alexametrics
24.5 C
Madiun
Thursday, May 26, 2022

Idul Fitri Pemicu Ekonomi

DUA tahun ini kita hidup dalam keterbatasan gerak. Mobilitas dibatasi. Sekolah lebih banyak  daring. Sampai-sampai ibadah saja diminta dilakukan di rumah masing-masing. Tentu dampak terhadap ekonomi dan sosial sangat luar biasa. Semua menderita. Tidak hanya Indonesia, seluruh negara mengalaminya.

Mudik Idul Fitri yang merupakan budaya khas Indonesia juga dilarang. Namun, tidak dengan tahun ini. Ketika penularan Covid-19 sudah dapat dikendalikan, pemerintah mulai melonggarkan mudik. Saat ini sudah lebih dari 93,74 persen masyarakat menerima vaksin dosis pertama, 74,97 persen dosis kedua, dan 8,68 persen dosis ketiga (booster).

Sampai dengan saat ini vaksin dosis satu Magetan sudah 89,33 persen, dosis dua 79,92 persen, dan booster 10,92 persen. Bed occupancy ratio (BOR) rumah sakit di Magetan sudah turun jauh menjadi 2 persen. Yang dirawat pun tidak ada yang berat. Semua dalam kondisi sedang. Tidak ada yang di ICU.

Mengingat cakupan vaksinasi sudah memadai, pelonggaran ditempuh untuk memacu ekonomi. Namun, jangan sampai menjadi bumerang. Mudik berakibat fatal terhadap peningkatan penularan Covid-19. Penegakan prokes selama mudik tentu sangat penting.

Antusiasme masyarakat mulai terlihat. Kota besar seperti Jakarta dan Surabaya sudah macet. Seperti sebelum pandemi Covid-19. Juga di berbagai bandara. Kini tes PCR tak lagi menjadi syarat mobilitas, melainkan vaksinasi. Tak heran bila pemerintah memperkirakan sekitar 85 juta orang bakal mudik tahun ini. Sebanyak 14 juta di antaranya hanya dari Jabodetabek.

Selain karena pelonggaran syarat bepergian, durasi libur Lebaran juga menjadi faktor pendorong antusiasme masyarakat. Pemerintah menetapkan libur nasional Hari Raya Idul Fitri jatuh pada 2-3 Mei. Ditambah cuti bersama 29 April serta 4-6 Mei. Lamanya libur juga memberikan alternatif waktu kepulangan lebih banyak bagi pemudik.

Berbagai upaya dilakukan untuk membuat pemudik nyaman. Bagi yang menggunakan kendaraan pribadi, jalan tol akan dibuka satu arah. Frekuensi penerbangan, kereta api, dan kapal laut juga ditambah. Pun disiapkan sentra vaksinasi booster di stasiun maupun bandara.

Pengalaman (juga para ekonom) menunjukkan bahwa mudik berkontribusi menggeliatkan ekonomi di daerah. Tahun ini diperkirakan ada Rp 250 triliun uang beredar di masyarakat. Naik dua lipat dari Idul Fitri sebelumnya yang mencapai Rp 154,5 triliun. Berbagai sektor diprediksi bertumbuh. Termasuk ritel yang diperkirakan tumbuh 20 persen dari masa normal.

Baca Juga :  Akhlak Mulia

Peluang ini harus ditangkap pelaku usaha di daerah. Termasuk di Magetan. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Bayangkan, pada 2019 saja ada sekitar 46.200 pemudik. Taruhlah setiap pemudik membawa pulang Rp 2 juta. Akan ada uang beredar sebesar Rp 92,4 miliar. Angka yang sangat besar bagi Magetan. PAD Magetan hanya dua kali lipat uang yang dibawa pemudik.

Belum lagi wisatawan yang akan berkunjung ke Magetan. Selama libur sepuluh hari, berapa yang akan dibelanjakan wisatawan. Guna menangkap sekaligus melayani pemudik, saya sudah kumpulkan semua OPD untuk bersiap. Saya yang memimpin rapat.

