alexametrics
24.1 C
Madiun
Thursday, May 26, 2022

Habis Gelap Terbitlah Terang

BUKU Habis Gelap Terbitlah Terang adalah cerminan dari perjuangan seorang RA Kartini untuk membebaskan sistem pendidikan dari cengkeraman penjajah. Perjuangan Kartini membuahkan hasil yang luar biasa. Sekarang banyak perempuan hebat dalam pendidikan. Bisa sampai doktor hingga profesor.

Kartini adalah seorang anak bupati Jepara. Kartini mengaji Alquran dan tafsir berbahasa Jawa kepada Kiai Sholeh Darat. Pada usia 13 tahun, Kartini sudah pintar membaca Alquran. Dia usul kepada Kiai Sholeh Darat untuk menyusun tafsir berbahasa Jawa agar dapat digunakan sebagai pegangan putri-putri Jawa.

Kiai Sholeh pun menyanggupi dan mulailah menyusunnya. Saat itu baru selesai 13 juz dan dicetak pertama di Singapura dengan judul Faidzurohman Fi Tafsiril Ayatil Quran. Litbank Kementerian Agama RI menyatakan bahwa tafsir Faidzurohman karya Kiai Sholeh Darat atas usul Kartini itu satu-satunya tafsir kali pertama di Asia.

Pemikiran Kartini terhadap perkembangan Islam dan memperjuangkan perempuan agar pintar ilmu agama begitu luar biasa. Seusia itu beliau telah memikirkan nasib agama untuk perempuan Indonesia agar tidak tertinggal dan bisa menjadi ulama putri.

Sejarah perjuangan agama Kartini dilupakan generasi perempuan sekarang. Setiap peringatan Hari Kartini, kebanyakan perempuan hanya pakai sanggul, kebaya, dan sebagainya.  Tanpa meniru perilaku Kartini yang ahli agama dan memikirkan agama untuk perempuan Indonesia.

Baca Juga :  Akhlak Mulia

Kartini saat itu memakai kerudung walaupun belum seperti anak perempuan zaman sekarang. Meski begitu, sudah menutup aurat. Seandainya beliau masih hidup, pasti akan mengingatkan generasi sekarang yang memperingati Hari Kartini dengan hanya ke salon kecantikan. Pakai sanggul dan tidak berkerudung serta mengabaikan perjuangan pokok beliau.

Sebaiknya peringatan Hari Kartini tidak hanya dengan upacara serta berpakaian kartinian. Tapi, juga disertai lomba baca-tulis Alquran seperti perjuangan Kartini pada usia 13 tahun yang sudah pintar baca-tulis Alquran.

Sementara ini sejarah Kartini yang diajarkan hanya Habis Gelap Terbitlah Terang. Tidak menyinggung kehebatan perjuangannya dalam agama, yang melahirkan sebuah gagasan besar yaitu Faidzurrohman Fi Tafsiril Ayatil Quran karya Kiai Sholeh Darat. Sejarah Kartini sangat bagus dan positif bila diajarkan secara komprehensif kepada generasi perempuan sekarang. Dengan begitu, buta huruf Alquran dapat dihindari serta pelajaran agama mendapatkan tempat yang baik seperti perjuangan Kartini.

Kiai Sholeh Darat, gurunya Kartini, adalah ulama besar Rembang, Jawa Tengah. Sekaligus gurunya para ulama ternama di Indonesia: KH As’yari, pendiri NU, dan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Pun ulama-ulama lain pernah belajar kepadanya. Ilmu yang tersebar di Indonesia tidak lepas pula dari hasil pengajaran Kiai Sholeh Darat. Selamat berpuasa. Wallahu a’lam bis-sawab. ***(sat/c1)

BUKU Habis Gelap Terbitlah Terang adalah cerminan dari perjuangan seorang RA Kartini untuk membebaskan sistem pendidikan dari cengkeraman penjajah. Perjuangan Kartini membuahkan hasil yang luar biasa. Sekarang banyak perempuan hebat dalam pendidikan. Bisa sampai doktor hingga profesor.

Kartini adalah seorang anak bupati Jepara. Kartini mengaji Alquran dan tafsir berbahasa Jawa kepada Kiai Sholeh Darat. Pada usia 13 tahun, Kartini sudah pintar membaca Alquran. Dia usul kepada Kiai Sholeh Darat untuk menyusun tafsir berbahasa Jawa agar dapat digunakan sebagai pegangan putri-putri Jawa.

Kiai Sholeh pun menyanggupi dan mulailah menyusunnya. Saat itu baru selesai 13 juz dan dicetak pertama di Singapura dengan judul Faidzurohman Fi Tafsiril Ayatil Quran. Litbank Kementerian Agama RI menyatakan bahwa tafsir Faidzurohman karya Kiai Sholeh Darat atas usul Kartini itu satu-satunya tafsir kali pertama di Asia.

Pemikiran Kartini terhadap perkembangan Islam dan memperjuangkan perempuan agar pintar ilmu agama begitu luar biasa. Seusia itu beliau telah memikirkan nasib agama untuk perempuan Indonesia agar tidak tertinggal dan bisa menjadi ulama putri.

Sejarah perjuangan agama Kartini dilupakan generasi perempuan sekarang. Setiap peringatan Hari Kartini, kebanyakan perempuan hanya pakai sanggul, kebaya, dan sebagainya.  Tanpa meniru perilaku Kartini yang ahli agama dan memikirkan agama untuk perempuan Indonesia.

Baca Juga :  Covid-19 Ada dan Berbahaya

Kartini saat itu memakai kerudung walaupun belum seperti anak perempuan zaman sekarang. Meski begitu, sudah menutup aurat. Seandainya beliau masih hidup, pasti akan mengingatkan generasi sekarang yang memperingati Hari Kartini dengan hanya ke salon kecantikan. Pakai sanggul dan tidak berkerudung serta mengabaikan perjuangan pokok beliau.

Sebaiknya peringatan Hari Kartini tidak hanya dengan upacara serta berpakaian kartinian. Tapi, juga disertai lomba baca-tulis Alquran seperti perjuangan Kartini pada usia 13 tahun yang sudah pintar baca-tulis Alquran.

Sementara ini sejarah Kartini yang diajarkan hanya Habis Gelap Terbitlah Terang. Tidak menyinggung kehebatan perjuangannya dalam agama, yang melahirkan sebuah gagasan besar yaitu Faidzurrohman Fi Tafsiril Ayatil Quran karya Kiai Sholeh Darat. Sejarah Kartini sangat bagus dan positif bila diajarkan secara komprehensif kepada generasi perempuan sekarang. Dengan begitu, buta huruf Alquran dapat dihindari serta pelajaran agama mendapatkan tempat yang baik seperti perjuangan Kartini.

Kiai Sholeh Darat, gurunya Kartini, adalah ulama besar Rembang, Jawa Tengah. Sekaligus gurunya para ulama ternama di Indonesia: KH As’yari, pendiri NU, dan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Pun ulama-ulama lain pernah belajar kepadanya. Ilmu yang tersebar di Indonesia tidak lepas pula dari hasil pengajaran Kiai Sholeh Darat. Selamat berpuasa. Wallahu a’lam bis-sawab. ***(sat/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/