alexametrics
27.8 C
Madiun
Monday, May 23, 2022

Pendidikan Anak

ANAK adalah aset besar yang tidak ternilai harganya. Berapa pun dibeli tidak diberikan.  Nilai anak tergantung nilai pendidikan. Nilai pendidikan cerminan dari orang tua. Jika orang tua bercita-cita luhur, anak juga dididik dengan baik. Jika orang tua masa bodoh, anak juga masa bodoh.

Pendidikan anak menjadi tanggung jawab orang tua. Kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Tempat pendidikan efektif dalam situasi terkini yang diminati banyak masyarakat adalah pesantren. Metodenya sejak dulu sampai sekarang tidak berubah. Mendidik para santri hingga banyak yang berhasil daripada yang tidak.

Lulusan pesantren tidak pernah merepotkan pemerintah. Rata-rata mempunyai jiwa mandiri. Pesantren sekarang lebih maju dibanding pendidikan di luar. Selain spesialisasi ilmu, mereka mengetahui halal-haram dan baik-buruk secara detail. Memang di antara mereka ada yang nakal. Namun, jumlahnya hanya sedikit dibandingkan pengaruh di luar.

Di sana ada SMP, MTs, SMA, dan MA hingga perguruan tinggi jurusan apa saja. Jadi, ilmu yang didapat di pesantren komplet. Ilmu dunia ada, ilmu akhirat juga ada. Alumni pesantren pasti berislam wasatiyyah atau moderat, tidak radikal dan tidak liberal. Maka, sungguh ironis jika menuduh pesantren sarang teroris. Teroris tumbuh berkembang di pendidikan luar pesantren, tidak di dalam pesantren.

Baca Juga :  Catatan Perjalanan Umrah Istimewa Ladima Semasih Pandemi Covid-19 (7)

Mindset orang tua hingga sekarang masih ada seperti zaman Belanda, katanya alumni pesantren tidak bisa menjadi pegawai negeri. Terbukti, sekarang banyak alumni pesantren menjadi TNI-Polri dan PNS.

Anak jika tidak tahu asal-usul manusia dan siapa yang memberikan nikmat, kemudian tidak beribadah, orang tua yang akan diseret ke neraka. Sebab, efek pendidikan sampai di akhirat. Jika anaknya baik, itu karena pendidikannya baik. Jika anaknya jelek, karena memang pendidikannya yang keliru. Ayo mondok. Selamat berpuasa. Wallahu a’lam bis-sawab. ***(sat/c1)

ANAK adalah aset besar yang tidak ternilai harganya. Berapa pun dibeli tidak diberikan.  Nilai anak tergantung nilai pendidikan. Nilai pendidikan cerminan dari orang tua. Jika orang tua bercita-cita luhur, anak juga dididik dengan baik. Jika orang tua masa bodoh, anak juga masa bodoh.

Pendidikan anak menjadi tanggung jawab orang tua. Kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Tempat pendidikan efektif dalam situasi terkini yang diminati banyak masyarakat adalah pesantren. Metodenya sejak dulu sampai sekarang tidak berubah. Mendidik para santri hingga banyak yang berhasil daripada yang tidak.

Lulusan pesantren tidak pernah merepotkan pemerintah. Rata-rata mempunyai jiwa mandiri. Pesantren sekarang lebih maju dibanding pendidikan di luar. Selain spesialisasi ilmu, mereka mengetahui halal-haram dan baik-buruk secara detail. Memang di antara mereka ada yang nakal. Namun, jumlahnya hanya sedikit dibandingkan pengaruh di luar.

Di sana ada SMP, MTs, SMA, dan MA hingga perguruan tinggi jurusan apa saja. Jadi, ilmu yang didapat di pesantren komplet. Ilmu dunia ada, ilmu akhirat juga ada. Alumni pesantren pasti berislam wasatiyyah atau moderat, tidak radikal dan tidak liberal. Maka, sungguh ironis jika menuduh pesantren sarang teroris. Teroris tumbuh berkembang di pendidikan luar pesantren, tidak di dalam pesantren.

Baca Juga :  Catatan Perjalanan Umrah Istimewa Ladima Semasih Pandemi Covid-19 (7)

Mindset orang tua hingga sekarang masih ada seperti zaman Belanda, katanya alumni pesantren tidak bisa menjadi pegawai negeri. Terbukti, sekarang banyak alumni pesantren menjadi TNI-Polri dan PNS.

Anak jika tidak tahu asal-usul manusia dan siapa yang memberikan nikmat, kemudian tidak beribadah, orang tua yang akan diseret ke neraka. Sebab, efek pendidikan sampai di akhirat. Jika anaknya baik, itu karena pendidikannya baik. Jika anaknya jelek, karena memang pendidikannya yang keliru. Ayo mondok. Selamat berpuasa. Wallahu a’lam bis-sawab. ***(sat/c1)

Most Read

Artikel Terbaru

/