Ada beberapa agenda yang akan kami lakukan untuk menyambut pemudik. Alun-Alun Magetan harus dipercantik. Sarana dan prasarananya mesti diperbaiki. Itu karena alun-alun selalu menjadi tujuan masyarakat berekreasi. Tak bisa dibayangkan berapa banyak yang akan berkunjung selama libur Lebaran.

Semua tempat wisata harus bersiap. Pelaku usaha wisata diingatkan pentingnya melayani pemudik. Perlu diwaspadai adalah kemacetan di tempat wisata. Terutama jalan menuju Sarangan. Libur hari biasa saja sering macet. Apalagi Idul Fitri.

Pelaku seni juga akan diberi kesempatan. Sudah lama mereka dilarang pentas yang dihadiri langsung oleh penonton. Malam Minggu kemarin saja, ketika dicoba menggelar pertunjukan reog di depan Pasar Baru, antusiasme warga yang menonton luar biasa.

Ke depan, tempat-tempat pertunjukan akan dipecah. Di setiap kecamatan diadakan kegiatan yang digemari masyarakat. Di wilayah kota akan ada pertunjukan di beberapa tempat. Kesenian reog yang menarik banyak penonton digelar di tempat luas. Sedangkan pertunjukan yang tidak terlalu memantik animo, dilakukan di beberapa titik wilayah kota. Pelaku UMKM juga harus bersiap. Gerai-gerai penjualan diperbanyak.

Festival yang mungkin bisa digelar, akan digelar. Kebetulan bulan ini masih waktunya panen jeruk pamelo. Akan menarik apabila diadakan festival jeruk pamelo. Seperti yang biasa dilakukan setiap tahun sebelum pandemi Covid-19. Masih banyak kegiatan yang disiapkan. Semuanya untuk melayani pemudik yang sudah rindu kampung halaman. Sekaligus mendongkrak ekonomi. Rasa rindu kampung halaman yang dipetik setiap Idul Fitri, mudah-mudahan akan menjadi obat mujarab ekonomi daerah yang sedang terpuruk. ***(naz/c1)

DUA tahun ini kita hidup dalam keterbatasan gerak. Mobilitas dibatasi. Sekolah lebih banyak  daring. Sampai-sampai ibadah saja diminta dilakukan di rumah masing-masing. Tentu dampak terhadap ekonomi dan sosial sangat luar biasa. Semua menderita. Tidak hanya Indonesia, seluruh negara mengalaminya.

Mudik Idul Fitri yang merupakan budaya khas Indonesia juga dilarang. Namun, tidak dengan tahun ini. Ketika penularan Covid-19 sudah dapat dikendalikan, pemerintah mulai melonggarkan mudik. Saat ini sudah lebih dari 93,74 persen masyarakat menerima vaksin dosis pertama, 74,97 persen dosis kedua, dan 8,68 persen dosis ketiga (booster).

Sampai dengan saat ini vaksin dosis satu Magetan sudah 89,33 persen, dosis dua 79,92 persen, dan booster 10,92 persen. Bed occupancy ratio (BOR) rumah sakit di Magetan sudah turun jauh menjadi 2 persen. Yang dirawat pun tidak ada yang berat. Semua dalam kondisi sedang. Tidak ada yang di ICU.

Mengingat cakupan vaksinasi sudah memadai, pelonggaran ditempuh untuk memacu ekonomi. Namun, jangan sampai menjadi bumerang. Mudik berakibat fatal terhadap peningkatan penularan Covid-19. Penegakan prokes selama mudik tentu sangat penting.

Antusiasme masyarakat mulai terlihat. Kota besar seperti Jakarta dan Surabaya sudah macet. Seperti sebelum pandemi Covid-19. Juga di berbagai bandara. Kini tes PCR tak lagi menjadi syarat mobilitas, melainkan vaksinasi. Tak heran bila pemerintah memperkirakan sekitar 85 juta orang bakal mudik tahun ini. Sebanyak 14 juta di antaranya hanya dari Jabodetabek.

