuk 2021. Capaian itu tumbuh 0,42 persen dibanding tahun sebelumnya. IPM kita masih tertinggi ketiga di Jawa Timur. Pertumbuhan ekonomi kita juga cukup signifikan.

Dari yang sebelumnya minus 3,38 persen pada 2020, ekonomi Kota Madiun di angka 4,73 persen pada 2021. Artinya, pertumbuhan ekonomi kita mencapai tujuh persen. Itu melebihi provinsi maupun nasional. Pertumbuhan ini terus kita genjot. Infrastruktur kita siapkan. SDM kita tingkatkan. (*)

PERKEMBANGAN daerah ke arah yang lebih baik harus total dan berimbang. Baik secara fisik maupun dari segi sumber daya manusianya. Perubahan secara fisik terus kita lakukan. Memang belum kelar 100 persen. Tetapi hasilnya sudah mulai terlihat dan manfaatnya mulai dapat kita rasakan.

Perubahan fisik yang sudah baik ini juga harus diimbangi dengan perkembangan SDM masyarakatnya. Karenanya, peningkatan SDM juga perlu dan terus kita lakukan. Kamis (17/3) kemarin, saya ajak perwakilan pedagang Pasar Besar Madiun (PBM) lantai dua ke Pasar Tanah Abang, Jakarta.

Kita memang sudah punya konsep untuk pengembangan PBM, khususnya bagian konveksi. Tapi, saya tidak ingin memberikan gambaran konsep secara lisan. Penerjemahan para pedagang mungkin akan berbeda-beda. Saya ingin memperlihatkannya secara langsung. Karenanya, perwakilan pedagang ini kita ajak ke lokasi yang memang sudah terkenal pusatnya grosir terbesar nasional bidang konveksi itu.

Ada 30 pedagang yang kita ajak studi banding ke sana. Biar mereka melihat sendiri. Biar mereka belajar secara mandiri. Apa yang mereka dapatkan akan kita kombinasikan dengan konsep yang pas untuk kota kita. Harapanya, pasar kita juga bisa menjadi salah satu pusat grosir konveksi nasional. Atau paling tidak untuk di Jawa Timur bagian barat dulu. Yang penting, ada perubahan. Perubahan yang lebih baik tentunya.

Ada banyak hal yang bisa dipelajari pedagang kita. Tentu tidak terlepas dari strategi pemasarannya. Mulai dari bagaimana menata barang dagangan yang baik, bagaimana agar pembeli terlayani secara optimal, juga bagaimana agar para pembeli kembali lagi. Mengubah pembeli menjadi pelanggan, inilah yang sulit.

Apalagi ada banyak pedagang lain. Banyak pesaing. Sekali tidak terlayani dengan baik, pembeli enggan kembali. Konsep-konsep ini mungkin akan sulit dijelaskan secara lisan. Tetapi akan berbeda kalau pedagang kita belajar sendiri secara langsung. Karenanya, pemerintah memfasilitasi.

Saya tidak ingin sekadar itu. Harus ada sesuatu yang dihasilkan secara nyata. Karenanya, saya minta ada kerja sama dengan Himpunan Pedagang Tanah Abang (Hipta). Ada beberapa poin penting dalam kerja sama itu. Mulai terkait suplai produk-produk konveksi, distribusi, sampai pembelian secara offline maupun online.

Harapannya, pedagang kita bisa menentukan strategi menyesuaikan kondisi. Bisa memetakan apa yang sedang dicari masyarakat. Bisa mendapatkan informasi model fashion yang tengah menjadi tren. Yang terpenting, bisa memenuhi ketersediaan stok barang. Dengan begitu, pasar besar kita tak kalah menarik. Punya informasi terkait stok barang maupun model yang tengah tren di salah satu pusat grosir nasional tersebut.

Baca Juga :  Tentukan Skala Prioritas, Pemkot Madiun Bahas RKPD 2023

Pembelajaran langsung di lokasi terbukti membuahkan hasil yang cukup baik. Ini memang bukan kali pertama. Sebelumnya, kita juga pernah mengajak perwakilan pedagang kaki lima untuk studi banding ke Semarang. Setelahnya, ada perwakilan pedagang Pasar Sleko yang kita tunjuki langsung salah satu pasar tebersih di Badung, Bali.

Sementara itu, pemerintah memperbaiki infrastrukturnya. Pujasera Pasar Sleko kita benahi. Pedagangnya kita ajak studi. Perputaran uang di sana mencapai miliaran dalam sebulan. Penghasilan bersih pedagang di sana mulai Rp 12 juta sampai Rp 30 juta dalam sebulan. Pendapatan itu jauh melebihi sebelum ada sentuhan-sentuhan pemerintah. Baik secara fisik maupun SDM-nya.

Saya optimistis PBM juga bisa seperti itu. Nanti tentunya juga ada perbaikan dari segi fisiknya. Tetapi, itu tidak akan berarti kalau tidak dibarengi peningkatan SDM. Pedagang kita harus menjadi raja di negeri sendiri. Harus ada peningkatan dari segi apa pun. Muaranya, peningkatan kesejahteraan.

Tentunya ini tidak instan. Harus ada perubahan. Biarpun perubahan selalu ada penentangan. Itu tidak masalah. Setiap kebijakan memang tidak bisa menyenangkan semua orang. Yang terpenting ada niat baik di balik kebijakan itu. Pun, ada hasil nyatanya. Ada peningkatan kesejahteraan di kota kita.

Hal itu dibuktikan dari meningkatnya indeks pembangunan manusia (IPM) kota kita. IPM kita di angka 81,25 persen untuk 2021. Capaian itu tumbuh 0,42 persen dibanding tahun sebelumnya. IPM kita masih tertinggi ketiga di Jawa Timur. Pertumbuhan ekonomi kita juga cukup signifikan.

Dari yang sebelumnya minus 3,38 persen pada 2020, ekonomi Kota Madiun di angka 4,73 persen pada 2021. Artinya, pertumbuhan ekonomi kita mencapai tujuh persen. Itu melebihi provinsi maupun nasional. Pertumbuhan ini terus kita genjot. Infrastruktur kita siapkan. SDM kita tingkatkan. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/