Selain karena pelonggaran syarat bepergian, durasi libur Lebaran juga menjadi faktor pendorong antusiasme masyarakat. Pemerintah menetapkan libur nasional Hari Raya Idul Fitri jatuh pada 2-3 Mei. Ditambah cuti bersama 29 April serta 4-6 Mei. Lamanya libur juga memberikan alternatif waktu kepulangan lebih banyak bagi pemudik.

Berbagai upaya dilakukan untuk membuat pemudik nyaman. Bagi yang menggunakan kendaraan pribadi, jalan tol akan dibuka satu arah. Frekuensi penerbangan, kereta api, dan kapal laut juga ditambah. Pun disiapkan sentra vaksinasi booster di stasiun maupun bandara.

Pengalaman (juga para ekonom) menunjukkan bahwa mudik berkontribusi menggeliatkan ekonomi di daerah. Tahun ini diperkirakan ada Rp 250 triliun uang beredar di masyarakat. Naik dua lipat dari Idul Fitri sebelumnya yang mencapai Rp 154,5 triliun. Berbagai sektor diprediksi bertumbuh. Termasuk ritel yang diperkirakan tumbuh 20 persen dari masa normal.

Baca Juga :  Peternak Ayam Petelur Magetan Wadul Bupati, Minta UU Peternakan Direvisi

Peluang ini harus ditangkap pelaku usaha di daerah. Termasuk di Magetan. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Bayangkan, pada 2019 saja ada sekitar 46.200 pemudik. Taruhlah setiap pemudik membawa pulang Rp 2 juta. Akan ada uang beredar sebesar Rp 92,4 miliar. Angka yang sangat besar bagi Magetan. PAD Magetan hanya dua kali lipat uang yang dibawa pemudik.

Belum lagi wisatawan yang akan berkunjung ke Magetan. Selama libur sepuluh hari, berapa yang akan dibelanjakan wisatawan. Guna menangkap sekaligus melayani pemudik, saya sudah kumpulkan semua OPD untuk bersiap. Saya yang memimpin rapat.

Ada beberapa agenda yang akan kami lakukan untuk menyambut pemudik. Alun-Alun Magetan harus dipercantik. Sarana dan prasarananya mesti diperbaiki. Itu karena alun-alun selalu menjadi tujuan masyarakat berekreasi. Tak bisa dibayangkan berapa banyak yang akan berkunjung selama libur Lebaran.

Semua tempat wisata harus bersiap. Pelaku usaha wisata diingatkan pentingnya melayani pemudik. Perlu diwaspadai adalah kemacetan di tempat wisata. Terutama jalan menuju Sarangan. Libur hari biasa saja sering macet. Apalagi Idul Fitri.

Pelaku seni juga akan diberi kesempatan. Sudah lama mereka dilarang pentas yang dihadiri langsung oleh penonton. Malam Minggu kemarin saja, ketika dicoba menggelar pertunjukan reog di depan Pasar Baru, antusiasme warga yang menonton luar biasa.

Ke depan, tempat-tempat pertunjukan akan dipecah. Di setiap kecamatan diadakan kegiatan yang digemari masyarakat. Di wilayah kota akan ada pertunjukan di beberapa tempat. Kesenian reog yang menarik banyak penonton digelar di tempat luas. Sedangkan pertunjukan yang tidak terlalu memantik animo, dilakukan di beberapa titik wilayah kota. Pelaku UMKM juga harus bersiap. Gerai-gerai penjualan diperbanyak.

Festival yang mungkin bisa digelar, akan digelar. Kebetulan bulan ini masih waktunya panen jeruk pamelo. Akan menarik apabila diadakan festival jeruk pamelo. Seperti yang biasa dilakukan setiap tahun sebelum pandemi Covid-19. Masih banyak kegiatan yang disiapkan. Semuanya untuk melayani pemudik yang sudah rindu kampung halaman. Sekaligus mendongkrak ekonomi. Rasa rindu kampung halaman yang dipetik setiap Idul Fitri, mudah-mudahan akan menjadi obat mujarab ekonomi daerah yang sedang terpuruk. ***(naz/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/